Hari Habitat Dunia sepi, sulit target mencapai MDG

Kemarin 6 Oktober, ditetapkan sebagai hari Habitat. Hari Habitat dimaksudkan untuk menilik pencapaian dibidang kualitas hidup manusia khususnya pada sub-sektor lingkungan permukiman. Masih banyak pekerjaan besar untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup. Peringatan hari Habitat tahun ini sepertinya sepi-sepi saja. Ada surat imbauan dari Menteri Perumahan Rakyat, agar pemerintah daerah melakukan serangkaian kegiatan untuk memperingati hari Habitat. Tapi nampaknya nyaris tidak ada kegiatan yang dilakukan.

Hari Habitat ditetapkan secara internasional, mengingatkan bangsa-bangsa untuk melakukan tindakan nyata mengentaskan kemiskinan dengan memperbaiki kualitas lingkungan permukiman. Di negara-negara miskin termasuk Indonesia, masih banyak masyarakat yang tinggal di rumah-rumah yang tidak layak huni. Merek tinggal di bangunan sederhana yang sering tidak dilengkapi dengan fasilitas pendukung termasuk jendela, sistim sanitasi. Lingkungan buruk, tidak ada air bersih, saluran buntu, tidak ada jamban dan fasilitas mendukung kehidupan yang sehat.

Lingkungan permukiman buruk terdapat di desa dan di kota. Di kota-kota besar, keadaan semakin parah, karena kepadatan penduduk di lingkungan kumuh. Mereka tinggal di tempat yang semestinya tidak boleh ditinggali, tapi karena tidak ada pilihan, terpaksa tinggal secara ilegal. Kemiskinan memaksa masyarakat untuk hidup sengsara, bermukim secara ilegal. Karena tinggal secara ilegal, mereka sering menjadi korban penertiban aparat kota. Dipindah dari tempat yang sudah sempat ditinggali.

Sebagian para pemukim ilegal di kota, bertahan untuk tinggal di kota, karena di desa tidak memberi kemungkinan untuk berkembang. Atau juga karena silau dengan gemerlap kota, yang sesungguhnya tidak mudah didapat. Akibat dari semua itu, masih banyak kantong-kantong kumuh di kota yang sulit untuk diperbaiki.

Target Millenium Development Goals (MDG) telah ditetapkan oleh PBB (berarti termasuk oleh Indonesia), bahwa pada tahun 2015, setengah dari lingkungan permukiman (pada tahun 2003?) akan diperbaiki dan ditingkatkan. Waktu pencapaian tinggal 7 tahun dari sekarang. Melihat pencapaian Indonesia sampai sekarang, rasanya tidak mungkin mencapai target MDG itu secara nyata.  Kecuali, ada upaya “rekayasa” fakta kemiskinan dan lingkungan permukiman. Secara metodologis, ada metoda yang bisa digunakan untuk sekedar “menyajikan” fakta bahwa ada perbaikan secara signifikan. Namun,biasanya tidak dilengkapi dengan “base line” data dengan menggunakan metoda yang sama.  Jadi metoda peyajian base line data berbeda dengan metoda penyajian data realisasi. Kalau rekayasa metoda penyajian data seperti itu dilakukan, mungkin saja target MDG bisa dicapai.

Tapi metoda apapun yang dipakai untuk menyajikan pencapaian MDG, fakta dilapangan tidak berubah apa-apa. Daerah-daerah dengan lingkungan permukiman buruk terdapat secara luas di kota-kota. Secara area, daerah dengan lungkungan permukiman buruk masih terus bertambah. Secara kualitas, daerah dengan lingkungan permukiman buruk juga meningkat. Kepadatan permukiman kumuh dengan lingkungan  buruk bertambah. Kota-kota berkembang secara tidak karuan. Para perencana kota kesulitan melakukan upaya intervensi memperbaiki keadaan.

2 thoughts on “Hari Habitat Dunia sepi, sulit target mencapai MDG

  1. Target MDG yang tinggal 7 tahun lagi memang itu sih versi PBB. Tapi coba kita lihat apa yang ditulis Reuters dan The Strait Times tgl 7 Oktober kematin, alangkah mengerikan jika pemerintah tidak segera turun tangan dalam menangani kawasan Jakarta yang notabene menjadi ibukota negara RI tercinta ini. Indonesia yang disebut sebagai negara miskin pada kenyataannya pembangunan megaproyek dari mall dan apartemen begitu menggebu dan terus menerus terjadi di berbagai lokasi di Jakarta. Akibatnya airtanah terus ikut tersedot. Bukankah sudah cukup pelajaran dari yang terjadi bulan April silam saat Jakarta untuk kesekian kalinya tenggelam dan jantung perekonomian seakan terhenti dalam beberapa hari.Belum lagi kasus lumpur Lapindo yang kini seperti tak ada ujungnya.Jadi tak usah heran jika Hari Habitat yang mestinya diperingati bulan Oktober ini jadinya seolah tak punya gema apa-apa, soalnya yang di atas pada sibuk untuk kampanye pemilu. yang lainnya? Mau berbuat gak bisa, duitnya udah habis buat kampanye cing

    Like

  2. Apa ya inti berita Reuters dan Stait Times itu. Maaf saya tidak baca.
    Catatan:
    Atas pertanyaan ini mba/ibu Yulia Madjid, mengirimi email ke saya dan memberi link ke berita Strait Times. Intinya karena pembangunan bangunan di Jakarta kurang mempertimbangkan konsidi air tanah, diperkirakan Jakarta akan tenggelam.

    Artikel The Strait Times berjudul “Jakarta Sinking” di http://www.straitstimes.com/Breaking%2BNews/SE%2BAsia/Story/STIStory_286820.html

    Trimakasih Mbak Yulia

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s