Busline Gantikan Busway

Jawa Pos, Jumat, 25 Jan 2008,

SURABAYA – Rencana pengoperasian BRT (bus rapid transit) alias busway di Surabaya, tampaknya, bakal tinggal rencana. Dinas Perhubungan (Dishub) pemkot kini tak lagi ngotot ingin melaksanakan proyek tersebut. Mereka kini cenderung memilih program busline sebagai pengganti busway. 

Perubahan sikap Dishub itu tampak dalam hearing bersama Komisi C DPRD Surabaya kemarin (24/1). Dalam rapat itu, Salman Faris, anggota komisi C dari FKB, bertanya ke Kadishub Bambang Supriyadi. “Apakah Surabaya siap untuk bisa diberlakukan busway?” tanya Salman. Bambang terdiam sebentar, kemudian memberikan jawaban yang terkesan mengambang.

“Kami masih harus menunggu DED (detail engineering design)-nya. Kalau DED-nya menyatakan tidak bisa, kami tak akan memaksakan,” jawabnya. Bambang kemudian menjelaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan alternatif, busline. Kepada wartawan, Bambang mengungkapkan bahwa konsep busline sebenarnya tak berbeda dengan bus umum yang beroperasi sekarang. “Hanya, ada peningkatan signifikan soal keamanan dan kenyamanan penumpang,” paparnya. Di antaranya adalah busnya ber-AC, halte dibuat supernyaman, dan kru keamanan ala busway.

Mengapa Dishub mengubah busway menjadi busline? Kabarnya, itu berkaitan dengan sikap polisi yang menolak proyek busway. Alasannya, kondisi jalanan di Surabaya yang sempit tidak memungkinkan dibangun jalur khusus busway. Bahkan, polisi mengancam bakal menggunakan wewenang diskresi yang dimiliki (memasukkan kendaraan pribadi ke jalur busway) bila Dishub ngotot memberlakukan BRT.

Namun, versi lain menyebutkan, perubahan itu terkait dengan kasus gratifikasi yang diduga melibatkan pejabat pemkot dan para anggota DPRD Surabaya. Seperti diketahui, kasus tersebut diduga muncul karena pemkot menginginkan anggaran busway disetujui dewan. Benarkah? Dengan tegas, Bambang menolak kabar tersebut. “Tidak, tidak seperti itu. Kami masih menunggu DED-nya. Kalau memang tak realistis, tentu saja kami tak akan memaksakan BRT,” ucapnya.

Dia juga membantah kabar bahwa Dishub semula ngotot memberlakukan busway karena ada tekanan dari Departemen Perhubungan (Dephub). Dia menjelaskan, pemerintah pusat memang akan mendatangkan 50 bus untuk mendukung BRT. “Memang, ada rencana pengadaan 50 bus. Tapi, tahap pertama baru 30 bus dulu yang akan datang,” tuturnya. “Dengan catatan, itu untuk kepentingan BRT,” ujarnya. Jika DED menyatakan bahwa busway tak layak diterapkan di Surabaya, Dishub akan mengalihkan kendaraan itu untuk busline.

Sementara itu, rencana Dishub mengganti busway dengan busline direspons positif aparat kepolisian. “Tentu saja itu (busline, Red) merupakan pilihan yang realistis,” kata Kasatlantas Polwiltabes Surabaya AKBP Moh. Iqbal. Menurut Iqbal, busway tak akan berjalan optimal selama tak ada kebijakan pendamping yang lain. Misalnya, pembatasan kendaraan dan penambahan volume jalan tak dilakukan. “Kita mendukung pemkot menyelesaikan problem kemacetan. Tapi, program transportasi harus terencana dengan matang,” tegasnya. (ano/oni)

Sumber: Jawa Pos

18 thoughts on “Busline Gantikan Busway

  1. Apa sih maunya KAPOLDA???? Trus masak kota sekalas Surabaya hanya punya BEMO?? Katanya MICE City Regional. Tepi transportasi mau dibenahi kok begini susah?? Busline juga diterapkan disingapura. Tapi menurut bapak apa yang sebenartnay cocok untuk surabaya???

    Like

  2. Sesungguhnya sangat mendasar perbedaan antara busline dengan busway. Busline pernah dicoba di Surabaya dan GAGAL. Juga di beberapa kota lainnya termasuk Jakarta, juga tidak berhasil.

