Paramida, jalan-jalan di Ulsan

Ketika menunggu di airport Incheon, berulangkali terdengar dari pengeras suara, kata “paramida”… paramida.. (mungkin saya keliru mengeja), maka Hendro bilang, “Lho, Cici Paramida kan tidak ikut, kok dipanggil terus..”. Ternyata kata paramida berarti terimakasih dalam bahasa Korea. Saya tidak ngerti sepatahpun bahasa Korea, jadi mendengar kata paramida, yang saya ingat adalah Cici Paramida, penyanyi yang merdu suaranya.

Kata paramida, masih terus saya dengar selama berada di Ulsan, Korea, kota yang dapat ditempuh selama kurang lebih 55 menit dengan penerbangan dari bandara Incheon, Seoul. Kota ini juga bisa ditempuh dengan bis, selama 5 jam. Itu berarti, kalau kira-kira dihitung, kecepatan bis rata-rata mencapai 150 kilometer perjam. Suatu kecepatan yang sangat tinggi. Waktu tempuh 5 jam itu dibenarkan oleh seorang penterjemah yang saya temui di Ulsan. Dia datang ke Ulsan dari Seoul dengan bis dan katanya cuma 5 jam perjalanan.

Sepintas terlihat, kota Ulsan sudah cukup modern, hampir sama dengan kota-kota di Jepang. Itu terlihat sewaktu perjalanan dari bandara ke hotel Hyundai di kawasan pelabuhan Ulsan. Jalan-jalan sangat lebar, dan terdapat banyak apartemen bertingkat serta banyak gedung-gedung yang cukup bagus.  Memasuki bulan April, adalah musim semi, sehingga sepanjang jalan, bunga-bunga mekar dengan indah.  Taman kota dihiasi bunga-bunga aneka warna dan beragam jenis. Masih terlihat sisa-sisa “cherry blossom”, yaitu jenis bunga sakura di Jepang. Kota ini memang tidak terlalu jauh dari Jepang, dipisahkan oleh selat yang menghubungkan Korea dengan Jepang.

Karena begitu capek menempuh perjalanan dari Surabaya ke Ulsan, maka begitu masuk kamar hotel, saya langsung tidur, untuk mengembalikan kelelahan.  Berangkat dari Surabaya jam 5 sore dan kemudia bertolak dari Cengkareng jam 10 malam, tiba di Seoul sudah pagi jam 7. Kemudian jam 10 pagi terbang lagi ke Ulsan selama kira-kira 50 menit. Soalnya selama perjalanan dari Surabaya-Cengkareng-Seoul-Ulsan, saya hampir tidak bisa tidur. Keesokan harinya harus ikut acara yang dimulai jam 9 pagi, jadi saya ingin memanfaatkan waktu untuk tidur.

Begitu terbangun   sudah jam 2 siang, dan perut sudah terasa lapar, kami bertiga, saya Risma dan Hendro cari tempat makan, dan pilihannya adalah restoran umum yang ada dimana-mana, McDonald. Setelah itu jalan kesekitar hotel melihat-lihat keadaan kota. Ternyata di Ulsan pun ada juga pedagang kaki-lima, yang menjual aneka jenis kebutuhan sehari-hari.

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s