Tanaman pagar mengembalikan "kepemilikan" publik.

Kota dirancang untuk dihuni dan dinikmati semua warganya. Di kota orang bisa beraktifitas sekaligus menikmati kehidupan. Pebisnis menjalankan usahanya dengan hasil baik, anak sekolah bisa belajar dengan tenang, sementara ibu rumah tangga dapat bercengkerama dengan tetangga. Warga senior bercanda menikmati hari tua. Kota tidak hanya untuk tempat berusaha, tapi ia juga menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali. Itulah hakikat sebuah kota yang diinginkan oleh warga.

Tapi seringkali banyak orang lupa, entah karena terlalu fokus pada satu hal, atau karena terlalu banyak persoalan kota, maka perkembangan kota di Indonesia seringkali berjalan ke arah yang berbeda dari keinginan diatas. Banyak kota yang kemudian berkembang menjadi tidak jelas. Tuntutan persaingan yang sangat ketat menjadikan setiap tempat digunakan semaksimal mungkin. Pebisnis memang dapat berusaha, namun ketika pebisnis dan warga membutuhkan ruang terbuka di pusat kota untuk mencari udara segar, ternyata tidak ada lagi tempat yang memadai.
Padahal pusat kota selain untuk kegiatan usaha, juga adalah ruang bagi manusia untuk saling berbagi.

Rupanya itulah yang mulai difahami, ketika pagar pembatas Gedung Balai Pemuda Surabaya, dirubah menjadi barisan tanaman dan bunga. Gedung yang tepat di jantung kota itu selama ini dibatasi pagar beton, yang seolah menjauhkan orang untuk menikmati keindahannya. Sekarang, pagar beton sudah dibongkar, digantikan dengan warna-warni bunga yang menghiasi pembatas pekarangan itu. Suasana kaku bangunan, dicairkan oleh keindahan bunga-bunga yang bermekaran.

Tapi tidak Surabaya namanya, kalau tidak ada kontra terhadap pergantian pagar beton menjadi tanaman. Sebagian orang mencemooh pergantian itu dengan berbagai alasan. Ada yang mengkuatirkan keamanan Gedung Balai Pemuda yang sekarang sudah tidak berpagar beton itu.

“Bagaimana kalau orang jahil masuk ke halaman gedung yang tidak berpagar ?”. Yang lain mengomentari, kalau tanaman dan rumputnya akan sia-sia, karena nantinya bisa diinjak-injak orang dan mati.

Padahal kedua kekuatiran itu justru diuji akan akan dijawab dengan pergantian pagar. Dengan “tanpa pagar”, bangunan publik itu diharapkan akan dijaga oleh publik. Diamankan oleh warga kota. Perubahan pagar beton menjadi tanaman sekaligus merupakan sarana untuk mengajak warga kota untuk bersama menjaga keindahan dan kerapihan kotanya. Proses pergantian pagar itu sesungguhnya merupakan wadah untuk mengembalikan rasa kepemilikan warga kota terhadap fasilitas kotanya. Bukankah dijaman dahulu bangunan-bangunan dan rumah tidak berpagar. Justru pagarlah yang telah menjauhkan orang dari “kepemilikan” terhadap fasilitas publik. Pagar menjauhkan orang dari tetangga. Mengapa sekarang orang terlalu takut, kalau bangunan tidak berpagar.

Perubahan pagar pembatas Balai Pemuda itu semoga mengembalikan rasa kepemilikan bersama terhadap fasilitas publik. Dengan rasa kepemilikan bersama oleh warga kota, maka warga juga akan ikut menjaga keamanan fasilitas pubik.

3 thoughts on “Tanaman pagar mengembalikan "kepemilikan" publik.

  1. Maaf mas Hadi, sekarang ini, saya tidak dalam kapasitas cukup untuk menjawab pertanyaan ini. Secara teknis itu bukan kewenangan saya, artinya pertanyaanya salah alamat ke saya.

    Like

  2. Pak Togar, berhubungan dengan Tanaman Pagar, saya ingin tahu apa tanaman yang bagus untuk pagar yang bisa meredam kebisingan, gangguan yang baik untuk sekolah? Sekolah kami ada didekat keramaian pasar dan puskesmas.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s