Bagaimana menjadikan sistim informasi perkotaan (baca: situs Pemda), yang menarik

Banyak kota dan daerah di Indonesia saat ini sudah mempunyai situs resmi. Sejalan dengan perkembangan teknologi informasi yang pesat, daerah-daerah mengembangkan situs sebagai tempat promosi. Beberapa daerah bahkan sudah mengembangkan e-government dengan lingkup yang lebih luas. Melalui sistem e-government, situs resmi Pemda selain sebagai “display”, tetapi juga dimanfaatkan untuk pelayanan masyarakat. Namun kebanyakan situs pemerintah daerah bahkan termasuk situs pemerintah RI sekedar memajang data dan informasi dari kacamata pemilik (pengelola situs) semata.

Cobalah mengunjungi situs sejumlah kota, kabupaten bahkan propinsi di Indonesia. Lihat saja Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, Kota Medan, Kabupaten Toba-Samosir. Maka sebagian besar menampilkan struktur organisasi, tugas dan fungsi masing-masing dinas/badan. Kemudian ada data umum kota tersebut. Untuk melengkapi biasanya juga mencantumkan visi dan misi kota/kabupaten. Kalau disimak secara cermat informasi yang ditampilkan pada umumnya tidak mempunyai “nilai” yang berarti bagi pengunjung situs. Karena informasi yang ditampilkan sekedar data yang tidak dapat dimanfaatkan oleh pengunjung situs. Coba bandingkan dengan kota Los Angeles, Melbourne, Rotterdam, atau bahkan dengan situs Pemerintah Amerika.

Tidak jarang, situs Pemda cuma berisi informasi yang sudah kadaluwarsa. Bahkan ada situs Pemda yang belum memuat informasi apapun, hanya sekedar tampilan menu saja. Padahal suatu situs selain informasi selalu updated ia juga harus dapat dimanfaatkan oleh mereka yang mencari informasi. Akan lebih baik jika website juga bisa memberikan pelayanan kepada semua pihak. Jenis-jenis pelayanan yang ada pada pemerintah daerah hendaknya sudah dapat di berikan di website. Web site bukan cuma memberikan informasi apa persyaratan pelayanan, tapi website itu sendiri sudah dapat digunakan sebagai fasilitas pelayanan (on-line service). Idealnya semua urusan bisa selesai melalui on-line.

Jika seseorang ingin membayar pajak bumi dan bangunan, website bisa melayani secara on-line. Semua fasilitas pelayanan pembayaran pajak bumi dan bangunan ada pada situs tersebut.  Wajib pajak tidak perlu datang ke kantor PBB tapi dengan fasilitas yang ada pada website Pemda, maka siwajib pajak sudah bisa menyelesaikan pajaknya, cukup dengan mengikuti petunjuk yang ada pada website tersebut.

Bila seorang investor ingin membuka usaha di kota Surabaya misalnya, dengan website yang baik, ia dapat melakukan proses investasi hanya dengan melalui website. Sebagian besar proses perijinan dan penetapan lokasi mestinya sudah dapat dilakukan melalui website. Sehingga manfaat teknologi informasi dapat digunakan untuk efisiensi biaya.

Begitupula bila seorang karyawan Pemda ingin memproses administrasi kepegawaian, dengan website yang baik, semua mestinya dapat dilakukan berbasis teknologi informasi. Sistim informasi kepegwawaian dengan website bisa dirancang tidak saja untuk proses rekrutmen pegawai, tapi juga untuk sistim promosi yang transparan. Untuk kepentingan administrasi, sistim informasi kepegawaian, dapat dilakukan secara berlapis, yang bisa diproses dengan sistem internet maupun dengan sistem intranet.

Bagi pengunjung atau turis yang ingin datang ke suatu kota, maka idealnya situs bisa memberikan informasi mengenai obyek yang menarik, fasilitas akomodasi, fasilitas transportasi. Dan yang tidak kalah penting, pusat informasi fisik, kalau ada hal-hal yang tidak semestinya. 

Empat aspek utama itu bila dapat dilakukan oleh sistim informasi Pemda, (e-government), maka selain efisiensi, transparansi dan akuntabilitas akan bisa dicapai. Dengan sendirinya kepercayaan masyarakat akan tumbuh dan berkembang. Mengapa situs Pemda belum bisa tampil dengan informasi yang bermanfaat secara efektif.?

One thought on “Bagaimana menjadikan sistim informasi perkotaan (baca: situs Pemda), yang menarik

  1. menurut saya, e-gov di indonesia ada karena terpaksa, atau dipaksa untuk ada, sehingga content dan context dari e-gov itu sendiri tidak sesuai dengan ada yang di buku buku mengenai e-gov. karena terdapat beberapa kendala yang terdapat di instansi tersebut, misalnya saja, kurangnya tenaga (SDM) yang mengerti mengenai e-gov

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s