The Last Supper dan Dia Telah Pergi

Majalah berita Tempo edisi 4-10 Februari 2008 memuat gambar cover ilustrasi dengan judul “Dia Telah Pergi”. Dalam gambar itu ditampilkan Soeharto dengan anak-anaknya. Setting gambar itu mirip dengan lukisan Leonardo Da Vinci ” The Last Supper”, dimana Yesus Kristus dikelilingi duabelas muridNya dalam Perjamuan Terakhir ketika sebelum malam penyaliban. Di Jakarta, pemuatan cover Tempo itu diprotes sejumlah organisasi Katolik. Tempo diminta untuk memuat pernyataan maaf secara resmi. Pimpinan Tempo sudah minta maaf, melalui website.

Pimpinan redaksi majalah Tempo, dalam pernyataannya mengakui bahwa gambar “Dia Telah Pergi” diinterpretasikan dari “The Last Supper” karya Da Vinci. Tetapi menolak kalau gambar itu dimaksudkan sebagai pelecehan terhadap agama Kristen.

Karya Leonardo Da Vinci “The Last Supper”, sejak lama dinilai sebagai interpretasi Da Vinci terhadap Yesus Kristus dalam melakukan perjamuan sekaligus pelayanan kepada murid-muridNya. Sedemikian tingginya interpretasi itu sehingga lukisan itu dianggap banyak orang sebagai simbol pengorbanan dan pelayanan Yesus kepada muridNya dan kepada manusia. Itulah sebabnya bagi banyak orang lukisan itu dinilai sebagai salah satu simbol pelengkap dari kegiatan Nasrani.

Perjamuan terakhir yang dilakukan Yesus sebelum Ia disalibkan menjadi salah satu sakramen yang diyakini umat Kristen sebagai bagian dari proses pelaksanaan ajaran Kristus. Sakramen perjamuan kudus merupakan ibadah dan penjelmaan dari pengorbanan tubuh dan darah Kristus. Maka bisa difahami, bagi banyak orang, lukisan Leonardo Da Vinci merupakan visualisasi pengorbanan dan pelayanan Kristus kepada ummatNya. Karena itu lukisan itu punya nilai tersendiri bagi banyak orang Nasrani.

Sebagai karya seni, lukisan “The Last Supper”, sah-sah saja kalau diinterpretasikan oleh berbagai pihak untuk berupa kepentingan. Walau bagaimanapun The Last Supper tetaplah sebuah lukisan, sebuah karya seni. Kalau karya seni yang satu mengilhami karya seni yang lain, tentu boleh-boleh saja.

Bagi saya terlalu bodoh kalau mengkaitkan lukisan “The Last Supper” dengan tulisan Tempo tentang Soeharto pada edisi 4-10 Februari 2008 itu. Menjadi sangat terlalu bodoh lagi, bila mengkaitkan Soeharto dalam “Dia Telah Pergi” dengan Yesus Kristus yang divisualkan dalam “The Last Supper”. Yesus Kristus sangat bertolak belakang dengan Soeharto.

Hanya saja, Tempo juga agak keterlaluan dalam memvisualkan diktator Soeharto dan mengambil ilham dari “The Last Supper” nya Leonardo Da Vinci. Tempo tidak punya “feeling” dalam mengaktualisasikan suatu isu. Tempo kehilangan sensitifitas dalam berkreasi. Bandingkan dengan karya karikatur di Eropah Barat beberapa waktu lalu, ketika wartawan (media) memvisualisasikan kreativitasnya yang kemudian diprotes banyak orang di Indonesia.

2 thoughts on “The Last Supper dan Dia Telah Pergi

  1. Tradisi Kristen yang sudah sangat dewasa dalam perbedaan pendapat, bahkan soal theologi sekali pun, rasanya tidak akan terluka hanya oleh parodi di cover sebuah majalah. Apa yang dilakukan Tempo tidak ada apa-apanya dibandingkan Film Davinci Code, yang membangun teori sendiri mengenai sejarah Yesus dan kekristenan. Santai-santai aja pren!

    btw sebagai intermezo, ayo Lae kita dukung PSMS Medan. Ayo kita teriak keras-keras : Viva PSMS, Mampuslah Sriwijaya FC

    Horas
    Raja Huta

    Like

  2. Wah sayang PSMS kalah dari Sriwijaya ya, mungkin, karena kita tidak rame-rame ke Soreang menonton.

    Da Vinci Code ?, ah itu cuma hayalannya Dan Brown aja. Tapi memang banyak reaksi orang, ya mestinya seperti kata lae Tobadreams, santai ajalah.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s