Goyangan BPK Bagusrangin Bandung

Bulan Agustus lalu saya dan istri sempat ke Bandung. Anak saya Daniel bersama teman-teman sekolahnya ikut Festival Paduan Suara di ITB. Semangat menjadi supporter anak, ditambah bernostalgia menjadi klop meluangkan akhir pekan di Bandung. Jadi selain menyemangati anak-anak SMA St Louis ikut paduan suara, tapi juga jadi wisatawan domestik, cari makanan, berwisata kuliner.

Karena sudah bertahun-tahun tidak ke Bandung, saya sudah merasa jadi “orang udik“, jadi supaya tidak kebangetan udiknya, kami ajaklah keponakan saya Erika, yang baru saja merampungkan kuliahnya di Unpad. Lebih klop lagi ketika kakak ipar saya (ibunya Erika) juga datang dari Jakarta bawa kendaraan. Erika menjadi “tour leader” (gratis) kami selama di Bandung.

Seperti biasanya ibu-ibu, sasaran yang direncanakan istri saya adalah mengunjungi factory outlet FO, dan sasarannya adalah factory outlet, FO di jalan Dago dan FO jalan Riau. Begitu selesai sarapan, istri saya sudah tidak sabaran untuk “ngelayap” di jalan Dago, tidak terasa rupanya sudah sampai siang juga dan perut sudah mulai keroncongan. Kami rencananya mau cari makan siang, tapi sambil jalan mutar-mutar belum sepakat mau makan dimana. Pilihannya adalah, masakan Sunda atau masakan Batak. Erika, sebagai tour leader merangkap driver, akhirnya berputar di sekitar lapangan Gasibu, dan memutuskan untuk makan di BPK (babi panggang Karo) di Bagusrangin.

Waktu masanya saya kuliah dulu, BPK sudah ada di Bagusrangin, kemudian dengan dibangunnya lapangan Gasibu dan tamannya, BPK Bagusrangin pindah. Namun ternyata ada BPK baru berdiri, dan meski pemiliknya bukan keturunan Karo asli, tapi BPK nya enak sekali. Maka kamipun menuju warung BPK Siagian di Bagusrangin. Entah karena memang sudah lapar, tapi kami lahap sekali makannya. BPK Bagusrangin dengan sambal yang tidak terlalu pedas dan kuah sup menggoyang lidah untuk menikmati makan siang. Sayur daun singkong tumbuk melengkapi menu sebagai makanan khas Batak-Karo. Istri saya sampai bercucuran keringat menikmati Babi Panggang Karo. Bah.. tabo nai tahe.

Meski BPK Bagusrangin sangat menggoyang, ada yang agak mengganjal dengan penampilan warung yang kurang maksimal. Warung yang masuk gang dari tepi jalan raya itu, mestinya bisa lebih kinclong, kalau saja jalan masuk ke warung agak dipercantik. Sedikit polesan sudah menjadikan warung itu lebih “berkelas”. Selain itu, ruang pemanggangan, bagian atasnya bergabung dengan meja makan, sehingga asap pemanggangan masuk juga ke ruang makan. Seandainya ruang udaranya dipisah, dan dilengkapi dengan “exhaust fan”, maka ruang makan akan lebih nyaman, dan bersih dari jelaga.
Kenapa ya, banyak warung makanan khas Batak, kurang memperhatikan “penampilan”.?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s