BRT harus punyai lajur tersendiri.

Pengoperasian BRT dimaksudkan untuk memberikan kepastian waktu tempuh bagi penumpang dari tempat asal (origin) sampai ke tujuan (destination). Kepastian waktu tempuh menjadi faktor yang sangat penting bagi sistem angkutan massal perkotaan seperti BRT. Hanya saja BRT lebih fleksibel dalam hal sarana angkutannya, dan yang paling utama adalah bahwa BRT jauh lebih murah dari MRT subway.

Fleksibilitas BRT tidak boleh mengorbankan waktu tempuh, karena itulah BRT harus mempunyai lajur terpisah dari kendaraan lain. Lajur BRT harus benar-benar steril dari kendaraan lain bahkan dari kendaraan Presiden sekalipun. Sekali lajur BRT digunakan oleh kendaraan yang lain, maka BRT tidak lagi berfungsi sebagai angkutan massal. Bila BRT menggunakan lajur yang sama dengan kendaraan lain, maka bis BRT juga akan mengalami kemacetan.

Nilai “massal” BRT adalah perhitungan jumlah penumpang yang dapat diangkut oleh sistem perjam. Perhitungan kapasitas BRT bukan jumlah penumpang untuk setiap bus, tapi jumlah penumpang persatuan waktu yang bisa diangkut. Karena itulah selain waktu tempuh dari satu titik ke titik berikutnya harus tepat. Waktu untuk menurunkan dan menaikkan penumpang di perhentian (halte) harus seminimal mungkin, sehingga tidak ada keterlambatan perjalanan.

Untuk memperkecil waktu menurunkan dan menaikkan penumpang, halte dan pintu bis harus dirancang dengan baik. Idealnya pintu masuk dan pintu keluar pada suatu bis harus berbeda, sehingga tidak ada konflik antara penumpang yang masuk dengan penumpang keluar. Sistem pintu bis TransJakarta yang hanya menggunakan satu pintu, sangat berpengaruh terhadap lamanya bis berhenti di halte. Penumpang yang akan masuk ke dalam bis, harus menunggu orang yang keluar, barulah penumpang bisa masuk. Waktu tunggu yang meskipun hanya sekitar 1 menit akan menurunkan kapasitas sistem BRT secara keseluruhan.

2 thoughts on “BRT harus punyai lajur tersendiri.

  1. Pak Togar, saya ada angan-angan tentang angkutan Sby. Jika Komuter menghubungkan antara Surabaya-Sidoarjo dengan arah Utara-Selatan, saya berangan-angan jika di Sby nanti ada Monorail dari arah Timur-Barat. Dalam angan-angan saya ituh, monorail tadi menghubungkan antara Kenjeran (Surabaya Timur) sampai Gunungsari (Surabaya Barat). Jalur monorail yang dipakai adalah (sayangnya) Jalur Hijau Jl.Raya ITS – Jl.Kertajaya Indah – Jl. Manyar Kertoarjo – Stasiun Gubeng. Lalu dari stasiun Gubeng ke arah Jl. Pandegiling – sampai selesai. Kalo pake Subway mah rawan Pak, Sby masih belum bebas banjir.

    Itulah sekedar angan-angan saya Pak. Terima Kasih

    Like

  2. @ Angki
    Sebetulnya koridor Timur-Barat itu bukan sekedar angan-angan. Itu sudah dikaji tahun 1996 lalu dalam SITNP (Surabaya Itegrated Transport Network Planning). Koridornya diusulkan ITS-Kertajaya-Pandegiling-BanyuUrip terus ke Barat. Bisa ke Benowo atau ke segi-8, ke arah Ngesong.
    Rekomendasi SITNP waktu itu adalah busway bukan monorail. Tapi itu semua tergantung perkiraan “traffic demand”.

    Subway banjir ?, secara teknis itu bisa diatasi, yang sangat sulit adalah menyediakan uang untuk membangun subway.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s