Antara Pilkada Indonesia dan film Robin Williams “Man of the Year”

Robin Wiliams adalah salah satu dari sekian aktor komedian yang saya suka. Banyak film komedi yang sudah ia lakonkan dan mencapai sukses. Terakhir saya lihat filmnya “Man of the Year”, dimana ia memerankan seorang host acara komedi televisi yang terpilih jadi Presiden Amerika Serikat. Dalam film itu dikisahkan kondisi rakyat Amerika yang sudah bosan dengan program presiden dan para politikus. Sehingga ketika Tom Dobbs (Robin Williams) menawarkan diri jadi calon Presiden dengan program perubahan, rakyat Amerika kemudian memilih Tom Dobbs jadi Presiden. Mereka tidak peduli apapun perubahan yang ditawarkan Dobbs, pokoknya yang penting ada perubahan.

Film “Man of the Year”, sebagaimana laiknya film, dibumbui dengan skandal affair Tom Dobss (elected President) dengan seorang wanita. Ketika Dobbs harus menjelaskan kepada publik melalui TV tentang hubungannya dengan seorang programmer wanita, maka ia menegaskan bahwa ia juga seorang manusia biasa yang punya jalan hidup biasa. Entah disengaja atau tidak, penayangan film ini di TV dikala Amerika sedang siap-siap untuk pemilihan Presiden, dimana isu perubahan merupakan isu yang dijual oleh beberapa kadidat termasuk Barrack Obama dan Hillary Clinton. Obama malah menjadikan motto “Stand for Change” sebagai isu sentral dalam kampanyenya.

Sisi lain dari Amerika adalah bahwa seorang mantan aktor, Ronald Reagan, berhasil menjadi Presiden. Pada level yang lebih rendah, Arnold Schwarzenegger, juga berhasil menjadi gubernur California, serta Clint Eastwood menjadi walikota.

Keberhasilan selebriti menjadi pejabat Publik dan pejabat negara, nampaknya mengilhami beberapa selebriti Indonesia untuk ikut Pilkada.Tengoklah Marissa Haque yang mencalonkan jadi gubernur Banten (kalah dengan incumbent Ratu Atut), kemudian Dede Yusuf yang siap-siap maju jadi Calon Wagub Jawa Barat, serta “Si Doel” Rano Karno yang hampir pasti akan jadi Wakil Bupati Tangerang.

Menjadi kepala daerah apakah itu Bupati, Walikota, atau Gubernur, sesungguhnya bukanlah tugas yang mudah. Banyak pekerjaan dan tanggungjawab yang diemban oleh seorang kepala daerah. Tugas itu tidak enteng, bahkan sulit. Diperlukan kemampuan manajerial dan kemampuan sosial yang baik untuk menjadi seorang kepala daerah yang baik. Sudah barang tentu sebagai pejabat pengambil keputusan, seorang Kepala Daerah mempunyai wewenang yang cukup strategis. Ia menentukan arah perkembangan daerahnya, kebijakannya berdampak terhadap banyak orang. Dilain pihak dengan kewenangan yang besar itu, ia  juga punya kekuasaan yang cukup strategis. Karena itu godaan untuk terjebak atau tergelincir dalam penyimpangan kewenangannya juga ada. Sudah banyak kepala daerah yang sedang menjalani persidangan penyelahgunaan wewenang, kasus korupsi dan lain-lain. Tidak sedikit yang sudah dijatuhi vonnis.

Pada prinsipnya siapa saja boleh mencalonkan diri menjadi kepala daerah. Yang perlu dicermati adalah bahwa jabatan kepala daerah sekarang ini tidak lagi seperti sebelumnya. Tantangan dan rintangan kepala daerah tidak sedikit. Kepala Daerah juga harus mampu mengarahkan para birokrat dibawahnya. Penguasaan administrasi pemerintahan menjadi sesuatu yang sangat esensial bagi seorang kepala daerah. Bila tidak hati-hati dan cerdas, bisa tergelincir dalam penyalahgunaan wewenang.

Tom Dobbs dalam film “Man of the Year”, ketika dihadapkan pada tantangan persoalan administrasi seorang Presiden Amerika dengan segala tuntutan jabatannya, akhirnya memutuskan untuk menghindari jabatan Presiden. Ketika Tom Dobbs dibrifing oleh staf kepresidenan saat persiapan menjadi Presiden, ia merasakan bahwa sesungguhnya menjadi kepala negara adalah tugas berat gila-gilaan. Karena sesungguhnya dunianya adalah sebagai warga biasa.  Menjadi kepala negara dengan tugas demikian bukan habitatnya.

Kisah film itu mengingatkan saya pada salah seorang Walikota di salah satu kota di jawa Barat, ketika menghadapi permasalahan dan tantangannya sebagai Walikota, akhirnya selama beberapa bulan tidak masuk kantor. Stress menghadapi orang dan tugas yang semula tidak terbayangkan olehnya. Sebelum menjadi walikota ia adalah seorang kepala sekolah. Ketika terpilih menjadi walikota, ia tidak tahan menghadapi banyaknya tuntutan yang diberikan kepadanya untuk bertemu dengan orang-orang yang mengharapkan “balas jasa” dan tantangan lainnya.

Tapi sangat banyak orang yang berebut untuk menjadi Walikota, Bupati apalagi Gubernur.

2 thoughts on “Antara Pilkada Indonesia dan film Robin Williams “Man of the Year”

  1. sungguh menyedihkan nasib negeri ini pasca-otoda. hanya sekadar mengalihkan pusat korupsi dari jakarta ke kab/kota. repotnya, banyak calon yang punya visi dan misi bagus saat nyalon, tetapi setelah terpilih jadi loyo dan melempem, tak kuasa melawan para anggota legislatif yang menerapkan prinsip politik dagang sapi. sungguh menyedihkan.

    Like

  2. Ya begitu lah. Pilkada sebagai bagian dari Demokrasi, ongkosnya sangat besar. Seorang calon harus siap kantong super tebal. Yang jadi masalah adalah bahwa pengeluaran calon itu sebagian besar tidak bisa dipertanggungjawabkan alias tidak bisa ditransparankan untuk bayar apa dan bayar siapa.

    Ujung-ujungnya beban ongkos itu ya ke rakyat juga kan.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s