Pesona hutan mangrove di Suwung

Sebelum menuju Taman Nasional Bali Barat, pagi harinya kami mengunjungi Mangrove Information Center (MIC) di dekat kawasan Bandara Ngurah Rai, Bali. Hutan mangrove di MIC memiliki koleksi aneka jenis mangrove, dan melintas di antara pohon bakau, merupakan pengalaman tersendiri di Bali.

Begitu mendarat di bandara Ngurah Rai sekitar jam 9 pagi, kami langsung menuju MIC, yang merupakan suatu kawasan hutan bakau yang dilestarikan dan dirancang cukup baik. Perjalanan dari bandara ke MIC dikawasan Suwung, tidak lebih dari 10 menit, itupun karena lalulintas di kawasan bandara dan sekitarnya agak macet pada pagi hari. Kami diterima langsung oleh Kepala MIC dan langsung diajak ke ruang kerjanya untuk sekedar bertegur sapa (say hello). Kepala MIC menjelaskan panjang lebar tentang MIC mulai dari awal pengelolaanya sampai sekarang.

Dari penjelasan itulah saya tau, bahwa hutan mangrove di Indonesia, merupakan yang terluas di dunia. Sayangnya, sebagian besar mangrove Indonesia sudah mengalami kerusakan. Karena itulah MIC dibangun untuk mempertahankan hutan mangrove Indonesia. Kawasan MIC sendiri tadinya banyak yang sudah rusak, sebagian karena terkikis tapi juga karena digunakan untuk tambak ikan secara tidak benar. Karena kemudian, tambak ikan dikawasan Suwung tidak menguntungkan, para petani menyerahkan lahan tambak untuk ditanami mangrove.

Setelah mendapat penjelasan tentang MIC, kami melanjutkan dengan menjelajahi hutan mangrove Suwung. Langkah dimulai dari museum mangrove yang ada di MIC. Di museum ini disimpan berbagai jenis dokumentasi tentang mangrove berupa buku, diorama bahkan berbagai jenis tanaman mangrove yang hidup. Museum yang meski tidak terlalu luas, tetapi cukup apik penataannya dan sangat informatif. Selanjutnya kami menuju tempat pembibitan mangrove diluar gedung museum dan gedung MIC. Di lahan seluas kurang lebih 2500 meter persegi sejumlah bibit mangrove sedang bertumbuh dari ukuran yang kecil, sampai yang siap ditanam di pantai. Pembibitan ini juga mensuplai beberapa pihak yang membutuhkan bibit mangrove.

Bersebelahan dengan lahan pembibitan adalah pintu masuk ke hutan mangrove. Jalan masuk selebar kurang lebih 3 meter terbuat dari rabatan beton. Di pintu masuk, terdapat papan informasi yang menjelaskan data-data hutan mangrove Suwung, jenis-jenis mangrove yang terdapat disana dan gambar bunga mangrove yang sangat cantik. Di kiri-kanan jalan beton ditumbuhi mangrove yang cukup rapat, sehingga sulit rasanya bagi orang melewati pohon-pohon itu karena kerapatan tumbuhan dimana akar-akar mangrove sukup banyak menancap ke lumpur.

Jalan beton berakhir dengan jembatan kayu yang mengelilingi sebagian hutan mangrove Suwung. Panjang total jembatan kayu sekitar 3 kilometer, dibangun sebagai akses bagi pengunjung yang ingin menikmati kerimbunan hutan. Dibagian tengah hutan, terdapat menara yang cukup tinggi yang dibuat dari konstruksi kayu. Dari ketinggian menara, kita bisa menikmati pemandangan hutan mangrove dan di kejauhan terlihat kawasan pelabuhan Benoa.

Dibibir pantai, dibangun suatu tempat peristirahatan dari kayu. Dari bangunan yang berada diatas permukaan air ini, pengunjung dapat melihat pelabuhan Benoa dikejauhan. Suasana ditempat bangunan ini sangat mempesona, pemandangan laut dari tengah-tengah hutan mangrove, dengan hembusan angin laut yang menyegarkan. Sesekali ombak membentur tiang bangunan, dan menghilang diantara batang-batang pohon mangrove. Burung-burung beterbangan diantara pohon. Inilah bagian lain dari Bali yang mempesona.

Hutan bakau Suwung dilewati oleh sebuah sungai yang berasal dari kota Denpasar, dan menuju ke teluk Benoa. Sungai ini setiap hari membawa sampah ke hutan mangrove, hal itu bisa terlihat dengan banyaknya sampah plastik yang tersangkut di akar-akar pohon. Menurut petugas pengelola hutan, setiap hari setidaknya mereka harus mengeluarkan sampah sampai 4 truk. Hal itu terpaksa dilakukan agar pohon mangrove tidak rusak oleh sampah. Sangat disayangkan, kalau terpaksa menambah biaya pembersihan sampah dari hutan mangrove karena sampah yang dibuang ke sungai oleh warga Denpasar.

Sejumlah pimpinan negara, sudah mengunjungi hutan mangrove dan jembatan kayu ini ketika acara konperensi perubahan iklim di Bali pada bulan Desember 2007. Di dalam kawasan hutan, tidak diperbolehkan untuk berjualan makanan atau minuman.

One thought on “Pesona hutan mangrove di Suwung

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s