Enam Jam tanpa Knalpot di Raya Darmo

Jawa Pos, 25 Agustus 2008
SURABAYA – Program car free day atau hari bebas kendaraan bermotor resmi diberlakukan di Jl Raya Darmo kemarin (24/8). Selama enam jam sejak pukul 06.00 hingga 12.00, seluruh badan jalan protokol itu tak boleh dilewati kendaraan bermotor. Namun, karena kurang matangnya persiapan dan sosialisasi, sejumlah pengendara tetap nekat nyelonong ke Jl Raya Darmo. Sebagian besar protes karena terjadi kemacetan di sejumlah jalur.

Meski masih banyak kekurangan, banyak warga yang tampak benar-benar menikmati udara bersih serta lengangnya Jl Raya Darmo. Anak-anak kecil berlarian dengan riang. Para remaja hingga dewasa bebas bermain futsal di depan Taman Bungkul.

Penghobi skateboard bisa bebas melesat bersama papan luncurnya di sepanjang Raya Darmo. Begitu pula dengan penggila sepatu roda. Belasan jenis olahraga dadakan tampak tumpah ruah di jalan itu. Ada yang main bulu tangkis asal-asalan, bersepeda, atau sekadar juggling dengan bola plastik.

”Kami ingin menikmati hari ini. Sebelumnya, kalau ingin main futsal, kami harus menyewa lapangan dengan harga mahal. Di sini gratis dan bisa main sepuasnya,” ungkap Satrio, penikmat car free day, yang kemarin tampak lelah setelah bermain fustal di badan Jalan Raya Darmo.

Dia mengaku nongol di Jl Raya Darmo bersama kawan-kawannya sejak pukul 05.00. Padahal, rumah mereka terbilang cukup jauh dari kawasan tersebut. Salah seorang di antara mereka tinggal di Banyu Rejo. ”Kami sengaja datang pagi karena katanya car free day hanya sebentar,” ujar Priyo, teman Satrio.

Selain olahraga, sebagian warga Surabaya memanfaatkan lengangnya Raya Darmo untuk refreshing. Ada pasutri muda yang berjalan kaki melihat-lihat pemandangan sambil mendorong kereta bayi. Bahkan ada yang bermain karambol di tengah jalan. ”Ide main karambol di tengah jalan ini sudah kami cetuskan beberapa hari lalu. Kami salut kepada pemkot yang makin peduli terhadap kebersihan udara di kota ini,” ungkap Anas, warga Raya Darmo.

Car free day ternyata juga menginspirasi sekelompok orang untuk membentuk kelompok olahraga bersepeda. Misalnya, para pegawai PT Pos sepakat membentuk Kebonrojo Cycling Club. Sebagai awal pembentukan, komunitas tersebut bersepeda bersama di Raya Darmo.

Kepala Kantor Pos Surabaya Barkah Hadi Mulyo menilai, program car free day sungguh luar biasa. Karena itu, mereka meminta agar pemkot memperpanjang rute tersebut. ”Kalau bisa mulai Panglima Sudirman sudah ditutup,” ujarnya.

Mereka menyarankan agar pemkot dan polwiltabes berani menindak tegas warga yang melanggar dengan melintasi zona bebas kendaraan bermotor itu. ”Ditilang saja,” tegasnya.

Macet di Jalur Alternatif

Di sisi lain, program car free day juga menuai banyak kendala lantaran kurang gencarnya sosialisasi dan persiapan pengaturan lalu lintas. Ketika para polantas menutup ruas Jalan Raya Darmo pukul 06.00 (mulai perempatan dr Soetomo hingga di depan Masjid Al-Falah), sejumlah pengendara tampak bingung.

Di perempatan dr Soetomo, polisi langsung mengarahkan semua pengendara dari utara menuju Jalan Dinoyo hingga Darmokali. Sementara itu, pengendara yang datang dari selatan (Wonokromo) langsung dialihkan lewat Jl Diponegoro.

Karena tak tahu program car free day, beberapa pengendara tampak berusaha menembus kembali ke Raya Darmo melalui Jalan Kapuas, Comal, dan Bintoro. Tapi, para petugas sudah memblokade seluruh ujung jalan itu yang bersentuhan dengan Raya Darmo. Para pengendara tersebut terpaksa mencari jalur alternatif.

Pengunjung yang ingin ke Taman Bungkul harus melalui Jl Dinoyo hingga Darmokali, lantas lewat Jalan Bengawan. ”Saya harus putar-putar dulu,” kata Alfiansyah, salah seorang pengunjung Taman Bungkul.

Dia dan keluarganya mengaku rutin pergi ke taman tersebut setiap Minggu. Kendati demikian, dia dan keluarganya tidak berkeberatan atas adanya program itu. ”Ya, kami sangat senang. Lihat saja, jalan menjadi sepi dan bebas asap,” ujarnya.

Namun, ada pengendara yang ngomel lantaran merasa perjalanannya terhambat. Salah satunya Siswoko, pria yang mengaku hendak mengunjungi kerabatnya di Rumah Sakit Darmo. Dari Sidoarjo, pria berusia 38 tahun tersebut akhirnya banting setir lewat Jalan Diponegoro, kemudian menuju rumah sakit melalui Jl Bintoro.

Yang merasa paling dirugikan adalah para sopir angkot. Banyak yang kecele dan harus putar balik mencari beberapa jalur alternatif. Contohnya, Moh. Sofyan, sopir Lin A. Untuk menuju Terminal Bratang, dia harus melewati Raya Darmo. Tapi, karena jalan itu ditutup, dia lewat Darmokali. ”Beberapa penumpang saya hendak turun di Raya Darmo. Mereka ngomel karena saya tidak bisa lewat situ,” ungkapnya.

Kemacetan selama dua jam sempat terjadi di Jalan Darmokali. Yang lebih parah terjadi di Jalan Diponegoro hingga Pasar Kembang. Maklum, jalan itu adalah alternatif utama bagi pengendara dari arah selatan. Banyak pengguna jalan yang mengumpat lantaran macet. ”Rasanya seperti bukan hari Minggu. Macet terus,” tegas Irmawan, salah seorang pengendara mobil.

Di bagian lain, kendati petugas sudah berusaha menutup akses masuk Raya Darmo, masih ada pengendara yang nekat nyelonong. Awalnya petugas dari kepolisian dan Dinas Perhubungan menghentikan mereka. Namun, semakin siang petugas membiarkan ulah para penerobos itu. ”Mau dilarang gimana? Wong ini programnya pemkot, bukan programnya polisi,” kata salah seorang petugas.

Akibatnya, meski pemkot sudah mengampanyekan Raya Darmo jalur nonkendaraan bermotor, toh beberapa sepeda motor dan mobil masih berseliweran. Tak urung, hal itu memicu protes dari warga yang sedang menikmati jalan tersebut. (kit/fat)
Sumber : Jawa Pos

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s