Memaknai nilai ekonomis sampah

Undang-Undang no 18 tahun 2008 tentang pengelolaan persampahan secara resmi sudah diundangkan, tercatat sebagai Lembaran Negara RI Tahun 2008, Nomor 69. Dengan begitu, undang-undang itu sudah efektif berlaku. Ada banyak hal yang perlu difahami dari undang-undang dimaksud. Kali ini salah satu subyek yang akan dikupas adalah asas nilai ekonomi sampah.

Pasal 3 UU 18/2008 berbunyi selengkapnya: “Pengelolaan sampah diselenggarakan berdasarkan asas tanggung jawab, asas keberlanjutan, asas manfaat, asas keadilan, asas kesadaran, asas kebersamaan, asas keselamatan, asas keamanan, dan asas nilai ekonomi”.

Pada Penjelasan undang-undang 18/2008 tentang asas nilai ekonomi disebutkan: ” Yang dimaksud dengan “asas nilai ekonomi” adalah bahwa sampah merupakan sumber daya yang mempunyai nilai ekonomi yang dapat dimanfaatkan sehingga memberi nilai tambah”.

Terminologi asas nilai ekonomi yang digunakan dalam undang-undang ini bisa membuat rancu. Semangat yang ada dalam undang-undang dan penjelasannya adalah “semangat menciptakan“. Undang-undang ini ingin “menciptakan pemahaman” bahwa sampah adalah sumber daya bernilai ekonomis. Sebab selama ini, pemahaman banyak orang, sampah adalah sesuatu yang harus dibuang karena tidak terpakai lagi. Undang-undang ini ingin merubah pemikirian, merubah cara pandang orang. Ini semangat positif thinking yang luar biasa, dan upaya positif thinking harus didukung.

Hukum Ekonomi Pasar 

Dalam konteks sampah sebagai sumber daya ekonomi, seyogiayanya pasar lah yang menentukan. Mekanisme pasar sangat kuat menentukan apakah suatu obyek mempunyai nilai ekonomi yang tinggi atau tidak. Saya bisa saja membuat tas antik dari sampah daur ulang, dan saya banderoli seharga Rp. 2 juta. Tapi apakah banderol saya akan diterima oleh pasar?. Apakah ini yang namanya nilai ekonomis sampah ?.

Kalau “pemaksaan” sampah sebagai sumber daya ekonomi dimaksudkan untuk memberi insentif pada pengelolaan sampah, hal itu bisa difahami. Dengan insentif tertentu, “nilai jual” sampah menjadi meningkat. Hanya saja sistem insentif, sesungguhnya tidak lagi sepenuhnya sesuai dengan hukum pasar. Kalau pemahaman insentif yang demikian, maka termininologi asas nilai ekonomi sampah, bisa menjadi bergeser. Boleh jadi pemaksaan itu dimaksudkan untuk mengundang investasi pada pengelolaan sampah. Tapi, lagi-lagi investasi, tunduk sepenuhnya pada hukum pasar.

Di negara-negara maju, investasi swasta pada pengelolaan sampah sangat besar. Swasta biasanya terlibat sebagai operator. Swasta bisa berinvestasi dan berkembang baik di negara maju, karena sistem pendukung nya sudah sangat baik. Penegakan hukum terhadap pelanggaran pengelolaan persampahan sangat tegas dan ketat. Sehingga, orang akan memilih mengelola sampah dengan benar, karena jika tidak, maka sanksinya akan besar. Dalam konteks negara maju, sampah memang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi, karena ada sistem pendukung pengelolaan sampah yang baik.

Undang-undang 18/2008, agaknya ingin meniru pengelolaan sampah di negara maju, terutama dengan pemahaman nilai ekonomi sampah. Sayangnya kesiapan sistem pendukung di Indonesia, sangat jauh dibandingkan dengan negara maju. Untuk memperoleh sistem pendukung yang memadai yang dituntut oleh undang-undang yang baru ini, maka perlu pemahaman disemua pihak dan disemua tingkatan. Pendidikan, menjadi andalan untuk mendapatkan pemahaman yang komprihensif yang diharapkan. Sayangnya pendidikan memerlukan proses yang sangat panjang.

Lalu, apa yang ingin diperoleh dengan terminologi sampah sebagai sumber daya ekonomi pada undang-undang ini. ?? Dalam tatanan implementasi jangka pendek dan menengah, apa yang mau dicapai ??.

One thought on “Memaknai nilai ekonomis sampah

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s