Bencana energi mengintai Indonesia

Ini bukan main-main. Bencana energi (terutama minyak) sedang mengintai Indonesia. Kalau pada sekitar 70 an sampai awal 80 an, Indonesia menikmati hasil penjualan minyak mentah, sekarang Indonesia menjadi pengimpor minyak. Pertumbuhan konsumsi minyak Indonesia saat ini diperkirakan sebesar 6-7 persen per tahun, sementara produksi semakin hari semakin menurun. Kalau kecendrungan tersebut terus terjadi, maka setelah ahun 2015 Indonesia akan mengalami bencana energi.

Suyono Dikun, PhD, dosen UI yang juga mantan Deputy Menteri Perekonomian dan Mantan Deputy Kepala Bappenas, yang menjadi pembicara pada Workshop “Global Warming & Transportasi” yang diadakan oleh Dewan Riset Nasional tanggal 17 Juli 2008, mengungkapkan bahwa kebutuhan (demand) bahan bakar minyak Indonesia meningkat secara terus menerus di kisaran 6-7 % per tahun. Pertumbuhan (“demand“) tersebut dikarenakan beberapa faktor antara lain pertumbuhan penduduk dan perkembangan kota yang sangat pesat. Perkembangan kota sekarang dengan perilaku yang terjadi, ternyata sangat boros menyerap BBM dan energi.

Pada tahun 2010, Indonesia akan mengalami defisit BBM sebesar 300 juta barrel, atau hampir 1 juta barel per hari. Produksi minyak Indonesia pada tahun 2010, diperkirakan hanya sekitar 230 juta barel, sementara “demand” sudah mencapai sekitar 530 juta barel.  “Kekurangan” 300 juta barel tersebut harus ditutupi dengan mengimpor BBM dari luar negeri.  Masalahnya untuk mengimpor BBM perlu uang yang banyak, selain itu, ternyata negara yang menjual BBM  juga semakin berkurang. Karena banyak negara yang produksi BBM nya juga menurun seperti Indonesia.

Lebih jauh lagi adalah bahwa kedepan, harga BBM semakin sulit diperkirakan. Dengan kecenderungan yang ada sekarang, ada yang memperkirakan bahwa pada akhir tahun 2008 ini, harga minyak dunia bisa mencapai US $ 200 perbarel. Bahkan ada yang menduga, minyak bisa menembus US$ 300 perbarel di awal tahun 2009. Pada tahun 2010, tidak ada yang berani memperkirakan berapa harga minyak dunia. Apakah tetap US $ 200 perbarel atau bahkan mencapai US$ 500 per barelnya.

Krisis minyak Indonesia bisa meningkat menjadi bencana, kalau tidak ada langkah-langkah strategis untuk mengantisipasi. Kalau saja pada tahun 2010, kekurangan minyak Indonesia 300 juta barrel, dan harga minyak dunia US$ 400 per barel, maka untuk impor minyak ditahun itu, Indonesia harus membayar US$ 12 milyar, atau kira-kira Rp. 110 triliun. Dengan harga sebesar itu, berapa harga jual eceran BBM Indonesia pada tahun 2010.

Krisis minyak yang menjadi “bencana” minyak, akan berubah menjadi bencana energi. Sebagian besar energi Indonesia menggunakan BBM sebagai sumbernya. Pembangkit listrik Indonesia sebagian besar menggunakan minyak. Sistim transportasi Indonesia sangat tergantung kepada minyak. Karena itu “bencana minyak”  akan berdampak luas bagi Indonesia.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s