    Masalahnya disini adalah pemahaman orang tentang busway itu sendiri. Termasuk para pengambil keputusan, yang melihat seolah olah busline dan busway hanya berbeda sedikit. DAN INI SALAH.

    Alasan bahwa ruang jalan sempit, tidak masuk akal, yang benar mungkin adalah PANDANGAN (midnset) SEMPIT. Ketika kita membuka mindset kita, maka jalan itu sangat luas. Pihak kepolisian mungkin tidak sepenuhnya memahami tujuan busway yang dimaksudkan agar ada transfer moda dari angkutan pribadi ke angkutan umum.

    Menurut para ahli, kapasitas satu lajur busway setara dengan 7 (tujuh) lajur jalan yang digunakan untuk angkutan pribadi. jadi busway justru akan mengurangi kemacetan.

    Tidak pernah ada bukti bahwa penambahan jalan akan memperlancar lalulintas. Di kota-kota manapun didunia penambahan jalan, tidak menyelesaikan kemacetan. Saya sangat berbeda pendapat dengan Pak Iqbal Kasatlantas Polwiltabes Surabaya itu.

    Jadi yang penting sekarang, bagaimana membuka MINDSET para pengambil keputusan untuk melayani masyarakat dan mengurangi kemacetan dengan busway. Walikota Surabaya, Bambang DH dan Dirjen Perhubungan Darat Ir. Iskandar Abubakar sudah sepakat untuk memlaksanakan busway (BRT) di Surabaya. Keputusan itu bukan tanpa pemahaman dan kajian yang mendalam. BRT adalah solusi paling murah yang dapat dijangkau kota Surabaya.

    Like

  3. Menurut saya, akan sangat mundur bila busway Surabaya yang sudah dipersiapkan sedemikian jauh menjadi batal. Menunda penanganan transportasi Surabaya hanya akan meningggalkan bom waktu kemacetan. Dilain pihak selama dua tahun terakhir, usaha untuk mewujudkan busway di Surabaya sudah cukup baik.

    Jangan karena pemahaman kurang lengkap dan egoisme sempit, sistem transportasi dikorbankan. Kasihan kota Surabaya dan warganya. Mari kita buka mindset kita lebar-lebar, banyak ahli transportasi yang bisa dimintai bantuan untuk mewujudkan busway Surabaya.

    Secara pribadi saya memang agak khawatir, karena ada orang yang sepertinya tidak merespon busway dengan baik. Padahal mereka-mereka dalam posisi yang ikut menentukan apakah busway Surabaya akan segera direalisasikan atau tidak.

    Like

  4. Saya juga kawatir pak togar. Saya juga kurang setuju dengan busline karena disingapura yang buslinenya baik saja berencana untuk menggantinya dengan busway. Mengapa Surabaya melah memilih busline. Apa ya yang bisa saya bantu lakukan agar apa yang telah terkonsep lama busway ini bisa terwujud??. Sangat disayangkan sekali. Karena ini sudah molor dari jadwal yang telah diberikan walikota kepada warga surabaya. Banyak yang kecewa sekali. Trus bagaimana kelanjutan Monorel pak Togar?? Kok lama tak terdengar lagi???

    Like

  5. Pak, saya juga kecewa sekali dengan digantinya Busway dengan busline, karena disingapura yang buslinenya bagus saja akan segera menggantinya dengan Busway, mengapa sekarang surabaya justru akan menerapkan???… Oya pak togar bagaimana perkembangan pembangunan monorel surabaya??? apakah akan tahun depan juga dibangun???

    Like

  6. Terkhir apakah anda sempat bertemu dengan walikota surabaya?? tentang penolakan pembangunan busway surabaya pak togar??… Karena saya rasa Pak Walikota butuh dukungan moril karena setiap perubahan yang besar akan menimbulkan pro kontra tetapi jika sudah realisasi akan dirasakan manfaatnya.

    Like

  7. Mudah-mudahan saja BRT Surabaya (busway) tidak dijadikan komoditas politik. Kalau dijadikan komoditas politik, sulit untuk penyelesaiannya.

