Lampu kuning; Golput menang di Jatim

Menurut harian Kompas, yang juga melaksanakan quick count, Golput di Pilgub Jatim mencapai 39 persen. Berarti suara sah cuma 61 %. Beberapa lembaga melakukan quick count, dan hasilnya tidak terlalu jauh berbeda. Yang pasti, tidak ada pasangan yang meraih lebih dari 30%, sehingga harus dilakukan Pilgub putaran kedua.

Kalau diperhatikan hasil quick count beberapa lembaga itu, suara tertinggi diperoleh pasangan Sukarwo-Saifullah Yusuf (Karsa) yang diusung PAN-Demokrat. Pasangan ini memperoleh sekitar 27% dari suara sah. Urutan kedua adalah Khofifah-Mudjiono (Kaji), dukungan partai-partai kecil dan partai non-parlemen. Pasangan ini diperkirakan memperoleh sekitar 25%. Ditempat ketiga pasangan Sutjipto-Ridwan (SR), yang dijagokan PDI-P, dengan perolehan sekitar 20%. Pasangan dari Golkar, Sunarjo-Ali Maschan Musa (Salam), memperoleh sekiar 18%. Dan juru kunci ditempati oleh pasangan yang dijagokan PKB, Achmady-Suhatono (Achsan) yang hanya kebagian sekitar 7%.

Kalau perolehan para calon gubernur dihitung terhadap jumlah keseluruhan pemilih maka pasangan karsa sebenarnya hanya memperoleh sekitar 16,47% dari total pemilih. Angka ini kurang dari separoh Golput yang 39%. Sementara urutan kedua, pasangan Kaji mendapatkan sekitar 15,25%, pasangan SR memperoleh 12,2%, pasangan Salam mendapat 10,9% dan urutan terakhir pasangan Achsan kebagian 4,2%.

Hal menarik lainnya dari hasil quick count Pilgub Jatim, pasangan yang diusung oleh partai besar, ternyata semua tumbang oleh pasangan yang dibawa partai kecil. Masyarakat memang tidak bisa lagi hanya sekedar dicekoki dengan “janji-janji” kampanye. Pelaksanaan kampanye Pilgub, ditandai dengan cara-cara lama yang sudah tidak laku dengan mengobral janji. Hasilnya jelas, partai besar yang tetap menggunakan cara lama, kalah.

“Kemenangan” Golput menjadi lampu kuning bagi perjalanan demokrasi. Besarnya golput bisa jadi merupakan indikator kejenuhan dan kekesalan masyarakat terhadap partai politik. Golput juga bisa menjadi tanda ketidak percayaan masyarakat terhadap sistim pemilu dan seluruh elemennya. Ini mestinya dibaca sebagai peringatan kepada sistem politik dan sistim Pemilu. Kalau tidak dilakukan perubahan yang mendasar, maka bangsa Indonesia akan menghadapi masalah besar dikemudian hari.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s