Jangan sampai busline menggantikan busway Surabaya.

Menurut berita koran Jawa Pos, Jumat 25 Januari 2008, Dinas Perhubungan kota Surabaya sedang mempertimbangkan merubah busway menjadi busline. Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Perhubungan Bambang Suprihadi pada rapat dengan DPRD Kota Surabaya.

Alasan kemungkinan peninjauan itu antara lain disebutkan karena belum ada ijin dari Departemen Pekerjaan Umum untuk menggunakan Jalan A. Yani sebagai lajur busway. Alasan lain tidak dikemukakan, tetapi ditambahkan bahwa kalau busway tidak dapat dilaksanakan maka akan diusulkan membuat dan membangun busline. Menurut Kepala Dinas Perhubungan, pemilihan kedua sistem itu akan ditentukan pada saat pelaksanaan DED (detailed engineering design).  Pada kesempatan lain, Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Herman Surjadi Sumawiredja mengatakan kalau busway belum perlu di Surabaya. Kapolda beralasan, bahwa bila lajur busway menggunakan jalan yang ada dan bukan membangun jalan baru, maka akan menimbulkan kemacetan.

Saya tidak tau apakah pernyataan Kepala Dinas Perhubungan dan Kapolda itu sudah didukung oleh suatu kajian transport planning yang baik dan benar. Sistem busway dan sistem busline sangat jauh berbeda, kapasitas sistemnya berbeda sekali. Perlakuan kedua sistem juga berbeda. Sistem busline sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan apa yang sudah diterapkan di Surabaya sekarang ini. Jalan dibagi menjadi beberapa lajur, salah satu lajur diberi marka untuk bis kota. Maka bis kota mendapat prioritas di lajur itu, tetapi kendaraan yang lain boleh juga menggunakan lajur tesebut. Karena  kendaraan lain juga bisa menggunakan, maka kapasitas (daya angkut perwaktu) dan waktu tempuh busline tidak bisa diperhitungkan dengan baik. Pengguna jalan yang lain, cenderung menghalangi busline. Sistem tiketing busline dan sistem pengoperasian lainnya juga sangat berbeda dengan busway. Busline sudah pernah diterapkan di Surabaya dan tidak berhasil alias GAGAL.

Sementara sistem busway, satu lajur diperuntukkan khusus untuk busway. Kendaraan lain, tidak boleh melintas di lajur busway. Sehingga kapasitas (daya angkut per waktu) busway jauh lebih besar dari busline. Sistem tiketingnya juga berbeda. manajemen pengoperasiannya juga berbeda.

Pada saat awal pengoperasian busway, maka kemungkinan macet diluar lajur busway akan timbul. Itu karena masyarakat belum memahami mekanisme kerja dan manajemen pengoperasian busway. Hal itu juga terjadi di Jakarta, tetapi sejalan dengan pemahaman masyarakat, maka pengoperasian busway akan mengurangi kemacetan secara sistematis. Berdasarkan penelitian para ahli transportasi, kapasitas angkut satu lajur busway sama dengan 7 (tujuh) kapasitas lajur jalan biasa. Jadi secara teknis, tidak benar kalau busway menimbulkan kemacetan. Sebaliknya tujuan busway adalah untuk mengurangi kemacetan. Karena kapasitasnya yang besar, maka pengguna jalan dan pengguna transportasi akan berpindah dari kendaraan pribadi ke busway. Hal ini juga sudah terjadi di Jakarta. Apalagi bila sistem “feeder” busway sudah bisa berfungsi, maka sistem busway akan sangat mengurangi kepadatan lalu lintas dan mengurangi kemacetan. Dengan sendirinya bila kemacetan dikurangi, pemakaian kendaraan pribadi berkurang, maka kualitas udara akan menjadi lebih baik, karena emisi gas buang kendaraan bermotor berkurang.

