21 tewas….Religious Laundrying..(hoalah.., ???)

Dua puluh satu orang tewas di Pasuruan ketika akan berebut zakat pemberian Haji Saikhon. Mengenaskan, tragis, memilukan sekaligus menyesakkan dada, itulah gambaran emosional yang terasa, mendengar berita itu. Kenapa sampai begitu banyak korban, kenapa tidak bisa diantisipasi, kalau pada tahun-tahun sebelumnya juga sudah terjadi hal yang serupa. Dikabarkan ada dua korban tewas dan beberapa yang pingsan pada pembagian zakat tahun lalu. Sejumlah analisis dilakukan oleh banyak pihak, tapi yang menarik adalah analisa yang dikemukakan oleh Ahli Sosiologi dari IAIN Sunan Ampel Surabaya, Nur Syam. Menurut Nur Syam, setidaknya ada dua hal yang dapat dianalisa dari kejadian itu. Yang pertama, adalah masyarakat cenderung sudah meragukan lembaga resmi untuk pembagian zakat, dan yang kedua, adanya kegiatan pelaksanaan formalitas religi, dugaan praktek “religius laundrying“. (Kompas Jatim, 16 September 2008).

Analisa Nur Syam, menarik untuk dicermati, agar bisa melihat dan memahami kondisi masyarakat saat ini. Institusi resmi yang mempunyai mandat dan kewenangan melaksanakan tugasnya semakin diragukan integritasnya. Nur Syam melihat bahwa lembaga resmi yang seharusnya membagikan zakat dengan mekanisme yang baik, dinilai masyarakat tidak lagi melakukan tugasnya dengan baik. Ada kekuatiran, jangan-jangan, zakat yang diberikan tidak sampai kepada yang berhak. Atau, masyarakat berprasangka kalau “biaya operasional distribusi membengkak”, sehingga jumlah yang diterima oleh masyarakat menjadi sangat kecil.

Fenomena krisis kepercayaan ini sesungguhnya adalah potret dari berbagai lembaga resmi yang ada di negeri ini. Berbagai kejadian sering dilihat masyarakat, dimana lembaga-lembaga resmi tidak lagi melakukan tugasnya sebagaimana mestinya. Krisis kepercayaan publik terhadap lembaga-lembaga itu sudah sampai kepada lembaga sosial masyarakat, yang seharusnya menjadi benteng perlindungan kepentingan publik.Tapi, kalau benteng perlindungan publik dinilai tidak lagi kredibel melaksanakan tugasnya, akhirnya, masyarakat melakukan tindakan sendiri-sendiri. Dan kalau ini yang terjadi, kondisi masyarakat di negeri ini sudah “lampu merah” tanda bahaya.

Analisa kedua yang dikemukakan oleh Nur Syam adalah, adanya sebagian orang yang mempraktekkan religious laundrying, pencucian diri dengan menggunakan simbol-simbol religi. Kalau menganalogi dengan “money laundrying”, pencucian uang, yang pada umumnya adalah uang-uang yang berasal dari sumber-sumber yang tidak wajar. Malahan yang sering terjadi dalam “money laundrying” adalah bahwa uang itu berasal dari sumber yang tidak benar, dari praktek-praktek kejahatan.

Nur Syam menggunakan terminologi “religious laundrying“, seolah membandingkan dengan terminologi “money laundrying“. Seseorang melakukan “pencucian diri” melalui simbol-simbol religi yang berhubungan langsung dengan masyarakat banyak. Sehingga publik seolah menilai bahwa orang tersebut adalah sosok yang religius dan pemurah. Tapi kalau yang dilakukan adalah “religious laundrying“, sesungguhnya terjadi hanyalah upaya untuk menutupi poret diri yang sesungguhnya. Beramal untuk menutupi perbuatan yang tidak benar, “berbuat baik” sebagai kamuflase perbuatan jahat dengan memanipulasi simbol-simbol religi. Disini unsur kemunafikan menjadi sangat tinggi. Tapi siapa yang bisa menilai kalau perbuatan seseorang adalah “religious laundrying” kecuali Sang Khalik, Yang Maha Tau.

One thought on “21 tewas….Religious Laundrying..(hoalah.., ???)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s