Taktik manipulasi ala Olimpiade Bejing

Dibalik gegap gempita Olimpiade Bejing, ternyata ada hal yang membuat kita terhenyak. Pembukaan yang disiarkan langsung ke seluruh penjuru jagat, ternyata dilengkapi dengan akal-akalan. Penyanyi cilik yang membawakan lagu “Ode untuk Tanah Air”, ternyata bukan suara si gadis kecil berbaju merah berusia 9 tahun, Lin Miaoke, melainkan suara anak perempuan lain bernama berumur tujuh tahun, Yang Peiyi. Dubbing dilakukan, jadi Lin Miaoke cuma mangap-mangap saja. Yang nyanyi adalah Yang Peiyi.

Akal-akalan itu dikemukanan oleh desainer umum musik pembukaan Olimpiade Beijing, Chen Qigang. ”Alasan mengapa si kecil Yang tidak terpilih untuk tampil adalah karena kami ingin menampilkan image yang tepat, kami berpikir apa yang terbaik untuk China,” kata Chen. Pernyataan Chen itu dilansir dalam Sina.com. Sayang, situs itu buru-buru diblokir.

Tidak selesai dari pergantian “penyanyi”, pelaksana olimpiade Beijing juga melakukan manipulasi lain ketika acara pembukaan. Pesta kembang api yang terlihat sangat luar biasa itu ternyata sebagian berupa animasi komputer. Cara ini tentu saja untuk memberi efek fantastis bagi penonton televisi. Penonton di stadion sarang burung (bird’s nest) Beijing, tidak melihat pesta kembang api yang berada di luar stadion. Hanya penonton televisi yang melihat, bagaimana disekeliling stadion dalam jarak sekitar 1 km, pancaran kembang api dimuntahkan ke udara. Ternyata itu adalah animasi komputer.

Trik manipulasi panitia pembukaan olimpiade Beijing ini, secara teknik, termasuk hebat. Saya yang melihat acara pembukaan di televisi, tidak mengira kalau sebagian pesta kembang api adalah animasi komputer. Nyaris tidak ada jeda antara gambar yang ditampilkan dari dalam stadion, dan gambar yang terlihat di TV ketika kembang api bersemburatan ke langit di luar stadion.

Masalahnya adalah, seberapa jauh manipulasi seperti itu bisa ditolerir oleh penonton televisi. Sebagian kita merasa “dikibuli” dengan sajian yang spektakuler. Padahal, itu cuma utak-atik programer komputer. Secara etis itu tentu sangat mengurangi “nilai” Olimpiade Beijing. Bahkan itu sudah merupakan manipulasi global. Padahal semangat olimpiade adalah mengedepankan sportivitas. Manipulasi seperti yang dilakukan panitia Olimpiade Beijing tidak mencerminkan sportivitas.

Apakah manipulasi itu akan dilakukan juga pada acara penutupan nanti. Sebagian kita mungkin merasa penasaran, bagaimana dan apanya yang akan dimanipulasi lagi di acara penutupan olimpiade Beijing. Atau sebagian kita, menjadi merasa muak, dan tidak ingin melihat lagi penipuan global dilakukan. Semua terserah anda.

Sumber: Kompas

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s