Sistim Sanitasi Kota Denpasar-Sanur-Kuta.

Untuk melihat gambaran lebih jelas, Walikota Surabaya didampingi sejumlah staffnya meninjau sistim sanitasi perpipaan kota Denpasar Bali. Walikota mengunjungi instalasi pengolahan air limbah (IPAL) di Suwung, kawasan antara Sanur dan Kuta. Instalasi ini diresmikan oleh Presiden SBY sekitar bulan Juni 2008 yang lalu. Dari segi sistem, Sanitasi Denpasar diharapkan menjadi sistim sanitasi perpipaan yang terdepan di Indonesia.  Hal ini disebabkan sitim pendukung yang termasuk bagus.

Sistim Sanitasi Denpasar-Kuta-Sanur direncanakan mulai tahun 1992 dengan menyusun Masterplan. Kemudian Deteil design disiapkan pada tahun 1996 sampai 1997.  Pelaksanaan konstruksi mengalami beberapa kelambatan karena berbagai hal termasuk kendala pembebasan tanah. Akhirnya pada tahun 2002, konstruksi pembangunan sistem dimulai setelah proses tender yang cukup makan waktu karena harus tender internasional. Pelaksanaan konstruksi dilakukan kontraktor Jepang yang bermitra dengan kontraktor Indonesia.

Sistim sanitasi Denpasar-Sanur Kuta (DSK) akan melayani wilayah di kota Denpasar, Sanur dan Kuta, karena itu sistimya terdiri dari sistim jaringan perpipaan pengumpul, (collection), pipa pembawa (transmision) dan instalasi pengolahan air limbah (waste treatment) . Sistim transmisi dilengkapi dengan pompa untuk menaikkan keinggian air ke IPAL. Pipa pengumpul tersambung dengan bangunan rumah atau bangunan lain seperi restoran dan hotel. Hingga saat ini sudah tersambung sebanyak kurang lebih 6.000 unit sambungan. Sistem pengumpul terdapat di lokasi pelayanan yaitu Denpasar, Sanur dan Kuta.

Untuk membawa limbah dari tiga daerah pelayanan ke unit pengolahan, dirancang pipa pembawa yang diameter terbesarnya sampai 1,2 meter. Pipa-pipa itu sebagian besar ditanam dibawah jalan. Pemasangan pipa dengan diameter yang cukup besar itu memerlukan pelaksanaan yang tidak sederhana karena berada di jalan raya yang cukup sibuk. Pemasangan pipa yang semula direncanakan dengan sistim galian “open trench”, akhirnya dirubah oleh kontraktor pelaksana menjadi menggunakan sistim “pipe jacking”. Dengan sistim “open trench”, tanah digali, lalu kemudian pipa dipasang di galian yang sudah disiapkan. Sistim open trench inilah yang berpotensi mengganggu lalu lintas, karena galian pipa pembawa berdiameter cukup besar dengan kedalaman sekitar 1,5 meter sampai 4 meter. Membuat galian yang demikian di tengah jalan dengan lalu lintas padat, membutuhkan ruang cukup luas, yang pada akhirnya akan memacetkan lalu lintas. Dengan pertimbangan itulah, akhirnya, kontraktor merubah dengan sistim “pipe jacking”.

Dengan “pipe jacking”, pipa didorong di dalam tanah dari satu lubang (shaft) ke shaft lainnya yang berjarak kurang lebih 150 meter. Pekerjaan ini hanya membutuhkan area yang relatif kecil di dua shaft. Dengan demikian, resiko kemacetan lalu lintas bisa dikurangi. Akan tetapi biaya konstruski sistim ini lebih mahal dari biaya konstruksi sistim “open trench”.

Sistem pengolahan limbah di yang digunakan adalah “aerated lagoon”. Waste treatment dengan metode areated lagoon sebenanrnya adalah teknologi yang sudah cukup lama. Sistem ini dipilih karena biaya operasionalnya termasuk yang termurah dibanding sistem lain. Aerated lagoon, membutuhkan lahan yang cukup luas, karena ia merupakan kolam oksidasi dan kolam pengendapan. Itulah sebabnya IPAL DSK membutuhkan lahan seluar kurang lebih 10 hektar di kawasan hutan mangrove Suwung.

Keseluruhan sistem sanitasi DSK yang diresmikan oleh Presiden SBY bulan Juni lalu, menghabiskan biaya kurang lebih 500 milyar rupiah. Biaya ini ditanggung bersama antara Pemerintah Kota Denpasar, Kabupaten badung, Propinsi Bali, Pemerintah Pusat dan masyarakat pelanggan. Jumlah pelanggan yang sudah mencapai 6000 unit, masih belum membayar biaya bulanan. Tahun 2009, pelanggan akan ditagih secara rutin. Sistem air limbah DSK direncanakan akan melayani 150.000 sampai 200.000 penduduk di ketiga wilayah. 

3 thoughts on “Sistim Sanitasi Kota Denpasar-Sanur-Kuta.

  1. Bagus juga di Denpasar sudah memulai dengan pembuatan sistem sanitasi untuk mengatasi masalah limbah domestiknya, sebetulnya perencanaan Sistem Pengolahan Air Limbah Domestik di Surabaya sjuga telah direncanakan dengan Masterplan SSDP namun belum pembangunan dan sedang direvisi tahun ini, kami berharap Surabaya dapat wujudkan pembangunannya sehingga mengurangi pencemaran air dari limbah domestik di Surabaya.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s