Menyusun AMDAL, seberapa sulitkah ?

Hari Selasa 11 Maret kemarin, Komisi Amdal KNLH mengadakan sidang di Surabaya untuk membahas draft Kerangka Acuan KA- ANDAL pengembangan pelabuhan Teluk Lamong, Surabaya. Pemrakarsa adalah PT Pelindo III, konsultan adalah ITS melalui PT ITS Kemitraan dan PT Konindo. Sidang komisi dihadiri oleh berbagai instansi terkait dan perwakilan masyarakat di sekitar Teluk Lamong. Dari hasil pembahasan, terungkap bahwa dokumen yang disiapkan konsultan masih jauh dari harapan, bahkan mengecewakan.

Kerangka Acuan (KA) ANDAL, adalah dokumen yang akan dijadikan dasar oleh pemrakarsa dan konsultan untuk melakukan kajian dan analisa dampak lingkungan. Kerangka acuan disusun dengan mempertimbangkan semua aspek yang terkait dengan rencana pembangunan yang akan dilaksanakan. Karena pembangunan yang direncanakan adalah pelabuhan peti kemas, maka kerangka acuan haruslah meliputi semua aspek yang terkait dengan pelabuhan dan kawasan di sekitarnya. Setelah KA-ANDAL disetujui oleh semua stakeholder, barulah pemrakarsa dan konsultan melakukan kajian dampak.

Dokumen yang diserahkan pemrakarsa kepada saya, sangat mengecewakan saya, karena lingkup yang dimasukkan oleh konsultan masih tidak lengkap. Saya terpaksa mengemukakan kekecewaan saya dalam forum rapat. Bahkan kolega saya dari Dinas Lingkungan Hidup Gresik, mengatakan dalam rapat bahwa dokumen itu adalah “copy paste” dari dokumen lain. Saya juga menemukan beberapa “kesalahan ketik” dalam dokumen itu, tapi saya masih tidak tega mengemukakan kalau dokumen sekedar “copy paste“. Walau bagaimanapun tim konsultannya adalah orang-orang yang sudah saya kenal, dan banyak diantara mereka adalah dosen senior.

Saya jadi bertanya-tanya, sebenarnya seberapa sulit untuk menyusun AMDAL. Menurut saya tidak terlalu sulit. Sesungguhnya petunjuk dan pedoman untuk penyusunan Amdal sudah sangat banyak, dan menurut saya sudah cukup jelas. Persyaratan konsultan penyusun Amdal, juga ada, dan itu bisa dipenuhi. Menurut saya, penyusunan AMDAL terutama dikawasan perkotaan sudah nyaris standar. Karena itulah akan sangat mengecewakan kalau dokumen KA-ANDAL sampai “salah ketik”. Saya tidak bisa mentolerir “kesalahan ketik” itu, karena dari situ tercermin juga bahwa dokumen KA-ANDAL rencana pembangunan pelabuhan itu terasa “asal-asalan“. Saya menilai konsultan ceroboh dalam melaksanakan pekerjaan.

Untuk mendapatkan hasil yang baik, diperlukan integritas dari konsultan. Sebagai lembaga yang bergengsi, kecerobohan “salah ketik” sebenarnya tidak dapat ditolerir. Sangat disayangkan kalau kebiasaan “main tembak“, masih saja terjadi. Mungkin itu keteledoran personil, tapi, sebagai produk lembaga, tim konsultan mempertaruhkan integritas lembaganya dalam penyusunan dokumen AMDAL.

10 thoughts on “Menyusun AMDAL, seberapa sulitkah ?

  1. memang betul sekali Pak, terkadang bahkan seringkali terjadi dokumen Amdal khususnya di Kota Surabaya kebanyakan adalah dokumen “copy paste” (saya mohon beribu ma’af) hal tersebut terkadang diindikasikan dengan sebutan “Kotamadya Daerah Tingkat II Surabaya” bahkan pernah ada yang menyebutkan Kota Kediri, bahkan Kabupaten Gersik.
    Seringkali dokumen Amdal tersebut dibuat oleh “orang dalam” (ma’af ) dengan mhasil labnya pun terkadang diambilakan dari dokumen amdal tempat lain ( ma’af ini hanya dugaan saya, saya seringkali melihat kesamaan angka dalam beberapa dokumen Amdal pada beberapa bangunan pada daerah yang berbeda di Kota surabaya, mudah-mudahan saya salah) dan dipresentasikan oleh dosen junior hingga senior “kampus sukolilo” (sekali lagi mohon ma’af.. bagaimanapun juga mereka juga dosen saya).
    Saya sangat berharap kedepan penyusunan Amdal dapat menjadi lebih baik lagi bukan sekedar hanya “formalitas” karena yang dipertaruhkan bukan hanya nama dan integritas konsultan serta pemrakarsa tapi juga nama dan integritas “Kampus Sukolilo” beserta alumninya serta nama baik Pemerintah Kota Surabaya
    Trims

