Fleksibilitas itu..

Banyak orang berpendapat kalau adat Batak sulit difahami, bukan saja oleh orang non-Batak, bahkan oleh orang Batak sendiri. Sudah sering terdengar omongan kalau adat Batak rumit dan bertele-tele. Cilakanya, di perantauan (diluar bona pasogit), kesan bertele-tele itu malah sering terjadi. Contoh yang sering terjadi adalah dalam acara pernikahan adat Batak, biasanya proses pesta adatnya bisa sehari penuh, acara dimulai pagi hari, dan baru selesai sampai sore bahkan malam hari. Proses yang lama dan panjang itulah yang dianggap rumit dan bertele-tele. Hal itu tentu tidak mengherankan, karena dibandingkan dengan resepsi pernikahan umum, yang biasanya hanya berlangsung 2-3 jam.

Seorang kawan bilang, “Kalo ke pesta pernikahan teman kantor, begitu datang, kasi ucapan selamat, lalu menyantap hidangan, dan sudah itu pulang. Paling cuma berlangsung 30 menitan.” katanya memberi contoh. “Coba kalau ke pesta pernikahan Batak, kita ikut acara di gereja, ikut acara adat, bisa-bisa sampai 4 jam atau lebih baru bisa pulang”, dia menambahkan. “Kalau kita adalah kerabat yang menikah, apalagi jadi boru, maka bisa-bisa jam 7 malam baru bisa pulang. Apa gak ribet tuh!”, katanya menambahkan.

Proses adat Batak yang memakan waktu cukup panjang, dianggap menjadi ukuran rumitnya adat Batak. Padahal, konteks adatnya sendiri cukup sebenarnya fleksibel. Tidak percaya ?, tengoklah contoh fleksibilitas adat Batak. Ketika merundingkan sesuatu yang semula rumit, maka jalan keluarnya kemudian adalah “Aek godang tu aek laut, dos ni roha sibaen na saut”, artinya kesepakatanlah yang akan dilaksanakan. Untuk mencapai kesepakatan itupun kemudian, ada saling menyesuaikan, ada juga istilah “sidapot solup do na ro“, artinya kurang lebih bahwa kita harus menyesuaikan dengan kondisi setempat.

Contoh lain adalah ketika membicarakan sinamot, yaitu mahar calon pengantin. Pada waktu-waktu yang lalu, untuk menentukan nilai sinamot, maka terjadi proses negosiasi yang basanya cukup alot. Dari kedua belah pihak paranak atau parboru, selalu menyampaikan keinginannya. Sekarang ini sudah semakin sering dilakukan “sahali mandok balga ni sinamot“. Artinya tidak lagi dilakukan negosiasi, yang pada dasarnya hanyalah “formalitas”. Sekarang, pihak pengantin laki-laki, paranak, hanya meminta kesediaan keluarga pengantin perempuan, parboru, untuk dapat menyetujui kalau paranak sekali menyebutkan nilai sinamot. Dan biasanya pihak parboru sudah menerima permintaan pihak paranak.

Menurut saya, proses ini adalah fleksibilitas yang cukup tinggi. Meski ada juga orang yang mengatakan, penyederhanaan itu bisa mengurangi nilai dari adat itu sendiri. Akan tetapi itu merupakan “penyesuaian” pada kondisi-kondisi setempat di perantauan. Di tanah Batak, bonapasogit, proses “sahali mandok balga ni sinamot”, mungkin masih dianggap sebagai suatu yang “menyimpang”. Tapi tuntutan kehidupan perkotaan seperi di Jakarta dan Surabaya yang tinggi, kondisi “sahali mandok” sudah dapat diterima.

Fleksibilitas itu tentu dapat diperdebatkan, ada yang pro, ada yang kontra. Yang pasti adat Batak sebagai bagian dari budaya dan peradaban manusia, akan terus berkembang dan berubah. Bukankah tidak ada yang kekal di dunia ini.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s