Pada bulan puasa; statistik: harga naik, kriminalitas naik

Setidaknya ada dua fenomena yang agak sulit dicerna yang terjadi selama bulan puasa. Begitu mendekati bulan puasa, harga-harga kebutuhan masyarakat sehari-hari seolah berpacu naik, berlomba-lomba meninggalkan posisi pada bulan-bulan sebelumnya. Hal yang kedua adalah karena adanya kecendrungan peningkatan kriminalitas khususnya pencurian di kawasan perumahan di perkotaan. Kecendrungan ini sudah terjadi bertahun-tahun. Karenanya harus ada peningkatan kewaspadaan terhadap dompet di kantong agar tak terkuras, dan kesiagaan di rumah agar tidak sampai kemalingan.

Kedua fenomena diatas sulit dicerna karena sejatinya puasa adalah usaha menahan diri dan mengurangi konsumsi. Apa daya, fakta dilapangan tidak seperti apa yang menjadi tujuan. Harga-harga yang meningkat menimbulkan kenaikan inflasi. Secara awam difahami kalau inflasi disebabkan tingginya permintaan konsumsi atau buruknya kinerja ekonomi secara keseluruhan. Kenaikan inflasi dikala puasa, kelihatannya dikarenakan oleh faktor konsumsi yang melambung. Akan tetapi justru disitulah kontroversi nya. Sejatinya, puasa adalah untuk mengendalikan nafsu, termasuk nafsu membeli makanan dan kebutuhan. Namun data-data statisik menunjukkan kondisi yang sebaliknya, pola konsumsi justru meningkat. Setidaknya itu yang bisa disimak dari pemberitaan di berbagai media.

Harian Kompas Jawa Timur selasa 9 September 2008, menurunkan liputan tentang kriminalitas di Surabaya yang meningkat di bulan September ini. Apa yang memicu peningkatan kriminalitas ini perlu dicermati. Dan mengapa hal itu terjadi pada saat puasa.

Kalau suatu kondisi lapangan, menunjukkan data yang terbalik dari tujuan suatu keadaan, secara logika awam kita melihat ada persoalan. Apakah data-data lapangan itu tidak akurat, atau ada kondisi lain yang tidak berjalan sesuai kaidahnya.

Indonesia memang unik, data-data statistik sering sulit difahami. Dalam kasus lain, semua orang Indonesia mengamini bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang religius. Setidak-tidaknya simbol-simbol religi sangat kuta terlihat dimasyarakat. Tapi pada saat yang sama, data menunjukkan bahwa Indonesia adalah termasuk negara terkorup di dunia. Seharusnya ada korelasi langsung antara tingkat religius masyarakat dengan tingkat korupsi. Tapi rupanya di Indonesia, korelasi itu tidak jelas.

Metoda penelitian dan metoda statistik umum tidak dapat dipakai begitu saja di masyarakat Indonesia. Ada faktor koreksi yang harus dilakukan, ketika menganalisa suatu masalah. Sering dijumpai hal-hal anomali di negeri ini. Konon itu pertanda kalau kesejahteraan dan kemakmuran masih sangat jauh.

One thought on “Pada bulan puasa; statistik: harga naik, kriminalitas naik

  1. Rabu 10 September kemarin, dua perampok di tembak mati di Jalan Margo Rejo Surabaya. Dua perampok yang lain, sempat lolos dari kejaran polisi. Keempat perampok beraksi dengan terlebih dahulu menembak ban kendaraan korban. Korban terpaksa berhenti, karena ban sudah bocor. Begitu mobil korban berhenti, perampok langsung menggasak korban. Untung polisi kebetulan lewat. Uang 10 juta nyaris raib. Ternyata perampok adalah residivis kambuhan.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s