Udara Surabaya Paling Bersih

Dapat Penghargaan dari Presiden, Banyak Yang Kaget

Jawa Pos, 13 Juli 2008

SURABAYA – Satu lagi penghargaan di bidang lingkungan hidup diraih Surabaya. Setelah menerima Adipura bulan lalu, lagi-lagi pemerintah pusat mengganjar Surabaya sebagai kota besar yang udaranya paling bersih se-Indonesia. Di bawah Surabaya, menyusul Denpasar, Jakarta Utara, Makassar, dan Jogjakarta. Penghargaan itu diberikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada Wali Kota Bambang D.H. dan Kepala Badan Pengendali Lingkungan Hidup (BPLH) Togar Arifin Silaban di Jakarta, Kamis (10/7) malam.

Menurut Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Hidayat Syah, pemkot memberikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh warga Surabaya yang punya andil besar dalam menjaga udara kota ini. ”Yang menang sebenarnya adalah warga Surabaya, bukan pemkot,” ujarnya merendah. Kepala BPLH Togar Arifin mengaku terkejut atas terpilihnya Surabaya sebagai kota dengan udara tebersih. ”Jujur kami akui, ada sejumlah hal yang masih kurang dari Surabaya. Mulai rusaknya ISPU (alat pendeteksi pencemaran udara, Red) dan banyak kendala lain,” ungkapnya ketika dikonfirmasi kemarin (12/7). ”Namun, bagaimana pun, penghargaan ini patut diapresiasi,” tegasnya.

Ketika ditanya soal nilai yang diraih Surabaya, Togar mengaku belum tahu. ”Kami hanya diberi tahu bahwa Surabaya terbaik untuk kategori kota besar/metropolitan,” jelasnya. Kalangan dewan juga ikut terkejut atas kemenangan Surabaya itu. ”Masak sih? Boleh diapresiasi, namun pemkot tak boleh berbangga atas prestasi ini,” kata Ketua Komisi C DPRD Surabaya Armuji.

Kader PDIP itu curiga, jangan-jangan pemerintah pusat hanya mendata dan menerima laporan sepihak dari pemkot. ”Sebab, di LKPJ (laporan kerja pertanggungjawaban) wali kota, eksekutif mengklaim bahwa sepanjang 2007, hanya lima hari kualitas udara di Surabaya di bawah standar,” ungkapnya. Armuji mempertanyakan validitas data tersebut. ”Kok bisa-bisanya mengklaim seperti itu. Coba lihat kualitas udara setiap hari di jalanan utama Surabaya, terutama di Rungkut, Kalianak, atau di A. Yani,” ujarnya.

Karena itu, dia meminta agar pemkot tak terlena dengan penghargaan lingkungan hidup di bidang udara bersih tersebut. ”Masih banyak PR (pekerjaan rumah) yang harus diselesaikan pemkot terkait dengan pengendalian pencemaran udara,” katanya. Apalagi, berdasar Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), rapor Surabaya di bidang pengendalian pencemaran udara tergolong merah. Bahkan, dalam audit, BPK menyebut Pemkot Surabaya lemah dalam upaya pengendalian pencemaran udara. Mulai banyaknya kendaraan wajib uji KIR dengan tes asal-asalan hingga kurangnya peralatan pengendalian pencemaran udara.

”Jadi, pemkot harus bisa menunjukkan bukti bahwa penghargaan itu layak diberikan kepada Surabaya,” tegasnya. (ano/ari)
Sumber: Jawa Pos

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s