Mandok hata, ya gampang, ya susah juga (1)

Hampir setiap pertemuan “ulaon” (kegiatan) komunitas Batak, dilengkapi dengan pembicaraan yang agak serius. Pada saat seperti itu, “mandok hata”, merupakan bagian yang sangat penting. Kalau diterjemahkan secara kasar “mandok hata” bisa berarti “berbicara”. Tapi terminologi “mandok hata” sesungguhnya tidak sekedar berbicara. Karena mandok hata, bisa juga berupa permohonan, atau bahkan memberikan “berkat”.

Di kota-kota besar, “mandok hata” bisa menjadi masalah yang rumit, terutama bila yang ditunjuk untuk “mandok hata”, tidak terbiasa melakukan hal itu. Adakalanya orang yang kurang memahami, main “pukul rata” dalam mandok hata, tidak memperhatikan posisi dan fungsinya sebagai pembicara dan kepada siapa “hata” itu ditujukan. Makna “hata” yang disampaikan juga menjadi melenceng. Akhirnya mandok hata itu menjadi salah kaprah.

Suatu kali ada sepasang suami istri muda yang sedang menantikan kelahiran anaknya. Ketika si ibu muda, boru X, hamil tua, maka orang tua si istri, yaitu bapak marga X, datang untuk memberikan “ulos tondi”. Pemberian “ulos tondi” dimaksudkan untuk menyertai ibu muda agar sehat sampai melahirkan anaknya.

Sampai saat itu, pasangan suami istri muda ini tinggal di rumah milik orang tua si istri (di Pondok Mertua Indah di Jakarta), meski tidak serumah dengan bapak X. Tentu karena keluarga pihak istri datang dengan membawa “dekke”, ikan, maka juga harus disediakan “tudu-tudu ni sipanganon” dari pihak suami. Dan keluarga dekat pihak suami (sebut saja marga Z), juga datang ke rumah pasangan muda tadi. Orang tua si suami muda tinggal di kampung, jadi tidak hadir di acara itu. Pihak marga Z diwakili “parudaon” (paman) dari si suami muda. Dalam kondisi itu yang menjadi “suhut” (tuan rumah) adalah pihak suami, yaitu marga Z.

Ketika tiba saatnya mandok hata, maka ibu dari istri pasangan muda itu (yaitu istrinya bapak X) berkata. ” Ima tutu di hamu amang, inang, mauliate ma ala ro hamu tu bagas nami on…..”. Terimakasih atas kehadiran amang dan inang ke rumah kami…”. Ibu ini tidak menyadari bahwa pada saat itu yang menjadi suhut (tuan rumah) adalah menantunya, jadi seharusnya pihak keluarga suami yang marga Z lah yang menyatakan terimakasih seperti itu. Ibu X itu mungkin hanya ingat, bahwa suami istri muda itu tinggal di rumah miliknya, jadi ia tetap merasa sebagai “tuan rumah“. Padahal dalam komunitas Batak pada kejadian itu, keluarga pihak suami marga X lah yang menjadi tuan rumah (suhut).

Contoh diatas, adalah karena Ibu X tidak tau konteks “mandok hata” pada acara pemberian “ulos tondi”. Mandok hata tidak semudah yang dibayangkan.

3 thoughts on “Mandok hata, ya gampang, ya susah juga (1)

  1. Horas pung…
    (*Na tuau do nuaeng hata on inna rohakki ma i hahaha…)
    Barusan aku melakukan ulaon ini, hari minggu kemaren..
    Untungnya, meski aku tinggal di pondok mertua indah, aku tetap menerima kedatangan keluarga Tulang Mertua di rumah Amangtua (bukan di rumah aku tinggal), sehingga kesalahan konteks seperti diceritakan diatas tidaklah terjadi hehehe..

    Like

  2. Horas….

    Ya…. memang benar mandok hata itu susah-susah gampang, tapi untuk generasi sekarang lebih besar susahnya dari pada gampangnya.
    Pada hal mandok hata ini sesuatu yang sangat penting dan berharga karena mandok hata juga sejalan / bagian dari jambar (hak & keawajiban) maka ada disebut jambar hata.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s