Forum Kerukunan Umat Beragama Surabaya tanam pohon

Sejumlah organisasi keagamaan antara lain Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jatim, Forum Lintas Agama (FLA) Surabaya, Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jatim, Keuskupan Surabaya, Masjid Al-Akbar Surabaya (MAS), Majelis Pandita Budha Maitreya Indonesia (Mapanbumi), Muhammadiyah Jatim, Niciren Syosu Indonesia, TITD (Tempat Ibadah Tri Dharma) Gresik serta sejumlah ormas seperti Indonesia Vegetarian Society, Perhimpunan Tionghoa Indonesia (INTI) cabang Jawa Timur, secara bersama-sama melakukan penanaman pohon di Surabaya.

Kegiatan ini diprakarsai terutama oleh Perwakilan Umat Budha Indonesia (Walubi) cabang Surabaya dengan didukung oleh sejumlah organisasi keagamaan dan pengusaha melakukan penanaman pohon bersama Walikota Surabaya Minggu 30 Maret 2008 di jalan Kupang Indah Surabaya. Kegiatan ini dilandasi dari kepedulian tokoh-tokoh agama di Surabaya untuk ikut melindungi dan melestarikan lingkungan hidup. Tidak kurang dari 300 pohon trembesi dengan diameter 4-5 cm disumbangkan dan ditanam oleh forum.

Prof. Dr. Philip K. Widjaja selaku kordinator kegiatan mengatakan bahwa keinginan penanaman pohon ini didasari kepedulian terhadap fenomena pemanasan global yang saat ini dihadapi. Selain itu, dengan kegiatan ini sekaligus dapat mempererat komunikasi antar umat beragama di Surabaya. Walikota berharap bahwa komunikasi antar umat beragama akan lebih cair dengan melakukan kegiatan pohon. Sehingga dengan komunikasi yang baik, hal-hal yang sensitif bisa dihindari dan dikomunikasikan.

Kegiatan yang dilakukan pada hari Minggu pagi itu akan dilanjutkan dengan kegiatan berikutnya dengan meilih lokasi yang lebih luas dan mengikutsertakan peserta yang lebih besar. Beberapa peserta yang ikut dalam kegiatan tersebut berantusias menjadi kader lingkungan. Prof. Philip yang juga ketua Walubi Jatim mengharapkan lebih banyak lagi warga yang terlibat untuk menanam pohon di Surabaya.

2 thoughts on “Forum Kerukunan Umat Beragama Surabaya tanam pohon

  1. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang berasaskan Pancasila, setiap umat beragama diharapkan mempunyai rasa toleransinya, sikap saling menghargai satu sama lain. Perbuatan kita hendaknya dilakukan atas dasar Cinta Kasih bukan kekerasan atau kekejaman, bukan irihati. Kita harus tetap teguh menghadapi segala macam godaan, tidak mudah diombang-ambingkan oleh emosi, perasaan benci, dan dendam.

    Dalam toleransi Sakyamuni Buddha telah dilaksanakan oleh Raja Asoka Wardhana (300 SM – 232 SM) seorang raja Buddhis, Raja Asoka telah mendekritkan toleransi umat beragama yang pertama di dunia, yaitu :

    ” Bilamana kita menghormati agama kita sendiri, janganlah kita mencemoh dan menghina agama lainnya, Seharusnya kita menghargai pula agama-agama lainnya. Dengan demikian agama kita akan jadi berkembang, disamping itu kita juga memberikan bantuan bagi agama-agama lainnya.

    Siapa yang menghormati agamanya sendiri tetapi menghina agama-agama lainnya dengan pikiran bahwa dengan berbuat demikian ia merasa telah melakukan hal-hal yang baik bagi agamanya sendiri maka sebaliknya hal ini akan memberikan pukulan kepada agamanya dengan serius.

    Dalam Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular, seorang pujangga pada jaman Majapahit ketika berada dibawah pemerintahan Raya Hayam Wuruk (1350 – 1389) terdapat pula ajaran toleransi: “Ciwa Buddha Bhinneka Tunggal Ika Tanhana Dharma Mangrawa” yang berarti ” Ciwa dan Buddha adalah sama, tak ada kebenaran yang mendua “

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s