    Like

  2. sedikit komentar saja, sekedar “urun” bicara.
    sebetulnya penyusunan dokumen amdal gampang-gampang susah.
    dibilang gampang, karena memang sudah banyak sekali panduannya.
    dan juga para konsultan dalam memprediksi dampak cukup lihai karena jam terbang yang cukup tinggi.
    teori sudah ada, hanya pendekatan saja tentang perkiraan dampak tadi itu yang butuh kecermatan.
    yang bikin susah adalah :
    1. belum semua pemrakarsa memahami perlunya dokumen ini.
    2. belum semua pengambil kebijakan berani “berjalan” pada jalan yang lurus.
    3. dengan alasan tersebut di atas maka banyak penyimpangan yang terjadi, diantaranya terbatasnya waktu dan biaya untuk penyusunan dokumen itu. contoh: dokumen jalan sementara proyek jg jalan…ujung2nya konsultan hrs cepat2 menyelesaikan dokumen.
    4. konsekuensi dari hal itu, ya….seperti sudah diuraikan pada tulisan tsb diatas.

    saya tdk memungkiri adanya “copy paste” tersebut, karena terusterang saya dulu jg sdh pernah melakukannya, dan saat itu sangat fatal, karena kami menyusun amdal di balikpapan, sedangkan didalam tulisan kami ada di kota magelang.
    tapi ya sekali itu aja, karena itu pengalaman yg sangat berharga utk melangkah, dan sampai skg tdk pernah terulang.

    saya sangat mendukung upaya2 utk memperbaiki kualitas dokumen amdal, tapi jangan semata2 menyalahkan konsultan saja.

    mudah2an semuanya mau berbenah, baik pemrakarsa, pengambil kebijakan, dan juga konsultan.

    Like

  3. memang tidak bisa dipungkiri lagi pembuatan AMDAL di Indonesia sebagian besar menggunakan data lain daerah.hal ini memang beralasan bila dikaitkan dengan budaya indonesia yang semua serba instan.Sulit untuk para pengembang jika harus mengikuti prosedur yang ada.Sepakat dengan yang diungkapkan rizky,AMDAL hanya formalitas pembangunan(maaf ini yang di ungkapkan beberapa dosen saya).saya kagum pada para pembuat AMDAL yang menggunakan “jalan lurus” untuk membuat AMDAL.

    Like

  4. dimana-mana orang sibuk dengan bagaimana caranya agar agar alam kembali steril dari perusakan lingkungan … eh malah Amdal gak maksimal dlam penanganannya.

    Like

  5. Saya tertarik dengan COPY PASTE – Sejauh pengamatan saya memang sudah menjadi BUDAYA Indonesia dan semakin marak akhir-akhir ini. MENYEDIHKAN . . !
    Bisa jadi karena lulusan Perguruan Tinggi membuat skripsinya juga dengan jalan Copy Paste – akhirnya mereka menjadi generasi COPY PASTE dan hebatnya, kalau ditemukan kesalahan pada dokumen yang mereka buat (saat sudah masuk dalam lingkungan kerja). . . . . tidak sedikitpun RASA MALU pada diri mereka (seolah-olah hal ini adalah hal yang wajar).
    Menurut saya, perilaku seperti ini sama saja dengan Mental MALING.

    Like

  6. Copy paste? untuk mempercepat pekerjaan saya pikir masih wajar, selama menghormati tatacara yang berlaku, misalnya menyebutkan dokumen yang dipakai sebagai bahan rujukan tersebut dalam daftar pustaka.

    Like

  7. kualitas dari penyususnan kerangka acuan ANDAL yang belum layak seharusnya dapat memacu konsultan menjadi lebih profesional..alangkah baiknya pemrakarsa proyek mencari konsultan penyusun amdal yang lebih profesional…matur nuwun

    Like

  8. Maaf, saya juga mau kasih tanggapan ttg amdal.
    Ga ada yang mudah kalo semua mau dibuat benar dan apa adanya.
    Masalahnya ya di situ itu….kalo mau dibuat benar dan apa adanya… Berarti suatu tawaran, bukan kemutlakan, berarti lagi bisa ditawar, turun derajad menjadi pilihan ato bisa dipilih.
    Maaf lagi, kalo terus begini… apa nanti jadinya….?
    Siapapun yang mengerjakan seolah-olah pancen uangel… kenyataannya bahkan jauh lebih uangel..lagi dan nyaris mustahil mungkin kalo permintaannya adalah apa adanya.
    Demikian dan mohon diri.
    Terima kasih.

    Like

  9. bagaimana konsultan bisa bikin amdal yang berkualitas. semua pemrakarsa (perusahaan) maunya amdalnya cepat n murah. kalau sudah begitu jangan harap amdalnya berkualitas. ada amdal harga bagus tapi banyak habis untuk upeti oknum2 birokrat. kalao sudah begitu mana bisa konsultan ambil tenaga ahli berkualitas (tenaga ahli amdal dan tenaga ahli bidang kegiatan yang diamdalkan) buat nyusun amdal. saat ini uji kompetensi penyusun amdal sudah ada, terus tolok ukur untuk penilai amdal bagaimana, kompeten atau tidak sebagai penilai, karena masih banyak penilai amdal yang tidak ngerti substansi amdal. contohnya dampak terhadap pendapatan pemerintah daerah, relevankah itu dikaji di amdal?

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s