Neraca ekologi sebagai indikator perusahaan

Berbagai wacana sedang dikembangkan saat ini untuk mendukung pelestarian lingkungan dan perlindungan iklim. Salah satu wacana yang sedang didiskusikan banyak pihak adalah kewajiban perusahaan untuk memaparkan kepada publik proses-proses produksi yang berpotensi mencemari lingkungan. Dalam konsep ini, perusahaan diwajibkan menjelaskan kepada publik proses-proses produksi yang mungkin dapat menimbulkan polusi dan emisi gas buang. Dalam bahasa lain perusahaan diwajibka menyusun suatu neraca ekologi proses produksi secara keseluruhan . Melalui program CSR (Corporate Social Responsibility), perusahaan diharuskan menyusun “mandatory report” tentang proses produksi, sehingga publik dapat mengetahui kalau terjadi kemungkinan pencemaran dan emisi gas buang.

Selama ini “keberhasilan” suatu perusahaan, dinilai berdasarkan indikator keuangan perusahaan itu. Kalau likuiditas keuangan suatu perusahaan dinilai baik, maka perusahaan itu dianggap perusahaan yang sehat. Publik sudah menggunakan indikator keuangan seperti itu sejak lama. Sistim pendukung indikator keuangan sudah melembaga dan mapan. Sehingga secara internasional, kinerja keuangan suatu perusahaan dijadikan dasar bagi penilaiannya, bahkan untuk mendapatkan tambahan investasi, kalau diperlukan.

Analogi indikator keuangan seperti itulah yang perlu diterapkan dalam bidang lingkungan. Suatu perusahaan yang sehat dinilai tidak hanya berdasarkan indikator keuangan, tetapi juga dengan indikator lingkungan dan perlindungan iklim. Mengapa indikator lingkungan dan perlindungan iklim menjadi penting, karena kerusakan lingkungan dan perubahan iklim sudah menunjukkan tanda-tanda yang sangat parah. Secara sistematis, kondisi lingkungan merosot dalam skala global, iklim juga berubah secara tak terduga. Perubahan secara sistematis itu adalah fakta temuan para ahli.

Agar bumi tidak hancur dalam skala yang mengerikan, maka diperlukan upaya bersama. Salah satu mekanisme penanggulangan dan pencegahan adalah dengan menerapkan indikator lingkungan dan perubahan iklim sebagai sebuah “mandatory regulation“. Ada keharusan untuk menjelaskan kepada publik tentang proses produksi. Dengan laporan kepada publik itu, maka akan terhindar praktek-praktek pencemaran yang selama ini terjadi. Mandatory regulation mengharuskan sebuah perusahaan menyusun “neraca ekologi” dari perusahaan dimaksud.

Dalam neraca ekologi yang disusun proses “from craddle to grave” (dari a sampai z) semua tahapan produksi. Neraca menjelaskan bahan baku dan bahan tambahan yang digunakan dalam proses dan produk akhir yang dihasilkan. Dengan neraca ekologi yang demikian, maka disusun volume bahan baku dan bahan tambahan, serta volume produk akhir serta limbah dan emisi yang terjadi. Neraca ekologi ini dilaporkan kepada publik dan dijadikan syarat untuk menilai “sehat” atau tidaknya suatu perusahaan.

Neraca ekologi didukung oleh prasarana dan sarana perundang-undangan serta dilengkapi dengan sistem penilaian dan verifikasinya. Untuk itu diperlukan sistem kelembagaan yang akan melaksanakan dan mengawasai proses penyusunan neraca ekologi dan verifikasinya. Publik diberi hak untuk menilai. Untuk menjamin efektivitasnya, Laporan Neraca Ekologi dijadikan syarat penilaian kelayakan perusahaan, dan untuk dikembangkan, termasuk untuk persyaratan perbankan.

How to do it ???.

3 thoughts on “Neraca ekologi sebagai indikator perusahaan

  1. Sementara usaha untuk memperkecil praktek-praktek pencemaran lingkungan dari proses produksi yang menimbulkan polusi dan emisi gas buang masih belum berjalan, penggundulan hutan berlangsung terus. Apakah masalah hutan tidak membutuhkan neraca ekologi?

    Like

  2. Penerapan neraca ekologi, atau dalam lingkup yang lebih luas, peningkatan kualitas lingkungan, memang harus didasarkan pada komitmen tinggi dari semua stakeholder, termasuk perbaikan mentalitas aktornya. Birokrat menjadi unsur penting selain aktor lainnya.

    Dalam tatanan “masyarakat madani” yang dicita-citakan, selain birokrat, aktor yang sangat penting adalah LSM dan media. Pengembangan konsep BIOKRASI meliputi semua stakeholder, kalau ini bisa dilakukan, harapan pembangunan berkelanjutan akan semakin menggembirakan. (lihat juga: http://www.togarsilaban.com/2008/02/15/mengembangkan-biokrasi-untuk-melestarikan-lingkungan/),

    Perbaikan lingkungan, tidak efektif kalau dilakukan sepotong sepotong (parsial), pendekatan komprihensif sangat dibutuhkan.

    ***
    Neraca ekologi sesungguhnya diberlakukan untuk setiap kegiatan, termasuk dalam pengelolaan/pelestarian hutan. Dengan neraca ekologi itu akan bisa dihitung, seberapa jauh hutan dapat dikelola, apakah masih mungkin untuk dibudi dayakan, atau sudah murni pelestarian.

    Prinsipnya, neraca ekologi dapat diterapkan pada semua kegiatan.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s