Acara adat saur maulibulung ditengah kota

Senin kemarin, saya bolos kantor lebih dari setengah hari sampai sore, karena menghadiri acara persiapan pemakaman seorang kerabat. Karena orang yang meninggal sudah “full gabe”, maka proses pemakamannya masuk katagori “saur maulibulung“. Meski malam sebelumnya saya hadir dalam rapat “tonggo raja”, saya lupa bagaimana ceritanya sampai pemakamannya sudah “berkelas” saur maulibulung.

Prosesi persiapan pemakaman katagori saur maulibulung termasuk paling panjang dalam adat Batak. Katagori saur maulibulung termasuk katagori tertinggi dalam adat, karena semasa hidupnya dinilai berhasil mencapai puncak kehidupan, yaitu “full hagabeon”. Dalam kondisi demikian, meninggalnya seseorang tidak lagi dinilai sebagai suatu kesedihan, tetapi sebaliknya adalah berkah yang direspon dengan kegembiraan. Maka prosesi persiapan pemakaman berlangsung seperi “pesta kegembiraan“. Karena itu pula selain “boan” yang adalah “sigagat duhut”, yaitu sapi besar, juga proses acara memakai musik gondang yang digabung dengan organ keyboard.

Saya tidak ingin mengupas soal adat saur maulibulungnya, tetapi adalah pada teknis pelaksanaan acaranya di kota seperti Surabaya. Kebetulan yang meninggal adalah seorang ibu yang tinggal bersama anaknya di daerah permukiman yang sangat padat. Lokasi rumahnya berada di jalan yang lebarnya cuma sekitar 3,5 meter. Jadi masing-masing rumah sangat berimpitan, dan kebanyakan tidak punya halaman. Dengan kata lain, kawasannya sangat padat. Meski begitu keluarga ini sebenarnya termasuk “paradongan“, alias “berada”, di daerah itu.

Ketika acara “tonggo raja”, para undangan yang hadir, sudah menggunakan seluruh badan jalan di depan beberapa rumah. Jadi praktis para pemilik rumah mengalami kesulitan untuk masuk kerumah masing-masing. Setidaknya ada sekitar 4 rumah disisi kiri-dan kanan keluarga yang meninggal yang aksesnya tertutup. Di depan sekitar 6 sampai 8 rumah juga tertutup akesnya. Sudah tentu, karena semua jalan terpakai untuk para tamu, akses ke bagian ujung jalan tertutup sama sekali.

Maka ketika acara adat, jumlah tamu berlipat ganda, sehingga kursi menjadi lebih banyak. Parkir sepeda motor di jalan yang sempit, belum lagi parkir mobil di jalan rayanya cukup banyak. Agak sulit juga memarkir kendaraan untuk menghadiri acara persiapan pemakaman tersebut. Acara persiapan saur maulibuung, dimulai dengan “manjalo haroro ni hula-hula dan horong tulang“. Acara ini adalah untuk menyambut kehadiran kerabat hula-hula yang akan melayat dan mangulosi. Acara dimulai jam 10 pagi, saya yang hadir mewakili kelompok tulang, baru melaksanakan acara jam 3 sore lebih. Saya menunggu hampir 5 jam baru dapat giliran untuk menyampaikan ulos. Saya perkirakan, acara “manjalo“, menerima, kelompok ini berlangsung hampir sampai jam 5 sore. Bukan main.

Selama acara itu musik gondang tidak berhenti, kecuali diselingi mandok hata dari berbagai pihak. Yang jadi masalah, ya itulah bunyi musik gondang yang volumenya sangat keras, dan penutupan jalan sangat mengganggu para tetangga. Bagi orang Batak, musik gondang adalah merdu, tapi bagi para tetangga, itu adalah sesuatu yang asing. Dan bila sesuatu yang asing di telinga berlangsung dari pagi hingga sore, saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan para tetangga. Apalagi terjadinya di bulan puasa, dimusim kemarau yang panas di Surabaya. Toleransi tetangga ada batasnya.

Mengapa acara seperti itu tidak dilakukan di tempat lain saja, di gedung misalnya, sehingga para tamu lebih mudah untuk datang, tempatnya lebih rapi. Parkir tersedia, dan yang pasti, tetangga tidak merasa terganggu. Bukankah acara “unjuk”, pesta, pernikahan juga sudah dilaksanakan di gedung, padahal dulunya juga dilaksanakan di rumah. Barangkali, memang tidak mudah menemukan gedung tempat acara persiapan pemakaman, mengingat gedung-pertemuan di kota besar sudah terpesan jauh-jauh hari. Acara persiapan pemakaman, kan tidak bisa direncanakan.

Tetapi di Surabaya, ada fasilitas tempat persiapan pemakaman jenazah, yang selama ini memang digunakan oleh masyarakat Tionghoa. Gedung khusus persiapan acara pemakaman itu cukup besar, parkirnya luas, dan biasanya ada banyak tetangga “jenazah” disana. Penjagaan cukup baik, fasilitas cukup baik dan lengkap. Hanya saja masyarakat Batak belum terbiasa menggunakan gedung seperti Balai Yasa itu untuk tempat proses persiapan pemakaman.

Orang agak enggan untuk memulai sesuatu yang tidak biasa. Mungkin masyarakat Tionghoa, dulunya juga begitu, tidak biasa. Tapi sekarang sudah biasa. Bagaimana masyarakat Batak di kota besar ??

Catatan:
Boan” adalah hewan yang disembelih sebagai bagian dari prosesi persiapan pemakaman.

2 thoughts on “Acara adat saur maulibulung ditengah kota

  1. Mungkin mau meniru budaya betawi di area jakarta sini yang suka nutup jalan kalo punya hajatan.. mau jalan kecil, sedang sampe jalan raya sekalipun bisa ditutup klo si empunya yang punya gawe.. Dah gitu sama sekali tidak peduli dengan nasib orang lain yang kebetulan berlalu lintas. Petunjuk jalan menuju jalan alternatif jarang sekali diberikan. Cupuk palangin hansip atau preman di ujung jalan ia pikir sudah menyelesaikan masalah.. Situ Senang Sini yang Susah.. cucian d….!!!

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s