    Kalau mau dikaji secara teknis, BRT sangat layak untuk Surabaya. Feasibility Study sudah dibuat, tinggal menyusun rancangan detail. Setelah itu mestinya sudah bisa mulai konstruksi.

    Sekarang ini saya tidak dalam posisi untuk menindaklanjuti BRT Surabaya, jadi tidak bisa berbuat banyak secara konkrit. Dengan menulis disini mudah-mudahan bisa memberikan saran.

    Minggu lalu secara informal saya sudah sampaikan kepada Pengurus Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat dan MTI Jawa Timur, supaya MTI ikut membantu dan mendukung percepatan BRT di Surabaya. Semoga saja MTI bisa membantu.

    Like

  8. saya mungkin satu dari sedikit orang yang setuju sama bapak polisi. alasan penolakan saya terhadap busway adalah karena dia tidak efektif. menurut saya, busway tidak akan mampu menyelesaikan problem kemacetan kota.

    kenapa?
    Pertama, karena dia butuh line khusus yang restricted buat kendaraan lain. dia akan memotong setidaknya sepertiga badan jalan yang sudah sangat sempit. ok, jalan Basra cukup lebar, tetapi tidak semua ruas jalan di sby selebar itu. dharmawangsa itu jalur utama tapi sempitnya amit-amit (banjir lagi!P.S. jeritan hati penduduk dharmawangsa).
    mau dibuka selebar apa MINDSET kita? dibuka selebar apapun tidak akan menambah lebar badan jalan. come-on, ga usah ngomongin mindset. diakui saja, kita terbentur masalah fisik.
    btw, inget ga, waktu jakarta lagi bikin project nambah jalur busway di sejumlah jalan? presiden aja terjebak macet. mobil berplat RI 1 yang dikawal mobil polisi dengan ratusan sirine tak mampu menyelamatkan presiden dari macet.
    masih tidak mau ngaku kalo pembangunan jalur busway itu pemborosan dan tidak memecahkan masalah?

    Kedua, soal kultur. yap, saya setuju sama pak polisi yang bilang bahwa masyarakat kita masih menuju tahap kemakmuran (alias belum makmur beneran). jadi kalo punya uang dikit aja langsung tergoda untuk belanjain kendaraan pribadi. ga ada kesadaran untuk naik umum. banyak yang gengsi gitu… jadi mau dibuat sebanyak apapun buswaynya, kalo jumlah kendaraan pribadi tetep nambah, ya tetep macet…
    lha wong yang bikin sby macet itu asli kendaraan pribadi kok..

    Ketiga, terkait dengan penyebab macet berupa meledaknya volume kendaraan pribadi. orang2 males pindah dari mobil pribadi ke public transport karena public transport itu jelek. tidak nyaman. gak ber-ac, debu, panas, kotor, dsb… nah, penyakit orang indonesia itu belum bisa dikasih angkot bagus. komuter dulu waktu masih baru juga baguuus sekali. bersih. begitu umurnya dua bulan aja, udah ga karuan…
    takutnya, busway nantinya tidak bisa menjaga ke”indah”annya. mau tahan berapa lama kenyamanan busway?

    solusinya adalah, bagaimana membujuk orang2 yang bermobil pribadi (yang supernyaman) berpindah naik angot umum?
    ya angkot umumnya yang dibikin senyaman mobil pribadi.
    kalo bisa bikin bus yang eksklusif. bersih, AC, penumpang sedikit (sekitar 20 kursi nyaman a la kabin kelas eksekutifnya garuda), kalo perlu udara di dalamnya mengandung WiFi soalnya ini diperuntukkan bagi kalangan esmud (estu juga boleh).
    tarifnya mahal supaya bisa jaga eksklusifitas sekaligus menutup biaya operasional yang luar biasa mahal.

    dengan gitu, bapak2 yang prefer naik mobil pribadi akan mau pindah ke bus eksekutif itu. mereka bisa ketemu partner kerja ato calon klien selama otw ke kantor.

    kalo ada 20 saja penumpang, sudah mengurangi paling tidak 20buah mobil di jalan. bayangkan berapa mobil terparkir di rumah kalo busnya ada 100.

    oya, kalo mau ngikut slogan pak togar: keep our cities sustainable, saya prefer keep natural resoursce sustainable. penggunaan bus eksekutif sangat menekan pemakaian bensin. hemat banget. oya, itu juga bisa bikin kota kita tercinta tetep sustain kok🙂

    Like

  9. @ nana
    Terimaksih komentarnya.

