Marga, identitas dan jati diri

Nama yang tertera di Ijazah saya SMP, tidak dilengkapi dengan marga. Entah kenapa sekolah saya, cuma mencantumkan nama saja. Pada waktu itu, saya tidak terlalu memikirkan apakah perlu atau tidak mencantumkan marga di ijazah. Kondisi itu berlanjut sampai SMA, dan lagi-lagi nama saya di ijazah SMA tanpa dilengkapi marga.

Menginjak kuliah, saya mulai mikir tentang pencantuman marga di dokumen-dokumen penting saya termasuk ijazah. Meski nama saya jelas-jelas nama Batak, tapi kalau marga tidak dicantumkan, rasanya menjadi tidak lengkap. Perkembangan selanjutnya, saya memutuskan untuk mencantumkan marga pada semua dokumen-dokumen penting saya. Maka ijazah S-1, KTP, SIM, paspor dan semua dokumen penting saya sekarang dilengkapi marga, Silaban. Marga adalah jati diri, tanpa mencantumkan marga, saya seolah merasa tidak lengkap.

Bertahun-tahun kemudian, ketika saya baru di Surabaya, saya agak terusik soal marga dan jati diri. Saya ketemu dengan rekan kerja, yang kemudian saya ketahui bermarga X (sengaja disamarkan). Waktu baru mengenal pak Burhan (bukan nama sebenarnya), saya tidak tau kalau dia berasal dari Sumatera Utara dan bermarga X. Pak Burhan ternyata dibesarkan di Medan, dan sejak lama dia tidak mencantumkan marganya. Bahkan ketika pernah saya singgung soal Batak kepadanya, dia berusaha menghindari pembicaraan soal Batak, apalagi marga. Pak Burhan selalu mengalihkan pembicaraan, kalau disinggung soal asalnya dan soal Batak. “Kita harus bekerja profesional, jangan karena berasal dari satu daerah, kita kerja mengelompok lalu kerja asal-asalan“, begitu dia pernah berkata.

Saya agak bertanya-tanya dalam hati kenapa pak Burhan tak mau mencantumkan marganya. Kalau soal pekerjaan, saya setuju, bahwa marga tak perlu dikait-kaitkan dalam pekerjaan. Bertahun-tahun saya sering kerja bersama pak Burhan, tapi saya tidak ngerti juga kenapa dia tidak mencantumkan marganya. Saya juga jadi sungkan mau tanya langsung kepadanya, karena hubungan saya dengan pak Burhan memang lebih banyak karena urusan kantor.

Suatu saat saya bertemu dengan “dongan tubu“nya, marga X, dia cerita kalau pak Burhan memang tak pernah muncul dalam kegiatan apapun di lingkungan marga X di Surabaya. Jangankan dalam pertemuan arisan bulanan, dalam pertemuan lainnya pun pak Burhan tidak pernah hadir.

Padahal dari segi pekerjaan, pak Burhan sebenarnya adalah orang yang cukup berhasil di karirnya. Setamat SMA di Medan, dia melanjutkan sekolah ke ITB di Bandung, kemudian dia bekerja dan meniti karir di Surabaya. Di Surabaya dia cukup dikenal banyak orang karena pekerjaannya dan kiprahnya.

Setelah karirnya mentok di Surabaya, dia pindah bekerja di Jakarta. Sejak itu saya hampir tidak pernah ketemu lagi dengannya. Tapi dia sering kirim sms ke saya, memberi tau kalau dia akan tampil di tv atau radio. SMSnya tidak pernah saya tanggapi, acaranya di tv atau radio juga tidak saya lihat dan tidak saya dengar.

Apakah Pak Burhan malu mengakui dirinya sebagai orang bermarga X ??, saya tidak tau. Tapi sesungguhnya banyak orang sudah tau (terutama yang di Surabaya), kalau Pak Burhan mermarga X, jadi kenapa mesti malu. Apakah mungkin, marga bukan merupakan jati diri bagi pak Burhan ??.

3 thoughts on “Marga, identitas dan jati diri

  1. kalau sudah begini, kata-kata “mungkin” akan mendominasi
    mungkin, dia punya pengalaman pribadi merugikan
    mungkin, dia tidak ingin punya komunitas marga
    mungkin, dia lupa kalau dia masih hidup

    yang penting, mari kita mengkel dan marsaor lah

    http://rapmengkel.wordpress.com
    par surabaya

    Like

  2. mungkin masih ada “mungkin” yang lain…
    padahal untuk memasangkan marga di belakang nama seseorang yg non batak minta ampun rumitnya yah..(pengalaman pribadi istriku…:)
    koq ada orang yg menyia-nyiakan yang sudah melekat sejak lahir..

    tapi mungkin (lagi) ada alasan…

    mungkinn…!!

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s