Hindarkan pemborosan energi !, turunkan emisi gas rumah kaca

Presiden SBY, Minggu 10 Agustus, kembali mengingatkan dan mencanangkan program penghematan (air dan enerji). Target yang ingin dicapai lumayan besar, 30 persen !. Presiden meminta, agar semua jajaran pemerintahan pusat dan daerah melakukan penghematan. Kalau gerakan penghematan bisa dilaksanakan bersama masyarakat, maka akan ada penghematan subsidi BBM sebesar 45 sampai 70 trilliun per tahun.

Ajakan Presiden ini sebenarnya sudah terlambat, karena harga BBM sudah pada titik yang sangat tinggi. Tapi tidak mengapalah, meski terlambat, kalau dilaksanakan dengan konsisten, bukan hanya subsidi APBN yang diperoleh, tapi ada kesadaran dan kemauan massal yang tinggi dari masyarakat untuk terbiasa berhemat.

Yang agak aneh adalah pernyataan Toni Prasetiantono, ahli ekonomi dari UGM. Toni mengatakan kalau Indonesia bukan negara yang termasuk boros dalam penggunaan BBM. Menurut berita koran Sindo, ukuran yang dipakai Toni adalah konsumsi BBM Indonesia yang mencapai 1,3 juta barrel. Penduduk Indonesia yang mengkonsumsi ada sebanyak 230 juta. Lalu Toni membandingkan dengan Taiwan, yang mengkonsumsi hampir satu juta barrel perhari, padahal penduduknya hanya 16 juta jiwa. Kalau ukuran konsumsi perkapita yang digunakan dan dibandingkan dengan Taiwan, Indonesia masih lebih baik.

Akan tetapi ada informasi lain yang menyatakan bahwa Indonesia termasuk yang terboros di Asia dalam penggunaan enerji. Menurut Laporan dari IGES (Institute for Global Environmental Strategies) dalam white paper yang diterbitkan pada tahun 2008, negera yang paling boros adalah Cina, kemudian Pakistan, Vietnam dan Indonesia. Sementara negara yang paling efisien dalam penggunaan enerji adalah Jepang. Menurut laporan itu, untuk menghasilkan 2.000 US dollar GDP negara itu, Cina mengkonsumsi kurang lebih 37.000 BTU (British Thermal Unit). Indonesia menghabiskan kurang lebih 27.000 BTU untuk mencapai GDP yang sama, sementara Jepang mengkonsumsi hanya sekita 4.500 BTU untuk mencapai GDP sebesar 2.000 US dollar. Dengan program penghematan enerji yang terencana, Jepang dapat meningkatkan kualitas produksi dan peningkatan kepuasan pelayanan.

Keberhasilan Jepang dalam peningkatan efisiensi enerji, didukung oleh kesiapan sistem yang baik. Jepang sejak tahun 1979, sudah menerapkan undang-undang konservasi enerji yang progressive. Undang-undang itu dibuat menyusul krisis minyak pada tahun 1970 an. Pemberlakuan undang-undang konservasi enerji di Jepang selain sebagai dukungan legal, tetapi juga memberikan insentif bagi upaya-upaya penghematan enerji.

Undang-undang itu memuat antara lain kegiatan untuk mengidentifikasi sektor-sektor enerji intensif, menunjuk para manajer yang kapabel di sektor-sektor enerji intensif dan pemanfaatan teknologi yang memenuhi kebutuhan penghematan enerji. Selain itu undang-undang juga mengamanatkan pemberlakuan insetif dan disinsentif bagi kegiatan-kegiatan penghematan enerji dan pemborosan enerji. Diberlakukan pengurangan pajak khusus terhadap upaya-upaya yang berhasil melaksanakan efisiensi enerji secara konsisten.

Dengan pemberlakuan undang-undang itu dan upaya-upaya paralel yang dilakukan, emisi gas buang dari industri menurun dari 524 juta ton setara CO2 di tahun 1979, menjadi 498 juta ton CO2 pada tahun 2003. Selain penghematan pemakaian enerji, yang berarti penghematan biaya, sekaligus juga diperoleh co-benefit berupa penurunan emisi gas rumah kaca ke atmosfir.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s