    Busway mempunyai beberapa keunggulan antara lain:
    1. Jauh lebih murah dibanding dengan angkutan massal lainnya.
    2. Busway memang harus di lajur tersendiri, justru inilah keunggulannya, sehingga waktu tempuh dari satu titik ke titik yang lain dapat ditentukan dengan tepat. Tidak mengalami kemacetan, artinya tepat waktu.
    3. Busway adalah ANGKUTAN KOTA (angkot) yang nyaman, aman, karena full AC. Fasilitas ini harus ada, sehingga pengguna angkutan pribadi mau berpindah ke Angkot busway. Keamanan, kenyamanan dan tepat waktu adalah dambaan penumpang perkotaan.
    4. Menguntungkan perusahaan operator, karena pembayaran kepada operator bukan berdasarkan jumlah penumpang yang diangkut tetapi berdasarkan panjang jalan yang ditempuh. Penjelasan teknis untuk ini ada. Berdasarkan pengalaman di Jakarta, semula operator takut kehilangan income, ternyata setelah dijalani, sekarang berebut mau jadi operator busway.
    5. Busway menangkat martabat operator termasuk pengemudi, karena tidak perlu teriak-teriak menagih ongkos.

    Sesungguhnya masih banyak hal yang bisa dijelaskan tentang sistim busway. Tapi ruang disini agak terbatas untuk menjelaskan secara teknis.

    Kalau kita buka mindset kita, bukan berarti fisik jalan menjadi lebih lebar, tapi kita akan bisa cari solusi bagi persoalan dan keterbatasan. Total lebar jalan tidak akan bertambah, tapi solusi dan teknologi akan bisa dicari, apalagi kalau mindset kita luas.

    Di negara-negara berkembang punya mobil pribadi memang adalah semacam simbol status. Berdasarkan pengalaman di negara-negara lain, termasuk di Jakarta, orang kaya pun sekarang tidak gengsi naik busway. Artinya perilaku masyarakat akan berkembang dan aspek kultur bisa didekati dengan sosialisasi yang baik kepada masyarakat. Jadi yang dianggap simbol status, secara perlahan akan bergeser, terutama bila kita merancang dan melaksanakan busway yang baik.

    Busway Jakarta mempunyai beberapa kelemahan, kelemahan itu bisa diatasi supaya tidak terjadi di Surabaya.

    Intinya saya masih tetap akan mendorong pelaksanaan busway di Surabaya. Asalkan jangan dijadikan komoditas politik. Kalau dipolitisasi, saya tidak bisa argumentasi. Kalau secara teknis, ada solusi yang bisa dilakukan.

    Terimakasih.

    Like

  10. Sptnya yg dimaksud oleh sdri Nana begini…

    Pemerintah sehrsnya menyediakan bus umum “khusus org kaya”, yg tarifnya mahal & servisnya luks. Ini akan efektif utk mengalihkan mereka dari kendaraan pribadi. Bagaimanapun, konsep busway yg ada saat ini tetap msh kalah nyaman dibandingkan kendaraan pribadi.

    Memang bagi pemerintah atau parlemen, ide busway terdengar bagus utk kampanye politik, krn “berpihak kpd wong cilik”. Tapi, tujuan mengurangi kepadatan lalu-lintas tdk akan tercapai.

    Para pemilik kendaraan pribadi tdk bisa dihadapi dg imbauan, atau “teror busway” yg memakan jalur jalan yg biasa mereka gunakan. Mereka butuh insentif yg sepadan utk meninggalkan kendaraan pribadi.

    Jk ada yg menganggap bus umum “khusus org kaya” ini memicu kecemburuan sosial, sebenarnya ide ini msh lbh mending drpd kendaraan2 pribadi isi 1-2 org yg memenuhi jalan spt skrg.

    Like

  11. Sepertinya yang dimaksud oleh sdri Nana begini…

    Semua pihak sepakat bahwa kepadatan lalu-lintas terutama disebabkan oleh volume mobil pribadi. Masalahnya, paradigma untuk mengatasinya selama ini kurang tepat. Pengguna mobil pribadi diimbau kesadarannya untuk beralih ke kendaraan umum, seraya “diteror” oleh busway yang memakan ruas jalan yang biasa mereka gunakan.

