Lagi, Jakarta kebanjiran

Persis setahun yang lalu, Februari 2007, Jakarta diterjang banjir dahsyat. Kali ini 2008 Jakarta kebanjiran lagi, meski korban jiwa tidak sebesar tahun lalu, tapi banjir tahun ini memporakporandakan pelayanan bandara Soekarno-Hatta. Dua landas pacu (runway) secara bersamaan tergenang, sehingga pesawat tidak dapat terbang dan mendarat. Ratusan penerbangan tertunda atau dibatalkan, sejumlah penumpang terlantar di Bandara.

Sebagai gateway alias pintu gerbang Indonesia ke dunia Internasional, kinerja bandara Soekarno Hatta sudah habis-habisan turun dengan genangan air di runway. Saya tidak tau persis apakah ketika hujan beberapa hari yang lalu itu intensitasnya sedemikian tinggi sehingga runway sampai tergenang. Bandara Soekarno-Hatta dilengkapi dengan waduk penampungan sementara, dan pompa yang bisa memindahkan air kelaut. Kalau curah hujan extra luar biasa, mestinya bukan cuma bandara yang tergenang, mungkin hampir seluruh kawasan Cengkareng juga ikut tenggelam.

Kalau curah hujan hanya “sedikit lebih besar” dari biasa, tapi runway tergenang, kemungkinan besar karena waduk penampung tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Bandara Soekarno-Hatta  dilengkapi dengan dua buah waduk penampungan air, yang secara teoritis sudah diperkirakan dapat menampung air sebelum dipompa ke laut. Waduk penampungan tersebut dirancang untuk mengalirkan air dari runway sedemikian rupa sehingga runway tetap dapat difungsikan meski hujan cukup lebat. Tapi mengapa hujan beberapa hari lalu sampai membuat runway tergenang.

Ada beberapa kemungkinan kalau sampai runway tergenang. Pertama, saluran penghubung runway ke waduk tersumbat. Letak waduk penampungan berjarak sekitar beberapa ratus meter dari runway, dihubungkan dengan saluran. Kalau saluran ini tidak dibersihkan secara rutin, maka aliran air dari runway ke waduk terhambat, akibatnya runway tergenang. Kemungkinan kedua, volume waduk penampung mengecil karena sedimen. Bila tidak dikeruk dan dibersihkan secara rutin, maka volume waduk mengecil, sehingga air tidak bisa ditampung dan air menggenangi runway.

Kemungkinan ketiga, pompa air tidak berfungsi dengan baik, sehingga ketika air terkumpul di waduk tidak bisa segera dipompa dan dialirkan kelaut. Pompa harus dipelihara dan dioperasikan secara rutin. Bahan bakar pompa harus selalu tersedia untuk operasi dan cadangan dalam keadaan darurat. Keterlambatan mengoperasikan pompa mengakibatkan volume air di waduk menjadi tinggi.  Kemungkinan keempat adalah gabungan dari tiga kemungkinan sebelumnya, saluran penghubung tersumbat, volume waduk berkurang dan sekaligus pompa mengalami kerusakan.

Kalau sampai kemungkinan-kemungkinan itu yang terjadi, maka itu adalah kesalahan fatal pengelola kawasan bandara. Seharusnya memasuki periode musim hujan yang volumenya belum terprediksi, maka antisipasi terhadap banjir harus ekstra tinggi. Dengan tertutupnya bandara internasional Soekarno-Hatta, seluruh dunia akan menilai Indonesia tidak mampu melakukan langkah antisipasi. Selain kerugian langsung akibat tertundanya sejumlah penerbangan, kerugian yang lebih besar adalah reputasi dan kinerja bandara yang jauh merosot. Kerugian finansial jangka panjang akan semakin besar.

2 thoughts on “Lagi, Jakarta kebanjiran

  1. Sedangkan jalan menuju Bandara INTERNATIONAL Sukarno Hatta saja banjir, apalagi jalan menuju kampung saya di Pondok Ungu Bekasi, siapa yang mikirin.

    Kadang-kadang saya berpikir untuk mengumpulkan orang-orang yang ada di sepanjang jalan menuju kampung saya, agar rame-rame bergotong royong untuk memikirkan masalah banjir. Okelah, kalau tidak bisa tenaganya, bantu dalam materi saja, pikir saya. Tapi siapa yang ngumpulin, entar dikorupsi lagi.

    Tapi saya perhatikan disepanjang jalan menuju kampung saya, pohon-pohon yang tadinya ditanam oleh developer hampir sudah tidak ada lagi, digantikan dengan semen. Boro-boro pohon, eh malah bangunan rumahnya maju sampai ke jalan.

    Airnya bingung mau kemana, got sudah ditutup, tanah ditutup, kesal akhirnya ngamuk.

    Sadar.

    Like

  2. Ada yang kurang lengkap saya utarakan di tulisan diatas. Masih ada satu lagi kemungkinan penyebab terjadinya genangan di runway. Penyebab itu ialah turunnya permukaan landasan pacu dari level sebelumnya. Landasan pacu bandara Soekarno Hatta ditopang oleh pondasi cakar ayam, dan karena sudah berumur lebih dari 10 tahun pondasi itu mengalami penurunan dari level sebelumnya.

    Penurunan itu memang tidak bisa dihindari, mengingat lahan bandara dulunya adalah sawah dan rawa yang diuruk. Sehingga secara teoritis setiap tahun terjadi penurunan landasan. Besarnya penurunan itu bisa dihitung. Tetapi bisa saja, asumsi perhitungan berubah setelah lebih dari 10 tahun, sehingga penurunan landasan lebih besar dari yang diperkirakan semula pada waktu bandara dirancang.

    Yang patut disayangkan adalah berita yang saya dengar dari teman-teman yang mengetahui. Menurut berita, sewaktu banjir yang menggenangi runway dan jalan tol, pada saat itu pompa utama di kawasan jalan tol sudah rusak selama 2 (dua) hari. Kerusakan pompa itulah yang mengakibatkan jalan tol tergenang, karena air tidak bisa dialirkan ke laut. Menurut informasi pula, petugas teknik pompa sudah melaporkan hal kerusakan pompa itu, tapi tidak segera diatasi dan diperbaiki. Ini berarti manajemen pengelola pompa dan jalan tol benar-benar tidak profesional.

    Seharusnya dalam musim hujan yang sulit diprediksi seperti sekarang, pompa harus stand-by dalam keadaan full kapasitas dan berfungsi baik. Begitu cuaca mendung, petugas sudah harus bersiap menjalankan pompa secara bertahap.

    Tapi itulah yang terjadi.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s