Prinsip-prinsip neraca ekologi lembaga & perusahaan

Sebagaimana halnya neraca keuangan dari suatu lembaga, neraca ekologi juga mempunyai prinsip-prinsip yang hampir sama. Neraca ekologi harus mampu menyajikan debet dan kredit, input dan output secara keseluruhan dari proses kegiatan lembaga tersebut. Penyusunan informasi input dan output harus dibuat secara detail dan akurat, sehingga menunjukkan keseluruhan proses kegiatan lembaga atau perusahaan.

Untuk memudahkan pemahaman tentang neraca ekologi, diambil contoh sebuah perusahaan pembuatan minuman sari buah jeruk. Neraca ekologi pabrik sari buah jeruk disusun dengan menguraikan semua input yang dibutuhkan untuk membuat minuman sari buah jeruk. Input terdiri dari 4 kategori, yaitu bahan baku, bahan penunjang, enerji dan peralatan, dan sumber daya manusia. Bahan baku terdiri dari air, gula, buah jeruk, esens buah jeruk. Bahan penunjang antara lain, bahan kemasan berupa kertas karton, plastik, yang digunakan untuk kemasan minuman. Selain itu juga bahan-bahan penunjang dalam proses distribusi produk, termasuk tali, palstik pembungkus dan lain-lain.

Enerji dan peralatan yang digunakan dalam proses produksi, terdiri dari enerji untuk proses mesin-mesin pengolahan bahan, untuk penerangan, untuk pengepakan dan untuk angkutan. Enerji yang digunakan terdiri dari listrik, maupun BBM. Peralatan yang digunakan juga harus diinventarisir, berbagai peralatan dapat mengeluarkan limbah, kebisingan atau emisi gas buang. Semua komponen peralatan dikelompokkan berdasarkan jenis buangan (cair gas, padat) yang timbul.

Komponen yang tidak kalah pentingnya adalah sumber daya manusia yang ikut dalam proses produksi. Jumlah personil yang terlibat dicatat demikian juga jumlah waktu keterlibatan dalam proses produksi. Dari data-data yang lengkap uraiannya tersebut, maka neraca ekologi disusun dengan prinsip keseimbangan sistem. Dalam suatu sistem, jumlah input (masukan) harus selalu sama dengan jumlah keluaran (output). Berdasarkan hukum kekekalan massa, tidak ada massa atau enerji yang hilang dalam suatu proses. Karena itu neraca ekologi menggunakan prinsip hukum kekekalan massa.

Output pabrik sari buah jeruk, selain sari buahnya sendiri, juga termasuk limbah dan emisi yang terjadi. Semua limbah dan emisi, serta perubahan enerji dicatat dan diiventarisir sehingga bisa dibandingkan dengan input. Karena input harus sama dengan output, maka output yang seolah-olah “tidak terlihat”, akan menjadi jelas dan terukur.

Neraca ekologi perusahaan pembuatan sari buah jeruk disajikan dengan analogi neraca keuangan yang juga menganut prinsip keseimbangan. Agar neraca ekologi digunakan menjadi “performance indicator” dari suatu lembaga atau perusahaan, maka dukungan kelembagaan dalam arti luas dibutuhkan. Pengenalan prinsip neraca ekologi harus diinternalisasikan kepada lembaga-lembaga ekonomi. Sehingga lambat laun, neraca ekologi, menjadi instrumen handal untuk menilai kinerja perusahaan.

Agar lebih efektif, neraca ekologi disejajarkan dengan neraca keuangan, ketika perusahaan hendak mengajukan kredit ke bank, misalnya, neraca ekologi dijadikan pertimbangan tentang “kesehatan” suatu perusahaan. Dengan demikian, kinerja perusahaan tidak hanya dilihat dari aspek keuangan semata, tetapi juga dari segi kesehatan lingkungannya. Untuk mewujudkan hal ini, perlu komitmen tinggi dari semua lapisan masyarakat.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s