Melestarikan lingkungan untuk meningkatkan peradaban, menjaga martabat

Awal pekan ini saya diminta menjadi salah satu narasumber dalam acara talkshow di JTV (stasiun teve lokal Surabaya). Topik yang dibahas adalah upaya peningkatan kualitas Kali Surabaya. Selain saya, narasumber yang lain adalah dari PT Jasa Tirta, BUMN yang memonitor kualitas Kali Brantas dan anak sungainya. Selain itu seorang narasumber lainnya dari Bappedal Propinsi Jawa Timur.

Membicarakan peningkatan kualitas Kali Surabaya melalui media, tentu harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk mengajak semua pihak meningkatkan kepedulian terhadap kualitas air Kali Surabaya. Maka kami bertiga, narasumber berupaya menjelaskan kondisi kualitas Kali Surabaya saat ini dan mengajak semua pihak untuk bersama mencari upaya peningkatan kualitas Kali Surabaya.
Sebagai sumber air baku bagi PDAM Surabaya, kualitas air Kali Surabaya cenderung memburuk dari tahun ke tahun. Tambahan jumlah pasokan air dari waduk Wonorejo, Tulung Agung, belum dapat meningkatkan kualitas air secara signifikan. Dari waktu ke waktu polutan yang masuk ke Kali Surabaya meningkat kuantitasnya demikian juga kualitasnya. Bisa diduga, kualitas air Kali Surabaya menurun, dan akibatnya beban PDAM Surabaya semakin hari semakin berat, mengingat lebih dari 90 persen air baku PDAM Surabaya berasal dari Kali Surabaya.

Sumber utama polutan ke Kali Surabaya berasal dari limbah pertanian, limbah industri dan limbah rumah tangga. Sesungguhnya sejumlah aturan sudah tersedia untuk menjaga kualitas kali air baku. Namun sejumlah pihak seolah tidak peduli. karena itu dalam acara talkshow itu saya menyampaikan bahwa perlu pendekatan lain untuk menyadarkan para pencemar (polluters).

Para pencemar sebenarnya tau, kalau mereka melanggar aturan yang mengakibatkan kesulitan bagi pelanggan PDAM. Saya menyampaikan dalam talkshow itu bahwa pencemar mengetahui secara sadar pelanggaran aturan. Karena itu kita mengajak para pencemar (polluter) melihat bahwa peningkatan kualitas kali Surabaya, sebenarnya bukan hanya untuk kepentingan PDAM, tetapi hal itu merupakan bagian dari upaya untuk meningkatkan peradaban dan menjaga martabat manusia. Mengapa, karena kalau para pencemar, terus melakukan pelanggaran, maka sebenarnya hal itu menurunkan martabatnya dan secara umum, dan penurunan martabat sebenarnya adalah penurunan peradaban manusia.

Meski terkesan terlalu teoritis, pendekatan peningkatan martabat dan peradaban, merupakan bagian penting dari strategi peningkatan kualitas lingkungan. Penegakan hukum saja tidak cukup untuk menghindari adanya pelaku pencemaran. Sudah saatnya anak bangsa ini memikirkan kebutuhan akan peningkatan peradaban dengan menghindari pelanggaran. Tekanan kebutuhan dan ekonomi, tidak bisa dijadikan alasan untuk melakukan kecurangan dan pelanggaran. Dalam hal peningkatan kualitas lingkungan, benang merah pelanggaran dan pelecehan martabat sebenarnya sangat jelas. Bangsa-bangsa yang berhasil maju, membuktikan bahwa penghargaan terhadap martabat dan peradaban, menjadikan mereka taat azas, dan malu melakukan pelanggaran.

Pencemaran lingkungan adalah pelanggaran, dan itu menurunkan martabat dan peradaban.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s