Buku geografi pak Tarigan

Kemarin, ketika sedang leyeh-leyeh di kamar sepulang dari kantor, pintu kamar diketuk dari luar, Ayu, “house keeping” kami, memberi tahu kalau ada tamu. Ternyata tamunya adalah Agustinus, anak tetangga depan rumah ibu saya di Tg. Morawa. Beberapa waktu lalu, ibu saya memang sudah telpon, kalau anak tetangga kami akan datang ke rumah, untuk nginap dirumah saya selama beberapa hari, sementara dia ikut tes PNS di Surabaya. Tentu saja saya mengiyakan.

Sesungguhnya meski Agus anak tetangga, saya sudah tidak mengenalinya, sebab sewaktu saya melanjutkan sekolah, setamat SMA, Agus dan keluarganya belum tinggal di depan rumah kami. Saya tidak ingat persis kapan mereka mulai tinggal didepan rumah. Kalaupun saya “pulang kampung” sesekali waktu, saya tidak sempat mampir ke rumah mereka.

Singkat cerita, akhirnya saya, Agus dan Adong, ngobrol ngalor ngidul tentang Tg. Morawa, terutama ketika saya masih SMP. Ternyata, saya dan Agus berasal dari SMP yang sama, yaitu SMP “Bersubsidi” Tg. Morawa. Obrolan tentang SMP itu mengingatkan saya ketika saya di kelas 1 SMP tahun 1973. Ada pengalaman yang sampai sekarang tidak bisa saya lupakan. Ceritanya seperti dibawah ini.

Saya masuk kelas I SMP dengan keadaan ibu yang sering sakit, Ibu saya sakit hampir 2 tahun. Kalau kambuh, dia hanya bisa tergeletak ditempat tidur. Saya tidak tau apa penyakit ibu, tapi karena ibu sering sakit, keadaan keuangan keluarga kami hancur-hancuran, sehingga untuk membeli buku-buku sekolah sudah agak sulit. Buku-buku sekolah harus dibeli melalui guru. Pada waktu itu memang masih sulit mencari buku pelajaran SMP di Tg. Morawa. Saya tidak berani meminta uang kepada bapak maupun ibu untuk membeli buku pelajaran. Karena saya tau pada saat itu kondisi keuangan keluarga kami sangat sulit.

Akan tetapi ada seorang guru, Pak Tarigan, yang mengajar geografi, yang memaksa semua murid harus membeli buku paket dari dia. Berkali-kali Pak Tarigan menyuruh kami murid kelas I/C untuk membeli buku darinya, Pak Tarigan mengharuskan semua murid untuk memiliki buku. Teman-teman semua sudah membeli, tinggal saya saja yang belum. Pak Tarigan menanyai saya kenapa belum beli bukunya. Saya tidak menjawab alasan yang sebenarnya mengapa tidak membeli buku.

Akhirnya Pak Tarigan berkata:

“Kalau kamu tidak mau beli buku, maka kamu harus menyalin buku cetakan ini kedalam buku tulis. Pinjam buku temanmu dan saya tidak mau melihat kamu tidak punya buku”.

Mungkin dia mengira saya sudah menerima uang dari orang tua, tapi dipakai untuk yang lain. Saya diam saja. Tentu saja merupakan pekerjaan yang berat sekali kalau saya harus menyalin seluruh isi buku cetakan itu. Saya punya teman Baik Sitepu namanya, dia meminjami bukunya untuk saya salin. Saya tidak bisa meminjam sepanjang minggu karena Baik Sitepu juga memerlukan buku itu untuk dipelajari.

Seminggu kemudian, Pak Tarigan masuk kelas mengajar geografi. Pak Tarigan memanggil saya kedepan kelas untuk memeriksa salinan buku geografi. Saya hanya menyalin beberapa lembar. Melihat itu Pak Tarigan marah besar.
“Kamu sudah saya kasi keringanan tidak beli buku, tapi juga tidak menyalin. Apa kamu bisa belajar tanpa buku!”.
“Plaaak !”, tiba-tiba Pak Tarigan menempeleng pipi saya dengan keras.
“Sana kamu, kembali ketempat duduk !!”.
Saya sangat kaget dan tak menyangka akan ditempeleng seperti itu. Saya kembali ketempat duduk, lalu air mata mulai menetes. Kejadian itu tidak pernah terlupakan sampai kini. Buku itu tidak pernah selesai saya salin. Setelah itu Pak Tarigan tidak pernah lagi menanyai tentang buku salinan itu. Sayangnya saya tidak menyimpan buku salinan itu sebagai kenang-kenangan hadiah tempeleng dari Pak Tarigan.

Waktu itu, mesin fotocopy belum ada di Tg. Morawa.

2 thoughts on “Buku geografi pak Tarigan

  1. wah……..emang itu guru eografi asli atau palsu? jangan2 gurunya tamat dari ikip medan lagi? tapi sekarang uda nggak benci lagi kan ama guru geografinya? soalnya saya juga sempat ngajar geografi di kampung? salam ia untuk guru2 geografi……….

    Like

  2. Sebagai alumni Geografy IKIP MEDAN saya prihatin kalau ada guru
    Geografy yg kasar seperti itu. Belajar geografy itu asyik kalau gurunya
    Kreatif mengajarnya. Sayangnya saya tidak menjadi guru.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s