Mall boros ditengah jaman sulit enerji

Awal tahun 2008, sebuah pusat perbelanjaan baru dioperasikan di Surabaya. Berbulan-bulan sesudahnya saya akhirnya mengunjungi pusat perbelanjaan yang terletak dikawasan Jalan Mayjen Sungkono itu, setelah setengah dipaksa anak saya. Teman-teman anak saya yang ABG itu sudah pada nangkring di mall itu, sementara anak saya belum pernah mampir. Suatu sore, saya dan istri serta kedua anak saya menuju mall itu untuk sekedar cari makan. Setelah sempat berkeliling, akhirnya kami berhenti di salah satu outlet di foodcourt untuk bersantap. Yang membuat saya kaget, ternyata mall itu sangat boros listrik dan menghambur-hamburkan enerji.

Saya tidak habis pikir, ditengah mahalnya enerji yang sudah berlangsung beberapa tahun, masih ada pengusaha dan pengelola mall yang memboroskan uang dan menghamburkan enerji. Betapa tidak, mall di dekat kawasan Makodam Brawijaya itu memiliki sebuah panggung terbuka, dimana pertunjukan musik bisa dilakukan. Pada saat saya mampir ke sana sebuah band lokal manggung membawakan beberapa lagu. Panggung yang dikelilingi oleh sejumlah outlet itu dilengkapi dengan semacam lapangan terbuka didepannya sehingga penonton bisa sambil berdiri dan bersantai menikmati penampilan pemusik.

Panggungnya ditutupi atap kanopi yang cukup besar, tapi tempat penonton berada dibawah langit nan luas, tidak ada apa-apa yang menghalangi. Bila hujan turun, maka sebagian besar lapangan penonton akan tersiram air. Bagian belakang panggung langsung terhubung dengan outlet makanan dan pakaian. Meski ada dinding pembatas antara panggung dengan outlet, tapi bagian samping panggung menyatu dengan outlet yang berjejer. Udara dapat bersirkulasi dengan bebas dari outlet ke panggung pertunjukan.

Semua outlet pakaian yang ada disana dilengkapi dengan mesin pendingin udara (AC), pengunjung dapat merasakan kesejukan ketika melihat-lihat pakaian yang dipajang. Tapi justru disitulah masalahnya, mesin pendingin udara tersebut, selain mendinginkan gerai (outlet) pakaian, tapi terhubung langsung dengan udara luar, tanpa pembatas. Dengan kata lain, mesin pendingin udara secara terus menerus mendinginkan temperatur ruangan dan udara luar. Suatu pemborosan yang luar biasa. Jelas design mall itu tidak peduli dengan hemat enerji. Arsitektur dan insinyur perancangnya mungkin adalah orang-orang kadaluawarsa, yang tidak mengikuti perkembangan jaman yang semakin peduli lingkungan.

Sampai sekarang, saya tidak tau, apakah sistem pendingin udara mall tersebut masih bekerja seperti itu. Setelah kunjungan pertama, saya belum pernah lagi kesana. Mudah-mudahan setelah rekening listriknya terus-menerus tinggi, mulai ada pemikiran untuk memperbaiki sistim pendingin udaranya. Masalahnya meski pengelola mall mampu membayar rekening listrik yang tinggi, tapi pemborosan seperti itu mestinya tidak dilakukan. Gerakan hemat enerji, bukan sekedar untuk menekan tagihan listrik, tapi juga menghemat sumber daya, karena listrik diperoleh umumnya dari bahan bakar fosil yang tidak terbarukan. Menghemat enerji berarti ikut menjaga kelangsungan hidup generasi mendatang.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s