Sanitasi & Hari Air Sedunia

Tanggal 20 Maret ditetapkan sebagai Hari Hutan Sedunia. Sepatutnya Indonesia mendukung upaya pelestarian hutan tropis yang masih tersisa, dan menghutankan kembali yang sudah terlanjur gundul. Tapi kenyataanya, Pemerintah justru seolah “melegalkan” pembalakan hutan dengan menerbitkan PP no 2 tahun 2008.

Tanggal 22 Maret ditetapkan sebagai Hari Air Sedunia, Indonesia seolah dikutuk air dengan luasnya kawasan yang masih terendam banjir. Tahun 2008, ditetapkan sebagai Tahun Sanitasi Internasional, dengan harapan, negara-negara di dunia termasuk Indonesia memberikan prioritas tinggi untuk pembangunan sanitasi.

Kenyataannya, pembangunan sanitasi di Indonesia masih terseok-seok. Harian Kompas, bahkan mengingatkan bahwa sanitasi di Indonesia bagaikan bom waktu yang siap meledak, yang juga digambarkan bahwa Indonesia merupakan kakus terpanjang di dunia. Kondisi sanitasi Indonesia, terutama di kawasan perkotaan memang sudah pada taraf ancaman yang menakutkan.

Untuk memperingati Hari Air Sedunia, hari ini, 19 Maret 2008, Kompas menurunkan 4 tulisan sekaligus yang mengingatkan posisi Indonesia yang sangat jauh terbelakang dalam pembangunan sanitasi. Dalam kaitan itu keempat tulisan yang masing-masing ditulis oleh Brigita Isworo L: “Sanitasi Bom Waktu yang Terus Berdetik”; Elok Dyah Meswati: “Sanitasi Buruk, Ancaman Kehidupan”; kemudian dua tulisan oleh Sri Hartati Samhadi masing-masing “Terengah-engah Mengatasi Ketertinggalan”; dan ” Indonesia dan jamban Terpanjang di Dunia”, saya postingkan dalam “Articles”.

Semua tulisan itu saya copy dari harian Kompas, dengan harapan bisa menjadi peringatan bagi kita semua untuk mengambil langkah-langkah konkrit membangun sanitasi. Saya mengapresiasi harian Kompas yang menurunkan tulisan yang sangat menggugah. Semoga pihak-pihak lain, semua stakeholder juga tergugah untuk berbuat sesuatu mendorong pembangunan sanitasi yang layak di Indonesia.

2 thoughts on “Sanitasi & Hari Air Sedunia

  1. Untuk mengatasi sanitasi dasar khususnya jamban, pada saat ini telah ada pendekatan/ metoda community led total sanitation (CLTS, yaitu melalui pedekatan perubahan perilaku untuk meninggalkan kebiasaan buang air besar di tempat terbuka. Melalui pendekatan tersebut menimbulkan solidaritas masyarakat untuk menuju open defecation free (ODF).Melalui pendekatan tersebut justru harus tidak ada subsidi untuk membangun konstruksi jamban.
    Apabila semua pimpinan Pusat, Propinsi, Kabupaten mempunyai komitmen untuk melaksanakan total sanitasi tersebut dan didukung oleh semua pihak LSM, Swasta, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Elite, saya yakin masyarakat mampu mengatasi masalah sanitasi mereka.Bukankah kita punya modal budaya yang sangat luhur yaitu budaya gotong royong.

    Like

  2. Keprihatinan saya terhadap air muncul saat lewat daerah Ciawi. Ketika itu saya lihat ratusan truk yang membawa ribuan galon air yang hendak di kirim ke berbagai daerah. Mungkin dalam sebulan saja bisa mencapai jutaan galon. Kemudian muncul dalam benak saya pertanyaan, apakah suatu saat nanti sumber mata air di sana akan habis? Kalau habis, tentu akan dibor, untuk mencari sumber mata air yang lebih dalam.
    Lalu bagaimana dengan generasi masa depan? apakah akan tersisa air untuk mereka?
    Anehnya lagi, meski bisnis air di sana sangat menguntungkan, tetapi mengapa perusahaan air di sana tidak peduli dengan kondisi jalan yang rusak? ….menyedihkan, Mas Togar.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s