Siklus air: memanfaatkan air daur ulang

Kamis kemarin kami membahas kerangka acuan Andal sebuah apartemen “rusunami” di Surabaya. Rencananya pengembang akan membangun sebuah “rusunami”, enambelas lantai di kawasan Surabaya Pusat. Sesuai ketentuan, si pengembang harus memproses Amdal terlebih dahulu. Kemarin adalah lanjutan proses sosialisasi yang sudah dilakukan di lingkugan sekitar area. Dalam pembahasan kemarin, pengembang dianjurkan untuk mendaur ulang air bekas pakai, sehingga selain menghemat air, sekaligus menyelamatkan lingkungan.  Namun timbul pertanyaan, seberapa jauh hasil dari daur ulang itu dapat dimanfaatkan, teruama bila ditinjau dari aspek religi.

Pembahasan  KA-Andal mengusulkan pendaur ulangan air. Hampir semua peserta pembahasan setuju atas usulan itu. Yang menjadi masalah adalah seberapa sah pemanfaatan air daur ulang dari segi hukum agama. Air yang akan didaur ulang termasuk dari buangan kamar mandi, termasuk urine dan tinja. Kalau air itu di “jernihkan” lagi,apakah halal atau haram untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari.  Saya tidak faham aspek halal atau haramnya air hasil daur ulang, dan tidak ingin membahas aspek itu. Karena saya tidak punya kompetensi di bidang itu.

Saya akan membahas “daur ulang air” secara umum. Di alam air menjalani siklus secara alamiah dari proses penguapan air di badan air permukaan seperti danau, sungai dan laut. Air menguap membentuk awan, kemudian awan mengalami proses pendinginan dan dibawa angin, dan kemudian jatuh dalam bentuk hujan. Air hujan meresap kedalam tanah menjadi air tanah, kemudian keluar berbentuk mata air. Air dari mata air, ada yang dimanfaatkan untuk pertanian, ada yang dimanfaatkan untuk kebutuhan manusia dan ada yang mengalir langsung ke sungai. Setelah dimanfaatkan manusia sebagian air menjadi limbah masuk ke dalam tanah atau dialirkan ke sungai. Dari sungai ada yang langsung menguap, dan sebagian besar dialirkan ke laut. Begitu prosesnya ber ulang-ulang. Siklus air secara alami berlangsung cukup panjang dan cukup lama. Sulit untuk menghitung secara tepat berapa lama air menjalani siklusnya, karena sangat tergantung  pada kondisi geografis, pemanfaatan oleh manusia dan sejumlah faktor lain.

Manusia memanfaatkan air dari perjalanan siklus air tersebut. Ada air yang dimanfaatkan langsung dari mata air yang dialirkan ke rumah atau ke tempat-tempat lain seperti rumah ibadah, sekolah, kantor restoran, dan lain-lain. Manusia juga memanfaatkan air PDAM yang diolah dari berbagai sumber. Kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya mengambil air dari sungai yang mengalir ke tengah kota. Sungai Ciliwung mengalir melalui sejumlah kawasan pertanian, industri, permukiman dan perkotaan sampai akhirnya di gunakan PDAM di Pejompongan. Di Surabaya, PDAM mengambil air dari Kali Surabaya yang berasal dari Kali Brantas setelah melewati kawasan pertanian, industri, dan permukiman.

Air sungai yang dimanfaatkan oleh PDAM Surabaya maupun oleh PAM DKI sepanjang perjalalannya menerima bahan-bahan lain, termasuk urine, tinja, oli bekas, bahkan bangkai binatang sebelum masuk ke intalasi pengolahan. Tentu saja di unit-unit pengolahan air itu dijernihkan (atau sebenarnya didaur ulang dari alam) baru kemudian dialirkan ke langganannya. Setelah menjalani pengolahan di PDAM air itu sudah mempunyai kualitas yang nyaris sama dengan mata air alami, meski tadinya pada air baku ada urine, tinja, atau bangkai binatang.

Kalau dipertanyakan kualitas air PDAM Surabaya dan PAM DKI berdasarkan kaidah agama, jadi agak sumir menjawabnya. Bagaimana unsur najis dari urine dan tinja yang sudah dijernihkan di instalasi PDAM. Air alam yang mungkin juga di muati kotoran manusia dan binatang, setelah diolah secara alamiah dalam tanah, apakah juga tercemar najis, berdasarkan kaidah agama.  Kalau kembali ke alinea pertama diatas, apakah air hasil daur ulang di rusunami, meski sudah setara air PDAM , masih dianggap najis. Saya tidak punya kompetensi menjawabnya.

4 thoughts on “Siklus air: memanfaatkan air daur ulang

  1. Ckckck, kapan majunya negara ini kalau semua masih tanya halal haram. Mungkin sebentar lagi ada yg bilang tinggal di rumah susun diharamkan juga karena blablabla….

    Bangsa2 lain sudah mau bangun stasiun antariksa di bulan, bangsa kita masih sibuk halal haram..please deh. Wake up man !!!

    Like

  2. Haha.., so pasti halal-haram perlu diperhatikan. Toh aturan ini pada intinya untuk kesehatan manusia dan lingkungan.

    Perkaranya sudah jelas tu pak.. tentu suci.

    Karena pada dasarnya semua air suci selama tidak ada tanda-tanda najis.

    So kalo air tidak lagi tercemari oleh bau, rasa ato warna dari bangkai, kencing dan bahan najis lainnya, berarti air itu suci dan tentunya (seperti air hujan yang juga berasal dari uapan darah bangkai)

    Tapi tentu saja perlu diuji kelayakannya untuk dikonsumsi, demi kesehatan manusia dan lingkungan… Bukankah begitu p’Silaban

    Like

  3. ssssssssEEEEEEtujuuuuu buanggget…………….
    memang halal n haram tidak sllalu dpakai to memutuskan sgala sesuatu tp mw tdk mw qt harus memakaix to bahan pertimbangan qt kdepan agar kelak hasilx memuaskan n bermanfaat

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s