    Padahal seharusnya pemerintah menawarkan insentif sepadan, yang tak kalah nyaman dibandingkan mobil pribadi. Insentif tersebut adalah armada bus eksklusif dalam kota yang tarifnya mahal dan berfasilitas mewah. Jenis kendaraan umum ini akan lebih efektif karena memenuhi dua kebutuhan spesifik kalangan menengah atas pengguna mobil pribadi, yaitu kenyamanan tanpa kompromi dan gengsi.

    Bagi pemerintah dan DPRD, ide busway memang lebih menjual secara politis, karena terasa “berpihak kepada wong cilik”. Tapi mengandalkan itu saja, masalah kepadatan lalu-lintas tidak akan terpecahkan.

    Like

  12. Saya kurang suke deh naek ANGKOT, kita lihat saja kalau memang nanti angkot akan diperbaiki menjadi bagus, apakah perilaku kesopan santunan angkot bisa dijaga??? saya tak yakin. Karena supir ANGKOT tak punya tata krama dalam berkemudi di jalan raya. yang kedua yang membuat mancet memang kendaraan pribadi tentunya yang paling mengerikan adalah roda 2 yang sama tak punya sopan santun dalam berkendara, main potong bikin tambah ruwet tentunya setalah busway jadi kendaraan roda 2 harus segera dibatasi agar tak menjadikan bahaya dijalan raya meningkat. Saya dukung BUsway Surabaya. Karena sangat malu sekali jika kita nanti tak merubah sarana transportasi massal yang jelek sekarang ini. Kota MICE international mutlak memiliki transportasi massal yang bagus dan modern, masak orang mau meeting bisnis naek ANGKOT??? APa kata dunia.. Mana ANKOTNYa tak punya sopan dijalan, jadi surabaya bisa bersaing dengan singapura secara bertahap. Maju Surabaya ku. Maju terus Busway dan Monorel

    Like

  13. Dari berbagai komentar diatas, saya akan coba tulis posting tentang angkutan massal berbasis jalan raya atau yang sering disebut sebagai Bus Rapid Transit (BRT), yang bahasa populernya disebut busway. Saya berharap pemahaman yang lebih lengkap tentang BRT bisa membantu percepatan pembangunannya. Saya agak kuatir, ada pihak-pihak yang tidak melihat BRT secara utuh, sehingga memberikan penilaian yang keliru tentang BRT itu sendiri.

    Kawan-kawan dari MTI semoga juga bisa memberikan penjelasan yang lebih lengkap tentang BRT yang juga busway.

    Like

  14. Tapi sayang mengapa hingga sekarang tak ada sosialisasi mengenai busway ya??? oleh pemkot surabaya?? mengenai design, model bus, sistem tiketnya, jalurnya. dsnya nya??

    Like

  15. Pada saatnya sosialisasi BRT akan dilaksanakan. Saya kurang tau kapan dilakukan. Saya kira nantinya, Dinas Perhubungan yang akan jadi leading aktor untuk sosialisasi itu. Tapi seperti komentar saya diatas (#14), saya akan coba bikin posting sebagian tentang itu. Mohon bersabar.

    Like

  16. Pak, Kayaknya Busway benar2 akan digantikan dengan Busline seperti di Jogja, Karena saya coba bertanya kepada wakil walikota surabaya di blognnya. dan menjawab seperti ini .

    Pak Hadi: Busway jalan terus. Sekaran lagi DED. Konsepnya memang tdk spt di Jakarta, tpi seperti di Jogja (Indonesia) atau di London (LN). Jd kelak tidak ada pemisah jalur. Untuk monorel masih lama.

    Copied From :http://arifafandi.blogdetik.com/2008/03/25/kukuhkan-brand-baru-surabaya/#comment-33

    Like

  17. Matangkang konsep busline, kemudian setelah semua berjalan dengan baik, baru diupgrade ke busway.
    Selain itu di Surabaya mungkin perlu diberlakukan kawasan pembatasan kendaraan, model 3 in 1 di Jakarta.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s