Pernak-pernik car free day Surabaya

Hari Minggu 24 Agustus 2008, Jalan Raya Darmo sepanjang kurang lebih 2,5 kilometer dari depan mesjid Alfalah sampai perempatan Jl. Dr. Sutomo, ditutup dari kendaraan bermotor selama 6 jam. Kegiatan car free day, berupa penutupan untuk kendaraan bermotor itu dimulai jam 6 pagi sampai jam 12 siang. Nah, untuk mensosialisasikan kegiatan itu kepada warga Surabaya, kantor saya memasang beberapa pemberitahuan dalam bentuk spanduk, baliho, poster, dan pemberitahuan langsung kepada warga di sepanjang jalan tersebut.

Kantor sayapun menyiapkan bahan-bahan poster dan spanduk serta alat-alat lainnya, dengan maksud akan segera dipasang ditempat-tempat yang berdekatan dengan jalan Raya Darmo. Kami merencanakan setidaknya 4 hari sebelum kegiatan, pemberitahuan itu sudah terpasang. Sejatinya pemasangan pemberitahuan yang sifatnya non komersil, apalagi dilakukan oleh kantor pemerintah daerah, tidak memerlukan biaya.

Pemasangan spanduk kegiatan non komersil yang dilakukan oleh instansi Pemkot Surabaya, memang tidak memerlukan biaya. Maka rekan saya yang ditugasi, memasang hampir 20 buah spanduk disekitar jalan Raya Darmo, termasuk di jalan Dinoyo. Sewaktu pemasangan, rekan kerja saya sudah diingatkan, oleh orang yang sudah biasa memasang spanduk, bahwa pemasangan spanduk dibeberapa titik strategis harus membayar “uang keamanan” kepada oknum tertentu yang menjadi “penjaga” disekitar itu. kalau tidak, maka spanduk yang dipasang tidak akan berumur lama, akan hilang dari tempatnya.

Tapi rekan sekerja saya, kurang percaya, “Mosok spanduk Pemkot untuk kegiatan car free day akan hilang”, pikirnya. Jadi rekan sekerja saya, tidak membayar apa-apa kepada siapapun. Ternyata, sekitar 4 jam setelah pemasangan spanduk, rekan sekerja saya berkeliling melihat spanduk yang dipasang. Benar saja, dalam waktu sekitar 4 jam, ada dua spanduk yang hilang. Spanduk pengumuman car free day itu raib entah kemana. Tentulah raibnya spanduk itu, karena ada yang membongkar. Besoknya, ketika spanduk-spanduk di cek lagi, jumlah spanduk yang raib menjadi lima buah.

Ketika rekan sekerja saya menelusuri raibnya spanduk itu, ditemukan informasi yang agak sulit dipercaya. Konon disekitar lokasi pemasangan spanduk itu, ada oknum preman yang menjadi “penjaga”. Setiap pihak yang mau pasang spanduk, harus bayar ke oknum tadi. Dan tarifnya, sungguh tidak masuk akal. Untuk pemasangan spanduk selama seminggu, maka pemasang harus mengeluarkan kocek sejumlah Rp. 350 ribu dan dibayarkan ke oknum preman itu. Kalau tidak, jangan harap spanduk masih terpasang ditempat.

Oknum preman itu tidak segan-segan menawarkan “jasa menjaga” spanduk kepada siapa yang ingin memasang. Dikalangan perusahaan jasa reklame, oknum preman itu sesungguhnya sudah dikenal, tapi mereka tidak bisa berbuat banyak. Supaya spanduk dan reklamenya tidak di curi orang, mereka terpaksan rela membayar “uang keamanan” yang tidak sedikit itu.

Ada-ada saja cara preman mencari uang di Surabaya.

One thought on “Pernak-pernik car free day Surabaya

  1. memang bermacam-macam
    cara orang mencari duit
    tak peduli halal atau haram
    kl di Medan, namanya ‘uang takut’

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s