Biofuel di Indonesia, jalan ditempat ?

Perkembangan biofuel di Indonesia kelihatannya masih belum menggembirakan. Padahal para ekonom meramalkan, harga minyak bumi bisa mencapai US$ 200 di pasaran Internasional. Para pengambil keputusan di negeri ini sudah pusing tujuh keliling karena tingginya harga minyak bumi. Dengan perkembangan minyak bumi seperti itu, seharusnya pemanfaatan biofuel dipacu lebih giat lagi.

Tapi itulah Indonesia, kalau sudah hampir mampus, baru bergerak untuk memberikan perhatian serius terhadap biofuel. Padahal potensi pengembangan biofuel di Indonesia sangat besar. Algae sangat mungkin dikembangkan di Indonesia, karena Indonesia kaya akan panas matahari yang diperlukan untuk perkembang biakan algae. Walaupun pengembangan Algae membutuhkan biaya yang cukup tinggi, tapi Indonesia bisa mengembangkan teknologinya, tanpa harus mengimpor teknologi algae dari negara maju.

Pemanfaatan jagung untuk memproduksi etanol (biofuel), nampaknya belum perlu, karena lebih baik memanfaatkan jagung untuk bahan pangan. Potensi biofuel yang juga cukup besar adalah pemanfaatan tebu untuk memproduksi etanol. Selain itu, sumber lain yang tentu sangat besar adalah kelapa sawit.

Ketiga bahan baku sawit, jagung, maupun tebu, bila dimanfaatkan untuk produksi biofuel, akan mempunyai dampak terhadap pemanfaatan lain. Sawit selama ini digunakan untuk memproduksi minyak goreng. Bila sawit digunakan secara besar-besaran untuk produksi etanol, bukan tidak mungkin akan mengganggu pasokan CPO, bahan baku minyak goreng. Belum lagi kalau spekulan ikut bermain mengganggu keberadaan sawit dan CPO.

Pemanfaatan jagung untuk etanol di Indonesia, akan membawa dampak bagi pasar jagung untuk bahan pangan. Sama halnya sawit, kalau jagung digunakan secara massal untuk memproduksi biofuel, maka harga jagung bisa tidak karuan. Begitu juga pemanfaatan tebu untuk etanol, bisa berdampak pada pasokan gula dipasaran.
Apakah karena mempertimbangkan ketiga hal diatas, maka pengembangan biofuel jalan ditempat?. Pemerintahan SBY mungkin bingung untuk memutuskan pilihan mana yang akan diambil. Disatu sisi, subsidi BBM terus membengkak, karena kenaikan harga minyak dunia. Tapi namanya pimpinan pemerintahan, ya harus mengambil keputusan. Tidak bisa cuma berdiskusi menganalisa tapi tidak mengambil tindakan nyata. Pengembangan biofuel harus dijalankan, pilihan harus diambil dengan resiko yang paling kecil.

4 thoughts on “Biofuel di Indonesia, jalan ditempat ?

  1. Pemanfaatan jagung untuk biofuel di US, manyebabkan banyak lahan yang tadinya ditanami kedelai berubah jadi ladang jagung.. ini diantaranya yg menyebabkan harga kedelai di pasaran Indonesia menjadi mahal. Nampaknya harus kembali digalakan program swasembada produk pertanian.

    Like

  2. Bahan bakar nabati (BBN), dalam bentuk bioetanol dan biodisel, menjadi secercah harapan baru bagi pemerintah untuk meningkatkan devisa, menciptakan lapangan kerja baru serta membantu mengurangi angka kemiskinan. Pemanfaatan BBN juga diharapkan mengurangi pencemaran udara serta menciptakan kemandirian energi dengan mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak bumi.

