Indonesia di urutan 83 dari 100 negara, tingkat belerang rendah

Untuk kebijakan bidang lingkungan hidup, khususnya pengaturan kadar belerang dalam minyak solar, Indonesia masih mempuyai rapor jelek. Dari 100 negara, Indonesia berada di peringkat 83 berdasarkan kebijakan regulasi pengaturan kadar sulfur dalam minyak solar. Dalam kata lain, penetapan urutan didasarkan pada yang standar kualitas bahan bakar solar. Peringkat itu dikeluarkan oleh International Fuel Quality Center IFQC; (www.ifqc.org) pada bulan April 2008.

Untuk urutan teratas ditempati oleh negara Swedia, kemudian Jerman dan Jepang. Ke 100 negara itu dianalisa oleh IFQC, berdasarkan kandungan sulfur yang diperbolehkan dalam minyak solar atau disel untuk transportasi. Di Swedia, kandungan sulfur dalam minyak disel transportasi berada pada kisaran 10 ppm (parts per million). Dengan angka sebesar itu, kendaraan berbahan bakar solar di Swedia nyaris tidak mencemari udara.

Bandingkan dengan Indonesia, dimana solar yang dijual dipasaran, kebanyakan mengandung sulfur sampai 5.000 ppm. Sehingga kendaraan Indonesia mengeluarkan Sulfur oksida dan partikulat yang sangat tinggi. Ada beberapa negara yang masih menjual solar dengan kandungan sulfur mencapai 10.000 ppm. Di atmosfir, SO2 bisa bereaksi membentuk H2SO4 (asam sulfat). Kalau kandungannya cukup banyak, maka bisa menyebabkan hujan asam (acid rain). yang berbahaya bagi mahluk hidup.

Keberhasilan negara-negara yang tingkat sulfur dalam minyak solarnya rendah, selain karena peraturan dan standar kualitas bahan bakar yang ketat, tetapi juga pemberlakuan insentif dan disinsentif dalam kebijakan enerji secara keseluruhan. Negara-negara yang peringkat kualitas bahan bakarnya baik, umumnya adalah negara-negara di Eropa. hanya Jepang yang masuk 3 besar. Negara Asia lainnya adalah Singapura diurutan 38, sedangkan Philipina berada pada ranking ke 55. Negara rangking ke 100 adalah Madagaskar.

Kalau diperhatikan peringkat itu, negara yang standar kualitas minyak solarnya baik, pada umumnya adalah negara-negara yang kebijakan lingkungan hidupnya juga sudah sangat baik. Secara umum negara Swedia dan Jepang adalah negara-negara yang standar kualitas lingkungan hidupnya cukup tinggi. Kedua negara itu selain memiliki aturan tentang lingkungan hidup yang ketat, kesadaran masyarakatnya juga tinggi, dan mekanisme insentif dan disinsentif yang diberlakukan sangat efektif.

Akan halnya Indonesia, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Sudah aturan main kurang lengkap, kesadaran rendah, dan meknisme insentif dan disinsentifnya tidak jelas. Kapan Indonesia bisa memperbaiki peringkat kualitas lingkungan hidup. Peringkat yang dikeluarkan oleh IFQC diupdate setiap enam bulan sekali. Apakah tahun depan peringkat Indonesia lebih baik atau malahan semakin buruk ??.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s