Undang-Undang Per-SAMPAH-an, bakal jadi SAMPAH ??

Judul posting ini terkesan terlalu, pesimis. Undang-undangnya baru disahkan, tapi sudah pesimis dengan pelaksanaannya. Saya memang pesimis undang-undang ini memenuhi harapan dan keinginan banyak orang. Tiga posting saya terdahulu , Plus minus udang-undang persampahan (1), (2), dan (3), barulah beberapa hal yang coba saya ulas. Masih banyak butir-butir lain yang juga krusial.

Latar belakang UU 18/2008 dan persiapan penyusunannya sarat dengan berbagai kepentingan. Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KNLH) sebagai leading sector undang-undang ini terkesan mau cari popularitas. Keinginan untuk memiliki undang-undang spesifik seperti pengelolaan persampahan, memang sudah lama ditunggu. Penantian yang lama itulah kelihatannya yang “dimanfaatkan” oleh KNLH untuk maju menjadi “pahlawan sampah”. Sampai disitu, urusannya sebenarnya sah-sah saja.

Tetapi manakala menyiapkan suatu undang-undang yang mengikat semua orang, urusan egoisme sektoral seharusnya dibuang jauh-jauh. Kebersamaan dalam menyusun suatu undang-undang adalah aturan main yang tak boleh ditawar-tawar. Saya menduga telah terjadi EGO SEKTORAL yang sangat berlebihan dalam penyusunan undang-undang persampahan (18/2008). Bisik-bisik yang saya dengar, bahkan berbagai pihak di internal KNLH masih banyak yang tidak sependapat dengan materi UU 18/2008 termasuk juga dalam proses penyusunannya. Tetapi Tim perumus konon “jalan sendiri” dengan proses yang mereka jalankan. Dan hasilnya, seperti yang sudah saya kupas di posting terdahulu, terdapat kelemahan mendasar dalam UU 18/2008.

Kalau penysunan suatu undang-undang sarat dengan kepentingan sesaat, betapa menyedihkannya kehidupan bernegara kita. Kalau menyusun undang-undang kental dengan upaya “cari muka”, alias pahlawan kesiangan, maka itu benar-benar menjadi sebuah tragedi.

Saya sangat khawatir, bahwa UU 18/2008 boleh jadi akan menjadi “sampah” yang mengotori kerancuan perudang-undangan. Kekhawatiran itu, terlepas dari besar atau kecilnya, menjadi tanda tanya besar, mau kemana pengelolaan sampah di negeri ini.

Semoga kehawatiran ini, hanya akan menjadi kehawatiran, tidak akan menjadi kenyataan.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s