Calon gubernur Jatim tidak peduli lingkungan hidup

Ketika proses Pilkada Gubernur Jawa Timur mulai disosialisasikan, tadinya saya berharap bahwa Calon Gubernur yang akan maju mau mngusung isu lingkungan hidup dalam rencana program kerjanya. Alasannya cukup sederhana, bahwa masalah lingkungan hidup di Jawa Timur sangat kritis dan memerlukan penanganan yang baik. Awal Februari 2008, saya coba inventarisir masalah dan isu lingkungan hidup Jatim yang paling prioritas yang harus diselesaikan. Ternyata setelah sampai pada tahapan sosialisasi oleh calon dan masa kampanye di awal Juli 2008 ini, nyaris tidak ada pasangan calon yang mempunyai program yang jelas tentang lingkungan hidup. Lalu calon gubernur mana yang akan kita pilih.

Setelah melihat jargon-jargon yang disampaikan oleh lima calon gubernur jatim, nampaknya semua pasangan calon mempunyai cara yang sama yaitu dengan melakukan pendekatan pribadi kepada calon pemilih, seolah dianya nanti akan menjadi pahlawan dengan mengobral janji-janji gombal. Bahkan tidak jarang sambil memberi “bantuan natura” untuk menarik simpati masyarakat. Tidak ada satupun pasangan calon yang memberikan program yang jelas bagaimana cara mengurangi kemiskinan, atau bagaimana cara mewujudkan pendidikan gratis. Semua janji yang disampaikan tidak bisa diukur, apakah nantinya berhasil diwujudkan atau tidak. Padahal calon yang gubernur yang baik adalah yang mampu memberikan program penyelesaian permasalahan dengan indikator yang terukur.

Calon Gubernur yang tidak menyampaikan program yang dilengkapi indikator pencapaian, maka calon gubernur itu sebenarnya hanya sekedar maju “untung-untungan”, kalau terpilih sukur, tidak terpilih ya tidak apa. Mudah sekali membuat janji kampanye, tapi tidak mampu membuat program yang konkrit. Tidak ada satu calonpun yang menyinggung secara jelas, isu lingkungan hidup di Jatim. Karena itulah, saya tidak tertarik lagi untuk mengamati janji atau kampanye calon gubernur Jatim. Sudah bisa diduga, bahwa siapanun yang nanti terpilih menjadi gubernur, nampaknya penyelesaian lingkungan hidup di Jatim, tetap akan termarjinalkan, terpinggirkan dan tidak menjadi prioritas.

Banjir bandang di Situbondo, Bojonegoro, Tuban dan daerah lainnya, seolah bukan menjadi masalah yang penting bagi calon gubernur. Padahal kerugian yang timbul sudah sedemikian besar. Kalau para calon gubernur menganggap bencana banjir itu hanya masalah biasa, maka kedepan, bencana banjir bandang akan lebih besar, dan akan lebih besar kerugian yang timbul. Sudah sedemikian tumpulkah calon gubernur dan tim suksesnya melihat permasalahan bencana dan leingkungan hidup.  Sudah tidak mampukah mereka mengidentifikasi, masalah apa yang harus diselesaikan.

Kalau demikian halnya, lalu untuk apa Gubernur baru, apa yang akan dikerjakan oleh gubernur nantinya. Pertanyaan yang lebih mendasar lagi adalah, kalau semua calon gubernur tumpul mengidentifikasi permasalahan, apakah mereka masih layak dipilih menjadi gubernur ?.   Kalau tidak layak, apa gunanya pemilihan gubernur ????.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s