Sistem ticketing BRT

Menyambung ulasan tentang operator BRT, kali ini saya coba bahas sistem ticketingnya. Sistem pengelolaan tiket BRT ini merupakan bagian penting yang harus dirancang dengan baik sebelum mengoperasikan BRT. Mengambil pelajaran sistem tiket “Busway” Jakarta yang punya banyak kelemahan, maka sistem tiket perlu disiapkan dengan baik.

Idealnya sistem tiket BRT harus bisa memudahkan penumpang dan pengelola BRT. Memudahkan penumpang artinya,  ada fleksibilitas pembayaran. Idealnya tiket ada yang sekali jalan, tiket terusan selama sehari, dan tiket terusan selama sebulan. Contohnya adalah tiket MRT di Singapur, yang terdiri dari tiket sekali jalan, tiket terusan sehari, dan tiket terusan sebulan. Tiket terusan sehari adalah tiket yang bisa dipakai selama sehari untuk beberapa kali naik BRT dan berlaku untuk semua jurusan (koridor). Demikian juga tiket terusan sebulan, dengan masa berlaku sebulan.

Tiket terusan biasanya berbentuk pra-bayar. Kartu tiket harus bisa dibaca oleh alat bantu komputer, jadi ia berisi informasi tentang harga tiket dan halte asal tiket serta bisa mendeteksi halte tujuan tiket. Dengan bentuk fisik berupa kartu pra-bayar, kemungkinan kehilangan dan kerusakan tiket bisa dikurangi. Setiap bus BRT dilengkapi dengan alat pembaca tiket, sehingga penumpang cukup menempelkan tiket ke alat, maka secara otomatis “nilai” tiket dikurangi sejumlah harga perjalanan.

Harga tiket terusan harus dirancang sedemikian rupa sehingga tidak merugikan penumpang maupun pengelola BRT. Bila sistem BRT sudah meliputi berbagai koridor, maka penggunaan tiket terusan akan sangat menguntungkan bagi penumpang maupun pengelola. Penentuan harga tiket terusan didasarkan pada asumsi berapa kali satu tiket akan digunakan oleh seorang penumpang dalam sehari atau dalam sebulan.

Di Singapur, untuk sekali jalan untuk satu jurusan, penumpang diharuskan membeli tiket dimana harga tiket sudah termasuk deposit untuk pengembalian kartu fisik tiket yang mirip kartu kredit. Deposit dapat di refund ketika penumpang sampai di tujuan.

Pengembalian kartu tiket di tujuan akhir penumpang selain untuk menghindari kehilangan tiket juga bisa digunakan untuk mengetahui arah perjalanan penumpang. Dengan tiket seperti itu diketahui dari mana asal dan kemana tujuan penumpang. Data mengenai asal dan tujuan (origin/destination; O/D) penumpang sangat penting dalam pengembangan sistem angkutan massal perkotaan. Sistem tiket “Busway” Jakarta, tidak dapat mendeteksi O/D penumpang, karena tikenya dikumpulkan di halte asal penumpang.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s