Polisi RI dan Polisi UN di BICC, Bali

Kegiatan COP-9 Basel Convention di Nusa Dua Bali dikawal oleh dua pihak Polisi, yaitu Polisi Indonesia dan Polisi UN (United Nations). Hanya saja kedua pihak polisi itu bertugas dilokasi yang berbeda. Meski polisi-polisi itu tidak terkesan angker, tapi kehadiran mereka tegas terlihat, mengawasi dan memeriksa kalau-kalau ada hal-hal yang perlu diteliti.

Polisi RI dengan peralatan lengkap, bertugas dipintu masuk kelokasi Nusa Dua. Setiap kendaraan yang masuk ke lokasi Nusa Dua harus melewati pos pemeriksaan sekuriti, yang dikawal oleh Polisi RI bersenjata lengkap. Polisi dan petugas kemanan (security) Nusa Dua membuka pintu setiap kendaraan. Selain pemeriksaan dengan alat elektronis, teknologi keamanan, masih dilakukan pemeriksaan manual, meski terlihat bahwa pemeriksaan manual tidak terlalu lengkap. Pemeriksaan manual dengan membuka pintu kendaraan mungkin dimaksudkan agar pemilik kendaraaan diyakinkan bahwa diadakan “double check” dengan peralatan elektronis dan pemeriksaan manual.

Selepas pemeriksaan di pintu masuk Nusa Dua, setiap kendaraan menuju tujuan masing-masing yang berupa hotel bintang lima dan bintang lima plus di Nusa Dua. Saya menuju gedung BICC (Bali International Convention Center) yang berada satu lokasi dengan Hotel Westin. Pada saat saya mendekati gedung BICC, di halaman depan, sedang berlangsung latihan penaikan bendera oleh “polisi bule”, yaitu Polisi dari sekretariat UN (United Nations). Tidak ada Polisi RI yang ikut dalam persiapan penaikan bendera itu, meski yang akan dikibarkan adalah bendera bendera Merah Putih dan bendera UN.

Di kompleks bangunan BICC, tidak ada polisi RI yang bertugas, yang ada hanya polisi UN. Petugas penjaga metal detector adalah polisi UN. Di pintu masuk, ada lagi polisi UN yang mengawasi setiap orang yang masuk dan keluar. Didalam ruangan sidang pleno, juga terdapat polisi UN yang mondar-mandir mengawasi keadaan. Begitu pula ruang panitia, juga dijaga oleh polisi UN. Para polisi UN itu yang terdiri dari “orang bule” dan orang berkulit hitam, sangat tegas. Ketika ada salah seorang dari rombongan peserta tidak memakai “name tag”, orang tersebut tidak diperbolehkan masuk ke dalam ruangan BICC, meski teman-teman rombongan meyakinkan si polisi bahwa orang tersebut adalah anggota rombongan mereka. Terpaksalah orang tersebut tidak bisa masuk ke ruangan BICC.

Keberadaan polisi Un tersebut cukup mencolok, seolah-olah gedung BICC adalah “daerah teritorial” mereka yang tidak bisa diganggu gugat. Saya juga heran, kenapa tidak ada polisi RI yang mendampingi mereka di gedung BICC tersebut. Apakah kehadiran polisi UN itu mengesampingkan polisi RI di gedung BICC. Wallahuaalam.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s