    Harapan ini tentu beralasan mengingat sumberdaya alam Indonesia sangat potensial untuk pengembangan BBN. Disamping itu, permintaan pasar internasional terhadap BBN selama beberapa tahun terakhir juga meningkat tajam. Berdasarkan laporan yang dirilis analis pasar Emerging Market Online pada bulan Oktober dua tahun lalu, produksi biodisel dunia meningkat dari 1000 juta liter pada tahun 2001 menjadi 3500 juta liter pada tahun 2005, artinya terjadi pertumbuhan produksi lebih dari 35 persen per tahun. Pertumbuhan ini diperkirakan akan terus berlanjut. Apalagi bulan Maret 2008 Uni Eropa telah mencanangkan target peningkatan porsi BBN hingga 10 persen untuk sektor transportasi pada tahun 2020. Trend peningkatan kebutuhan BBN juga ditandai dengan rencana pemerintah Amerika Serikat untuk meningkatkan produksi bioetanol hingga 5 kali lipat pada tahun 2017.

    Namun, di tengah harapan cerah tersebut, program BBN juga menyimpan sejumlah potensi bencana yang serius. Setidaknya ada tiga bencana atau kegagalan yang harus diwaspadai, yaitu kerusakan hutan, kelangkaan pangan dan kegagalan menciptakan pasar domestik.

    Kerusakan hutan

    Dua alternatif sumber biodisel yang paling prospesktif untuk Indonesia saat ini adalah minyak kelapa sawit dan jarak pagar. Namun biodisel dari minyak kelapa sawit, atau yang lebih dikenal dengan CPO (crude palm oil), diperkirakan akan lebih diminati para investor. Alasannya, industri di Indonesia telah memiliki pengalaman dalam bidang ini. Minyak kelapa sawit juga dianggap lebih ekonomis. Setiap hektar kebun kelapa sawit mampu menghasilkan 5 ton minyak nabati per tahun, atau setara dengan tiga kali jumlah produksi minyak dari tanaman jarak pagar untuk luas lahan dan jangka waktu yang sama. Di sisi lain, produksi biodisel dari minyak jarak pagar membutuhkan waktu yang lebih lama untuk penyiapan teknologi serta standardisasi produk dan pengolahan sebelum bisa masuk ke pasaran.

    Yang mengkhawatirkan adalah bahwa pemanfaatan CPO untuk biodisel ini akan menyebabkan kerusakan hutan akibat konversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Sejumlah aktifis lingkungan memperkirakan industri biodisel di Indonesia akan mengulangi kesalahan seperti yang telah dilakukan oleh industri pulp dan kertas selama ini dalam memberikan andil terhadap kerusakan hutan. Laporan Friend of Earth tahun lalu menyebutkan antara tahun 1985 hingga 2000, 4 juta hektar hutan telah diubah menjadi lahan kelapa sawit di Sumatera dan Kalimantan, sementara 16.5 juta hektar yang lain akan segera menyusul.

    Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa konversi hutan tropis menjadi lahan perkebunan, industri kayu dan pembangunan infrastruktur menyumbang 10-30 persen dari emisi gas rumah kaca dunia (Majalah Nature, 2001). Konversi hutan menjadi perkebunan monokultur juga mengancam keanekaragaman hayati. Dengan demikian, alih-alih menurunkan emisi karbon, program BBN dengan pembukaan hutan justeru memperparah permasalahan yang telah ada.

    Persaingan pangan dan energi

    Program BBN juga diperkirakan akan menyebakan naiknya harga komoditi pertanian tertentu, yang akhirnya berdampak pada meningkatnya harga produk pangan yang berbahan baku komoditi tersebut. Sebagai contoh, program etanol di Amerika Serikat diyakini sebagai penyebab meroketnya harga komoditi jagung di negara tersebut hingga dua kali lipat dalam satu tahun terakhir. Dengan demikian sangat beralasan jika pemanfaatan biodisel dari minyak kelapa sawit dan bioetanol dari tebu dikhawatirkan juga akan berpengaruh langsung terhadap harga dua bahan kebutuhan pokok, yaitu minyak goreng dan gula.

