Pembeli adalah raja, di Tapanuli ….

Pembeli adalah raja. Itu prinsip yang dipegang teguh oleh para penjual yang sukses. Dengan prinsip itu, para penjual berusaha sekuat tenaga meyakinkan dan melayani para “raja”, calon pembelinya. Dengan pelayanan yang diberikan, para penjual menjaga agar pembeli merasa puas. Para penjual harus bisa meyakinkan bahwa apa yang mereka jual adalah sesuatu yang bagus yang pantas dimiliki oleh para “raja”. Kalaupun saat itu, sang “raja” tidak jadi membeli, tapi pelayanan dan produk yang ditawarkan akan selalu diingat oleh si pembeli, sang “raja”.

Prinsip “pembeli adalah raja”, nampaknya belum sepenuhnya difahami oleh banyak orang termasuk para pedagang souvenir di Tomok, Samosir. Pengalaman pariban, sepupu, saya menjadi contoh pemahaman prinsip itu. Beberapa waktu lalu, ketika masa libur sekolah, keluarga pariban saya dari Jakarta mudik ke bona pasogit, di Tapanuli. Diantara acara yang diikuti, mereka menyempatkan diri untuk jalan-jalan ke Tomok, di pulau Samosir.

Pariban saya yang sudah kelahiran “Betawi”, sambil jalan melihat-lihat barang souvenir di salah satu toko. Dia tertarik dengan tongkat “Tunggal Panaluan”, dan mencoba menawar. Karena tidak terlalu perlu untuk membeli, pariban saya menawar sekenanya, kurang dari setengah harga yang ditawarkan penjual. “Dua ratus ribu, ya inang“, katanya enteng, ketika penjual menawarkan 600 ribu untuk sebuah tongkat Tunggal Panaluan. Akhirnya harga tidak cocok, pariban saya tidak jadi membeli.

Beberapa saat kemudian, ketika akan kembali ke perahu, suami pariban saya lewat lagi didepan toko dimana istrinya sebelumnya menawar tongkat. Suami pariban saya memperhatikan beberapa barang di toko itu. Ibu penjual berusaha menawarkan dagangannya. Tiba-tiba suami penjual itu berkata:
Unang pola tawarhon tu amanta i, ai amanta ni ina-ina sinangkin do i. Dang marhepeng i”, “Tidak usahlah kamu tawarkan ke bapak itu, dia itu suami ibu yang tadi. Dia itu, tidak punya uang“.

Ucapan itu membuat suami pariban saya kaget. Dia yang kelahiran Laguboti tau betul apa arti ucapan itu. Suami pariban saya diam saja, tidak menjawab. Dia tidak ingin membuat pemilik toko merasa malu. Kalau dia mau, hampir semua isi toko bapak itu bisa dia beli. Rupanya sipenjual tidak mengira, kalau pariban saya adalah putra Batak, dan punya uang.

Kejadian penjual souvenir di Tomok yang dialami pariban saya, bukanlah satu-satunya. Mungkin itu adalah contoh cara menjual yang “keliru” dari para pedagang di Tomok. Tanpa bermaksud menjeneralisir, hal yang sama sering dijumpai di daerah Tapanuli. Pembeli tidak diperlakukan sebagai raja. Apakah perilaku yang demikian, mempunyai hubungan langsung atau tidak langsung dengan menurunnya pariwisata di Danau Toba. Entahlah. Hal itu perlu dicermati secara sunguh-sungguh.

Kalaulah prinsip penjual adalah raja belum sepenuhnya dipahami oleh para pelaku usaha Tapanuli, maka menjadi tugas Pemerintah Kabupaten, terutama instansi yang bergerak dibidang pariwisata dan perdagangan untuk meningkatkan pemahaman para pelaku usaha di Tapanuli. Untuk bisa bersaing dengan daerah lain, para pelaku usaha di Tapanuli harus berorientasi “keluar”. Perlu ditingkatkan kemampuan menjual dan memasarkan daerah, termasuk untuk pelaku usaha dan aparat birokrasi. “Menjual dan memasarkan” potensi daerah menjadi penting, tanpa harus menggadaikan aset masing-masing daerah. Pemerintah daerah kabupaten berkewajiban memberdayakan para pelaku usaha, agar berorientasi keluar, agar open minded. Mau bersaing dengan pihak lain.

4 thoughts on “Pembeli adalah raja, di Tapanuli ….

  1. hal-hal “lucu” lain tentang jual beli yang sudah menjadi guyonan di komunitas batak :
    – ombus-ombus, las kede …. ; padahal sudah jogal2 pundan ngali2
    – au pe manghilhil inang, holan mambondut pe ho – biar aku yang ngunyah, nanti inang tinggal telan aja – ; penjual kacang yang memaksa seorang ibu yg sudah tidak punya gigi untuk membeli kacangnya

    http://rapmengkel.wordpress.com

    Like

  2. Asing dope panjual pisang amang, nadi parapat i… tong do pe lingkungan sekitar danau toba… ditawarhon ma tu rombongan nami… 10 rb 1 sisir ai dibereng halak na baru ro sian ranto… di tawar akkang ma pisang i 5000 martahan do inanta i 10.000 alai dung leleng didok ma 8000… alai gabe jadina nian 7000 do… ala naeng dibuat akkang do 3 sisir, ro ma dongan ni inantai sian sadaan… 12rb do amang… pisang i… ninna… gabe dang jadi dibuat akkang pisang i… ai naso diboto inanta na sada persoalan nga gogo mandok tu arga ni pisang i… dang diboto ibana di merauke pisang sipata 5000 2 sisir…. nga na tabo i

    Like

  3. PEMBELI ADALAH RAJA, MOHON MAAF SAYA SAMA SEKALI TIDAK SEPENDAPAT, PEMBELI DAN PENJUAL ADALAH SEDERAJAT ( BERDIRI SAMA TINGGI DUDUK SAMA RENDAH ). DENGAN PENGERTIAN YANG LEBIH LUAS SALING MENGUNTUNGKAN, SALING MEMUASKAN, SALING MENGHORMATI, SALING PENGERTIAN, SALING MEMBANTU DAN SALING SALING DALAM ARTI POSITIP LAINNYA. PEMBELI ADALH RAJA ITU PRINSIP DAGANG JAMAN PENJAJAHAN DAHULU KALAU PENJAJAH NELANJA ATAU MEMBELI BARANG APA SAJA DIPASAR DENGAN MENAWAR BERAPAPUN MAUNYA DIKASIH, KALAU TIDA DIKASIH MARAH MARAH, ITU PRINSIP HARUS DILARUNG.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s