Mengelola “post power syndrome”

Begitu masuk kantor tadi pagi, saya sudah ditunggu oleh 3 orang warga yang ingin menyampaikan pengaduan. Saya kemudian mempersilahkan mereka bertiga masuk dan minta mereka menjelaskan maksud kedatangan mereka. Rekan mereka, yang juga teman saya, minggu lalu sudah memberitahu saya kalau mereka mau datang dan ingin diskusi masalah di lingkungan perumahannya.

Salah satu tetangga mereka menjadikan rumah tinggal menjadi studio radio siaran yang dilengkapi dengan menara pemancar yang cukup tinggi. Ketika hujan deras dan diiringi angin kencang beberapa waktu yang lalu, bagian ujung menara itu patah, dan menara itu sendiri menjadi miring. Karena itulah para tetangga merasa kawatir, kalau-kalau menara itu patah atau roboh dan menimpa rumah warga.

Dilapori hal itu, sebagai petugas, saya menerima laporan dan menjelaskan bahwa untuk konstruksi menara, maka yang berwenang memeriksa adalah dinas tata kota dan permukiman (DTKP) yang menerbitkan IMB. Kantor saya sudah berkordinasi dengan DTKP dan DTKP sudah menerbitkan surat agar sipemilik menara segera mengadakan kajian tentang kekuatan konstruksi menara itu.

Tetapi salah satu warga yang datang ketempat saya, yang kemudian katanya bernama Pak Willy, berbicara dengan nada yang menuduh dan sangat tidak sopan kepada saya dan staf yang hadir. Semula saya masih menahan diri, tapi cara bicara dan isi kata-katanya yang terus mendiskreditkan, membuat saya tidak bisa membiarkan perilakunya. Dia mengaku sebagai seorang yang sudah pensiun, dan minta keterangan tentang tugas-tugas apa yang sudah saya laksanakan untuk melayani warga.

Gaya bicara yang seakan menuduh itu membuat saya merasa tidak enak dan bahkan sempat mengatakan bahwa dia tidak pada tempatnya berkata seperti itu. Saya menambahkan bahwa saya tidak akan meladeni pengaduannya kalau dia tidak berbicara secara wajar. Akhirnya rekannya meminta Pak Willy meninggalkan kami. Saya kemudian menjelaskan apa yang dapat saya lakukan untuk membantu mengatasi permasalahan mereka.

Seorang tamu saya yang lain rupanya mendengar perdebatan kami yang sengit. Dan kemudian tamu itu mengatakan bahwa mungkin Pak Willy itu sedang menghadapi “post power syndrome“. Setelah pikir-pikir, saya kemudian bisa menerima ungkapan itu, mungkin Pak Willy memang sedang bingung karena setelah pensiun kurang mendapat perhatian. Saya belum bisa membayangkan seperti apa “post power syndrome” bagi seorang yang semula punya “power”, namun karena pensiun, “power”nya kemudian hilang.

Barangkali amat berharga mempelajari fenomena itu, sehingga bila saatnya tiba, menghadapi masa pensiun, tidak perlu kebingungan.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s