Jalan tol bandara Cengkareng banjir lagi

Untuk kesekian kalinya jalan tol ke bandara Cengkareng tergenang akibat banjir pasang. Jalan tol lumpuh selama setengah hari lebih, sejumlah penerbangan tertunda dan terlambat. Kerugian ekonomis belum dihitung, akibat pasang tersebut, tapi diperkirakan cukup besar.

Banjir jalan tol Sediatmo, Kamis 8 Mei 2008, mengakibatkan lalu lintas ke bandara kacau. Harian Kompas tidak menjelaskan apa yang menyebabkan banjir, namun berdasarkan informasi lain, banjir diakibatkan gelombang pasang yang menghantam tanggul hingga jebol. Kejadian air pasang yang melanda Jakarta, sebenarnya sudah diperkirakan oleh banyak ahli. Sudah jelas gelombang pasang yang tidak hanya terjadi di Cengkareng, tetapi juga di Pantura termasuk Surabaya dan Sidoarjo. Di Sidoarjo ratusan hektar tambak ikan yang hampir panen hancur, petani rugi.

Gelombang pasang yang melanda Jakarta dan pulau Jawa adalah bagian dari fenomena perubahan iklim yang diakibatkan oleh pemanasan global. Berbagai penjelasan mengenai perubahan iklim sudah banyak diinformasikan oleh sejumlah pihak. Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KNLH) sudah sering mensosialisasikan kemungkinan tergenangnya Jakarta oleh gelombang pasang. KNLH sudah berkali-kali merilis simulasi yang dikembangkan oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) tentang perkiraan genangan yang bakal timbul melanda Jakarta. Gambar dibawah meperlihatkan hasil simulasi ITB tentang kondisi Jakarta pada tahun 2003 dan 2050, sebagai akibat perubahan iklim.

slide1.JPGslide2.JPG

Kalau diperhatikan ilustrasi yang dibuat oleh ITB tersebut diatas, jelas pada tahun 2050, kondisi genangan air pasang di Jakarta sudah sedemikian luas. Simulasi yang dibuat ITB, sebenarnya menggambarkan pertambahan luas genangan setiap tahun. Demi alasan teknis, yang dimuat disini hanya dua gambar (maaf, kualitasnya kurang bagus). Berdasarkan simulasi ITB itu, genangan Jakarta setiap tahun bertambah luas.

Anehnya meski berbagai kalangan ilmiah memberikan penjelasan tentang fenomena perubahan iklim, pihak Meteorologi seringkali mengatakan bahwa gelombang pasang adalah hal yang biasa. Kepala BMG Surabaya, malahan menyalahkan penduduk yang tinggal di tepi pantai Kenjeran, Surabaya, ketika sejumlah rumah rusak dihantam gelombang pasang minggu ini. Menurut kepala BMG tersebut, air pasang sudah sering terjadi, dan daratan Surabaya berada dataran rendah. Yang tidak diperhatikan oleh pejabat BMG adalah bahwa kejadian gelombang pasang, kuantitasnya menjadi semakin besar dan semakin meluas di Pantura dari waktu ke waktu.

Berkali-kali banjir di Jakarta, oleh BMG dianggap hanya sekedar pasang biasa, bukan karena perubahan iklim. Nampaknya informasi dari berbagai pihak tidak cukup untuk meyakinkanpihak BMG. Sekali waktu BMG mungkin harus konsultasi ke IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change), baru yakin bahwa kejadian pasang, anomali hujan bukan sekedar perubahan cuaca biasa.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s