    Persoalan akan bertambah serius jika program BBN juga menyebabkan konversi besar-besaran tanaman pangan menjadi tanaman penghasil BBN. Hal ini jelas mengancam ketahanan pangan nasional. Apalagi hingga kini target peningkatan produksi pangan, khususnya beras, masih belum tercapai sepenuhnya. Jika ini menjadi kenyataan maka yang diperkirakan menjadi korban paling menderita adalah masyarakat miskin, khususnya yang tinggal di perkotaan. Kondisi seperti ini tentu kontradiktif dengan harapan pemerintah agar program BBN bisa mengurangi angka kemiskinan.

    Kegagalan pasar domestik

    Ancaman yang ketiga adalah kegagalan dalam menciptakan pasar domestik. Jika ancaman tersebut terwujud, maka program BBN hanya akan menjadikan bangsa Indonesia sebagai pelayan energi bagi negara-negara industri. Hal ini bisa saja terjadi jika permintaan pasar internasional tinggi sementara pada saat yang sama pasar domestik dianggap tidak menarik. Kekhawatiran ini rupanya mulai menjadi kenyataan, karena alasan tersebut sebuah perusahaan biodisel di bawah kelompok Sinar Mas saat ini lebih tertarik untuk membuka pabrik biodisel di Eropa ketimbang di dalam negeri. Bahkan saat ini sudah ada industri biodisel di Sumetara Utara yang terpaksa berhenti beroperasi karena alasan yang serupa. Sungguh disayangkan jika industri BBN dalam negeri kelak hanya mampu mengandalkan ekspor produk mentah, seperti CPO misalnya. Artinya, tidak banyak nilai tambah yang dihasilkan oleh industri tersebut.

    Pasar domestik juga tidak akan terwujud jika industri BBN dalam negeri dan pemerintah gagal menyediakan infrastruktur penunjang yang dibutuhkan. Kendati BBN dan BBM sama-sama bahan bakar cair, sifat BBN yang hygroscopic (menyerap uap air) menuntut infrastruktur pendistribusian yang khusus, baik dalam tempat penyimpanan maupun cara penanganan, untuk menjaga kualitas produk selama proses distribusi.

    Kebijakan yang tepat

    Untuk menghindari ketiga bencana tersebut dibutuhkan kebijakan yang jelas dan tepat dari pemerintah khususnya terkait dengan penggunaan lahan untuk industri BBN. Program BBN seyogyanya diletakkan dalam kerangka pembangunan yang berkelanjutan serta berorientasi pada kemandirian bangsa dan bukan didasari oleh keutungan ekonomi jangka pendek.

    Like

  3. intinya adalah bagaimana pemerintah bisa mengatur kesimbangan anatara ketersediaan pangan yang cukup bagi rakyatnya dan pengembangan BBN. karena percuma saja bila BBN bisa berkemabng pesat namun sulit pangan. dan yang mamapu untuk mengatur semuanya itu adalah presiden sebagai pemegang kebijaksaan. banyak yang bisa diambil pelajaran dari negara pneghasil bioetanol seperti Brazilia

    Like

  4. masalah Indonesia kini sudah kompleks sekali. lengakap dengan penderitaannya sekarang. Di saat isu BBM naik, kita langsung bergerak cepat ke BIODIESEL dan serius didalamnya. Salah satunya dengan adanya konversi jagung/kelapa sawit menjadi alternatif bahan bakar. BBm tentu membuat polusi yang parah. Dan selama ini, BIODIESEL/BIOFUEL dianggap solusi yang signifikan.

    Tetapi, ketika kita dihadapkan dengan isu KELAPARAN yang terus kian merebak??
    Tentu kelaparan di Indonesia memang parah, tetapi tidak separah di Afrika, Mozambique, Ethiopia, dll.

    “Nah, sementara kita sedang gencar2nya menggunakan JAGUNG untuk BIOFUEL/BIODIESEL guna pengganti BBM, otomatis kita membutuhkan JAGUNG yang lebih banyak.. dilain pihak JAGUNG sangatlah digunakan sebagai makanan pokok mereka -negara2 kelaparan: Ethiopia, dll- sementara kita terus saja membutuhkannya..

    Bagaimana dengan negara besar seperi Amerika yang membutuhkan jagung melambung 200% untuk konversi menjadi ETANOL mereka..

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s