Emisi gas rumah kaca dari transportasi laut

Transportasi laut, terutama yang menggunakan kapal motor sebagai penggerak, merupakan salah satu sumber pencemar udara. Kapal-kapal motor mulai dari ukuran yang kecil sampai yang besar umumnya menggunakan minyak disel/solar sebagai bahan bakar motor. Minyak disel/solar yang dibakar di mesin kapal mengeluarkan sejumlah gas seperti NOx, SOx, CO2. Semua gas tersebut menjadi penyebab pemanasan global yang memicu perubahan iklim.

Tingginya mobilisasi barang dan penumpang dengan menggunakan transportasi laut, berdampak pada tingginya emisi gas rumah kaca yang dikeluarkan ke atmosfir. Meski kapal-kapal mengeluarkan emisi gas buang di tengah laut, seolah-olah tidak mencemari lingkungan, padahal polutan yang keluar dari cerobong seperti SOx, NOX dan CO2 tetap masuk ke atmosfir dan mencemari lingkungan. Selain memacu percepatan pemanasan global, polutan dari kapal di laut juga bisa menimbulkan hujan asam (acid rain). Ketika kapal mendekati pelabuhan, kapal motor mencemari udara sekiar pelabuhan. Bahkan selama kapal berada di kawasan pelabuhan, kapal motor tetap menyalakan mesin untuk memenuhi beberapa kebutuhan terutama listrik. Selama mesin beroperasi, berarti selama itu pula kapal mengeluarkan polutan ke udara.

Indonesia sebagai negara kepulauan yang besar, volume penggunaan kapal motor cukup besar pula. Padahal jarak antara satu pulau dengan pulau lainnya juga relatif tidak terlalu jauh. Artinya polutan dari kapal motor dengan cepat bisa mencapai daratan kepulauan dan kota-kota Indonesia. Karena itu potensi pencemaran dari kapal motor atau transportasi laut secara umum, tidak bisa dianggap kecil. Kontribusi pencemaran udara dari transportasi laut terhadap pencemaran udara dan terhadap emisi gas rumah kaca perlu dianalisa secara cermat. Hal ini dibutuhkan untuk menentukan langkah-langkah yang diperlukan untuk menentukan kebijakan pengendalian pencemaran udara dari sektor transportasi laut.

Walau bagaimanapun, tanpa harus menunggu kebijakan pengendalian pencemaran udara, para pelaku usaha jasa transportasi laut sudah harus memulai langkah-langkah peningkatan efisiensi bahan bakar minyak di sektor transportasi laut. Semakin rendah pemakaian bahan bakar, berarti semakin rendah pula pencemaran. Selain itu sudah harus dipikirkan pula peningkatan mesin-mesin kapal yang sistem pembakarannya kurang baik. Kalau mesin kapal tidak dipelihara dan dirawat secara baik, maka konsentrasi polutannya lebih buruk dibandingkan dengan mesin yang dirawat dengan baik.

Yang penting tidak boleh diabaikan adalah peningkatan kualitas bahan bakar. Seringkali untuk kepentingan penghematan operasional sesaat, bahan bakar yang digunakan dari jenis harga rendah, atau bahkan bahan bakar yang dioplos. Hal ini akan mengakibatkan selain mempercepat kerusakan mesin, tapi juga tingkat pencemaran udara yang lebih tinggi.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s