Adipura Korbankan PKL, Arif Afandi: Saya Bangga, Dewan: Picu Kriminalitas

Surabaya kembali meraih piala Adipura. Penghargaan itu akan diserahkan Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KLH) kepada wali kota, 5 Juni 2008. Hal itu diungkapkan Wakil Wali Kota Surabaya Arif Afandi, Senin (2/5). “Kabar yang saya dengar dari salah seorang sumber di Kementerian Negara Lingkungan Hidup memang begitu. Tapi, secara resmi saya belum mendapatkan informasinya,” ujarnya.

Dengan Adipura 2008 ini, berarti Surabaya sudah tiga tahun berturut-turut meraih piala bergengsi ini. “Saya bangga karena Surabaya kembali dipercaya menjadi kota yang bersih dan teduh dibandingkan kota lain,” ungkap mantan wartawan ini.

Dibandingkan beberapa kota besar lain di Indonesia, Surabaya, kata Arif, tergolong pantas meraih penghargaan itu. Meskipun, katanya, di beberapa sudut kota masih banyak daerah kumuh.
“KLH kan punya parameter sendiri. Mereka memiliki lokasi pemantauan di beberapa titik kota yang dipandang layak menjadi nominasi. Saya pikir, Surabaya memang pantas mendapatkannya,” sambung Arif.

Ada dua indikator penilaian sebuah kota diganjar penghargaan ini. Pertama, kata Arif, indikator kondisi fisik lingkungan perkotaan dalam hal kebersihan dan keteduhan kota. Kedua, indikator pengelolaan lingkungan perkotaan (non-fisik), yang meliputi institusi, manajemen, dan daya tanggap.

Namun, lanjutnya, sebenarnya Adipura bukanlah tujuan akhir. “Ada atau tidak piala Adipura, pemkot tetap mendorong warga menciptakan lingkungan kota yang bersih. Adipura hanya efek akhir, bukan sebuah tujuan akhir,” tegasnya.

Kegembiraan juga diungkapkan Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Kota Surabaya Togar Arifin Silaban. “Surprise sekali kalau Surabaya kembali meraih Adipura. Penghargaan kali ketiga ini sebagai bukti bahwa kita kembali dipercaya menjadi kota yang bersih,” tuturnya.

Picu Kriminalitas

Sementara itu, Anggota Komisi D DPRD Surabaya Rusli Yusuf melihat Adipura sebagai titik terang motif pemkot di balik penggusuran PKL selama ini. “Pemkot selama ini hanya memburu penghargaan,” ujarnya.

Menurut Rusli, penggusuran PKL telah memicu tingginya pengangguran dan membuat banyak warga mengalami kesulitan ekonomi. “Apakah sudah ada solusi?” kritik politisi Partai Demokrat ini.

Adipura, kata Rusli, memicu persoalan baru yang tanpa solusi sampai sekarang. “Ketika PKL diberangus tanpa solusi, mereka mau makan apa sementara mereka harus tetap menghidupi anak istrinya. Paling mungkin ya ke tindakan kriminal,” ujar Ketua Fraksi Demokrat Keadilan ini.
Akhmad Suyanto, anggota Komisi A DPRD Kota Surabaya, melihat penilaian Adipura hanya fokus pada areal tengah kota. Sedangkan daerah pinggiran kurang diperhatikan.

“Kalau di daerah protokol utama, memang harus diakui Pemkot cukup berprestasi. Terbukti banyak taman-taman yang dibuat. Tapi, daerah pinggiran ada kesan dibiarkan karena tidak masuk penilaian,” kata Yanto – panggilan Akhmad Suyanto, kemarin malam.

Sugijono, anggota Komisi D DPRD, memandang Surabaya layak meraih Adipura. Namun, ada hal yang perlu dibenahi, yakni kebersihan berbagai fasilitas umum. “Saya melihat di terminal atau tempat umum toiletnya sangat kotor. Padahal, ini bagian dari layanan masyarakat,” ungkap politisi Partai Damai Sejahtera (PDS) ini. Ame/k1

Tengok Saja Bulak Banteng

Belum ada penjelasan berapa nilai yang diraih kota pahlawan untuk Adipura, penghargaan bidang kebersihan ini. Sebab, pada 2007, meskipun meraih Adipura, namun nilainya lebih rendah dibanding 2006.Pada 2007, Surabaya hanya mampu mengantungi nilai 66 dalam tahap pertama penilaian Adipura. Angka ini turun, karena tahun sebelumnya, pada tahap yang sama skor yang diraih 73,78.
Turunnya nilai Adipura Surabaya paling banyak disumbang kondisi tiga jenis kawasan yang dinilai jauh dari ideal. Yaitu pasar tradisional, kebersihan badan air permukiman dan TPA (tempat pembuangan akhir sampah), dan sungai.

Tahun ini, kondisi ini tetap tidak berubah.Lihat saja kawasan Wonokromo. Di bantaran sungai daerah ini masih menumpuk sampah. “Memang orang kampung suka membuang sampah di sungai. Dari hulu sampahnya nyangkut di sini,” kata Chaerul Huda, warga Jl Pulo Wonokromo belum lama ini.
Di Surabaya utara, begitu mudah melihat daerah kotor ketimbang daerah yang bersih. Di antaranya hulu Sungai Pegirikan yang mampet semakin parah saat musim kemarau ini. Hulu sungai Pogot, Sungai Jl Karang Tembok, Bozem Morokrembangan, dan lain-lain, juga sama.
Tokoh kampung Bulak Banteng Adi Mawardi mengakui daerahnya begitu kotor dibanding daerah lain.
Menurutnya, saluran drainase kampung tidak dibangun, sementara jalan kampung juga tidak pernah diaspal atau dipaving seperti daerah lain. “Kalau dapat Adipura cobalah melihat daerah kami, pasti trenyuh,” kata Adi.
Untungnya, ada beberapa kriteria yang nilainya cukup tinggi tahun lalu, sehingga bisa mengangkat nilai keseluruhan untuk Adipura Surabaya. Kriteria lainnya antara lain, kebersihan rumah sakit, kawasan perumahan, pelabuhan, perkantoran, dan ruang terbuka hijau.
Menurut catatan Dinas Lingkungan Hidup Surabaya, penilain Adipura dilakukan bertahap dengan setumpuk kriteria. Adipura 2008 dinilai sejak Agustus 2007. Penilaian dilakukan sebanyak dua kali, penilaian kedua dilakukan pada akhir Februari 2008. Kemudian hasil dari kedua penilaian diverifikasi pada Mei 2008. Hasil dari dua kali penilaian dan verifikasi itulah yang mengantarkan Surabaya mendapatkan penghargaan Adipura tingkat Kota Raya (Metropolitan) 2008. uca

Sumber: Koran Surya

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s