Kapolda mengatakan bahwa busway belum waktunya di Surabaya, juga tidak beralasan. Kemacetan Surabaya sudah mencapai taraf yang mengkhawatirkan. Bila sistim transportasi tidak dilaksanakan sekarang, maka akan sangat terlambat untuk menyelesaikannya. Keterlambatan penyelesaian manajemen transportasi Surabaya akan mengakibatkan biaya yang sangat mahal kalau toh nantinya akan diselesaikan. Kalau kondisinya terlanjur terlalu sulit diatasi, maka biaya untuk mengatasinya juga akan menjadi sangat mahal. Malahan penyelesaian sekarang saja sudah dapat dikatakan TERLAMBAT, karena beberapa ruas jalan di Surabaya sudah mengalami kemacetan dengan rasio V/C sudah hampir mencapai 1. Artinya secara teknis jalan itu sudah macet total. Mudah-mudahan Kapolda Jatim   tidak sungguh-sungguh mengatakan bahwa busway belum perlu di Surabaya.

24 thoughts on “Jangan sampai busline menggantikan busway Surabaya.

  1. Kita pernah ketemu pada saat perencanaan jalur pejalan kaki di Basuki Rahmat. Syukurlah yang dibuat hampir sama konsepnya dengan yang kami bayangkan. Congrats ya Pak Togar!
    Tentang busline, saya harus bilang selama budaya kita masih seperti sekarang, hampir mustahil penggunaan busline sukses. Alias ya gak merubah apa-apa dari kondisi sekarang. Berapa banyak sih dari kita yang mau mendahulukan penyeberang jalan yang ada di depan mobil kita.

    Jadi untuk Surabaya, BRT (jangan busway, ‘busway’ sudah seperti merek bagi BRT jakarta) adalah pilihan yang paling logis dan bisa dilaksanakan pada jangka pendek. Cuman memang mestinya jalan A. Yani dikonversi dulu menjadi jalan kabupaten atau jalan kota dengan konsekuensi pemda yang akan menanggung biaya perawatannya.

    Sukses untuk surabaya

    Like

  2. Pagi P. Togar, saya baru gabung,sebagai orang awam,saya urun rembug, permasalahan transportasi kelihatannya bisa mulai dibenahi dari 1 hal yang paling mendasar, yaitu penggunanya, kedisiplinan berlalu lintas,bagaimana kita mengajarkan pada generasi penerus kita (sedini mungkin,mulai usia O,misal pada anak TK) bahwa berlalulintas itu harus sopan dan taat peraturan, tidak boleh melanggar marka,rambu atau lampu lalu lintas, harus menggunakan helm, harus menggunakan safetybelt(mobil), tidak menyeberang sembarangan….dengan contoh, bahwa kita sendiri juga bukan PELANGGAR PERATURAN. Kadang saya sedih, melihat kesadaran berlalu lintas warga yang notabene sudah berpendidikan (saya lihat pakai seragam guru-pendidik), masih melanggar rambu dilarang masuk pada kawasan tertentu, dengan alasan lebih dekat…padahal..saya sedang bersama anak saya (5th)(contoh konkret untuk anak kecil lebih tertanam lama diotaknya)yang dengan kritisnya bertanya….mama bilang gak boleh, kok bu Guru boleh lewat situ ma….Nah?????….sebaiknya dari perbaikan individu baru berbenah prasarana dan systemnya….

    Like

  3. Sebenarnya bus line juga tidak masalah asal nantinya ada peraturan bus diprioritaskan, sama dengan di kota saya tinggal sekarang (Vancouver)
    (mungkin caranya bus dikasih sirene aja kali ya? tapi toh di Indonesia ambulans juga nggak diperduliin sama pengguna jalan.. kembalik ke masalah manusianya)

    Like

  4. Bapak-2 dan Ibu-2 Yth,

    Ini ada informasi bagus dari Nagoya public transportation system untuk ditiru di Surabaya dan kota lain di Indonesia.
    Ini busway tapi di atas, jadi “transportation mode” seperti monoril tapi vehicle nya conventional bus.
    Untuk membangun system tsb semua teknologi nya bisa dikerjakan oleh kontraktor lokal.Kalau monoril atau Rail-MRT teknologi nya harus import. Monoril di Jakarta nggak jadi-2 karena negosiasi pekerjaan oleh kontraktor asing dan lokal belum bisa terwujud pembagian nya.
    City of Nagoya: Connecting People and Communities to Tomorrow
    http://www.city.nagoya.jp/_res/usr/52636/Connecting_People_and_Communities_to_Tomorrow.pdf
    System tsb juga lebih flexioble karena bisa meng-integrasikan bus untuk beroperasi di tempat-2 pemukiman untuk kemudian membawa penumpang ke pusat kota melalui jalur “Elevated Busway”.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s