Kurangi Emisi Karbon, Jangan Lupa Sampah Styrofoam

Kompas, Minggu, 9 Maret 2008
JAKARTA, SABTU – Bahagia rasanya mendengar Java Festival Production (JFP), penyelenggara Jakarta International Java Jazz Festival (Java Jazz), tahun ini mengadakan aksi Fight Global Warming with Java Jazz Festival 2008: Don’t Just Watch, Do Something!, meskipun festival tersebut bukan acara lingkungan hidup.

Namun, sayang, sementara Conservation International (CI) Indonesia, The Nature Conservancy, dan WWF Indonesia, yang digandeng oleh JFP, berusaha mengajak para penonton Java Jazz 2008 untuk memerbaiki gaya hidup demi mengurangi emisi karbon, ada kegiatan-kegiatan lain yang tidak ramah lingkungan hidup di festival itu juga.

Dalam rangka memberi informasi kepada para penonton tentang betapa pentingnya mengurangi emisi karbon demi menyelamatkan Bumi dari global warming (pemanasan global) sehingga menjadi tempat hidup yang lebih baik, ketiga organisasi peduli lingkungan hidup tersebut membuka booth di arena Java Jazz 2008, yang digelar di Jakarta Convention Center (JCC), 7-9 Maret.

Di booth tersebut, Sabtu (8/3), Dian Sastrowardoyo, selaku Duta CI Indonesia,  membeberkan gaya hidupnya selama ini, termasuk bepergian ke mana-mana dengan menggunakan mobil pribadi. Dengan fasilitas penghitung emisi karbon, ia akhirnya mengetahui bahwa gaya hidupnya itu ternyata belum ramah lingkungan hidup dan ia sangat terkejut dibuatnya.

“Saya kaget sekali. Selama ini, saya pikir saya termasuk orang yang paling peduli terhadap lingkungan hidup. Tapi, ternyata, dengan gaya hidup saya, saya sudah menghasilkan tiga ton karbon dalam setahun dan itu sama dengan menebang sembilan pohon dalam setahun,” tutur Dian kepada para wartawan peliput Java Jazz 2008.

Namun, dengan apa yang disebutnya sebagai melakukan pengakuan dosa yang dibuatnya terhadap lingkungan hidup, ia sekaligus menjadi lega. Berarti, ia jadi bisa tahu bahwa ia harus memerbaiki gaya hidupnya untuk mengurangi emisi karbon dari kegiatan-kegiatannya.

Tapi, untuk mengurangi emisi karbon dengan tak bepergian naik mobil pribadi dan menukarnya dengan menumpang kendaraan bermotor untuk umum, bus Trans-Jakarta misalnya, ia masih merasa kesulitan. “Saya sering harus pergi ke beberapa tempat dalam sehari. Untuk menemukan tempat-tempat itu dengan pindah-pindah bus, apalagi belum tahu rute-rute bus, enggak gampang,” tuturnya lagi.

Dari booth yang sama, ia juga baru tahu bahwa bepergian dengan menumpang kendaraan bermotor pribadi milik teman, tetangga, atau keluarga, alias nebeng, ternyata membantu mengurangi emisi karbon. “Jadi, jangan malu-malu nebeng,” anjurnya sembari tersenyum manis. Di samping didirikan booth untuk aksi tersebut, di JCC disediakan tempat-tempat sampah organik, nonorganik, dan kertas.

Kata CEO dan Executive Director WWF Indonesia, Dr Mubariq Ahmad, di dunia internasional pemanfaatan ajang-ajang musik untuk mendukung aksi-aksi kemanusiaan dan lingkungan hidup sudah lazim. Contohnya, Live Aid, konser yang digelar oleh Bob Geldof pada 1985 untuk menggalang dana bantuan bagi para korban kelaparan di Etiopia.

Sayangnya, aksi pro-lingkungan hidup di Java Jazz 2008–entah disadari atau tidak oleh JFP–masih digembosi oleh kegiatan-kegiatan lain di festival itu. Contohnya, kalau kita membeli makanan di area penjualan makanan dan minuman khusus Java Jazz 2008, di pelataran parkir depan JCC, bahkan nasi gudeg pun disajikan dalam wadah styrofoam.

Tak ayal lagi, tiga hari Java Jazz 2008, 7-9 Maret, akan pula menghasilkan bertumpuk-tumpuk sampah wadah styrofoam bekas pakai. Padahal, “Butuh waktu 1.000 tahun sampai styrofoam terurai secara alami. Kalaupun styrofoam dihancurkan, itu membutuhkan teknologi tinggi dan mahal dan menghasilkan gas yang beracun,” terang Ir Bibong Widyarti–yang menggalakkan konsumsi bahan-bahan organik dan green lifestyle (gaya hidup ramah lingkungan hidup) lewat Rumah Organik, wadah yang didirikannya–ketika dihubungi oleh kompas.com. Akibatnya, akan semakin tinggi dan luaslah gunung sampah styrofoam bekas di Jakarta. Buntutnya, menggunung juga sampah styrofoam bekas di planet tempat kita hidup ini, yang kita pinjam dari anak dan cucu kita.

Tidak adakah pilihan lain yang dibikin oleh JVP untuk Java Jazz, yang diadakan cuma setahun sekali? Misalnya, menggandeng perusahaan-perusahaan besar, dengan program-program CSR (Corporate Social Responsibility) mereka, untuk mengalirkan dana demi tersedianya wadah dari bahan yang lebih ramah lingkungan hidup untuk menyajikan hidangan.

Bukankah, kata Dr Jatna Supriatna, Regional Vice President CI Indonesia, dalam pernyataan persnya, “Hanya dengan mengubah sedikit dari gaya hidup anda, anda akan bisa membawa dampak besar terhadap konservasi Bumi ini,”? Sayang kan kalau usaha untuk mengajak para penonton Java Jazz mengurangi emisi karbon ditimpa begitu saja oleh perbuatan nyata para penyedia hidangan dan penonton Java Jazz yang menghasilkan sampah styrofoam?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s