Kalau salah jadwal di musim dingin.

Ketika buka Taolobutala, sebuah nama muncul di kolom komentar. Erwin Baja Simanjuntak, orang Batak yang kini tinggal di Canada, dalam komentarnya menulis sekilas tentang Canada. Aku jadi teringat pengalaman musim dingin di Winnipeg, Canada sekitar 17 tahun lalu. Pengalaman yang tidak bisa kami lupakan, kedinginan, membeku karena salah jadwal bis kota.

Bagi orang- orang di Winnipeg musim dingin bukanlah suatu halangan untuk mengurangi kegiatan luar rumah. Meski ada “blizzard“, yaitu salju yang turun sangat lebat, dingin dan angin kencang, toh tidak ada kegiatan masyarakat yang terganggu. Paling-paling dinas pekerjaan umum kota akan sibuk untuk membersihkan salju dari jalan-jalan. Sistim angkutan umum sudah sangat baik, seluruh pelosok kota dilalui oleh bis kota yang terjadwal secara teratur. Kita bisa tau persis kapan bis kota akan lewat di halte yang paling dekat dengan tempat tinggal kita. Setiap halte dilengkapi dengan rute dan jadwal bis akan lewat. Setiap halte bis kota dilengkapi dengan nomor telepon yang dapat kita telepon untuk mengetahui jadwal bis yang akan lewat di halte itu. Selain itu jadwal bis kota juga dapat diperoleh dengan gratis di berbagai out-let.

Karena itu meski cuaca sangat dingin, kita tidak perlu berlama-lama menunggu bis di halte, karena kita tau kapan bis akan lewat. Dari pengalamanku selama hampir 2 tahun menggunakan bis kota di Winnipeg, jadwal bis kota nyaris tidak pernah terlambat. Bagi orang Indonesia yang tidak terbiasa dengan jadwal bis kota kadang-kadang terjadi pengalaman lucu dan konyol. Aku mengalaminya sendiri dengan Maya, istriku dan Daniel, anakku yang kala itu berumur 11 bulan. Waktu itu tanggal 26 Desember 1992 yang bertepatan hari Sabtu. Di Canada tanggal 26 Desember adalah apa yang disebut boxing day”, pada hari itu pusat-pusat perbelanjaan memberikan discount yang besar. Menurut “flyer” bahkan ada mall yang memberi sampai 70% discount. Maya dan aku merencanakan untuk pergi ke “SEARS” melihat-lihat siapa tau ada barang yang cocok yang kami butuhkan
dengan discount yang menarik.

Untuk pergi ke “ SEARS ” kami harus naik bis Rute 62 yaitu bis dari Kings Park ke Down town. Aku tau juga bahwa jadwal bis Rute 62 adalah akan lewat setiap 15 menit pada week-day. Cuaca pada hari itu luar biasa dingin, temperatur minus 33 derajat Celsius dan “windchill factor” 2000, sehingga kalau ditotal, temperatur menjadi ekivalen minus 45 derajat Celsius. Akhir Desember memang saat cuaca paling dingin di Winnipeg. Sesungguhnya jarak dari apartemen “Univillage” ke halte bis Rute 62 di “Pembina Highway” hanya berjarak sekitar 250 meter, tapi sewaktu berangkat dari apartemen kami terlambat sedikit. Karena jalan yang licin dan angin kencang, kami tidak bisa berjalan cepat. Ketika kami hampir kira-kira 50 meter dari halte, bis Rute 62 lewat, aku sudah melambai-lambaikan tangan ke arah bis, tapi rupanya pak supir tidak melihat, sehingga kami tertinggal.

Karena semangat untuk melihat boxing day sudah tidak bisa diurungkan lagi, Maya dan aku memutuskan untuk menunggu bis berikutnya. Toh 15 menit lagi bis berikutnya akan datang, begitu pikirku. Menunggu di halte bis dengan temperatur minus 33 derajat Celsius, selama 10 menit saja rasannya sudah seperti 1 tahun. Kami sudah memakai pakaian empat lapis dan toh rasa dingin yang menyengat terasa menusuk sampai ke ubun-ubun. Tunggu punya tunggu sampai 15 menit, bis belum juga datang, aku sudah gusar, karena Maya sudah mulai menggigil. Kusarankan supaya dia bergerak-gerak, jalan ditempat supaya dinginnya tidak terlalu terasa. Tapi gerakan-gerakan itu tidak menolong. Untung Daniel tertidur digendonganku, tapi setiap saat kuraba gendonganku apaah ia masih nyaman apa tidak.

Akhirnya sampai 20 menit bis belum juga datang, aku mulai bingung mengapa bis tidak muncul-muncul. Aku baru tersadar bahwa hari itu adalah Sabtu sehingga bis lewat sekali 30 menit. Maya sudah cemberut karena kedinginan. Aku bertanya kepada Maya apakah masih tahan menunggu 10 menit lagi atau kembali saja kerumah dan membatalkan melihat boxing day. Tapi kembali kerumah juga memerlukan perjuangan, karena berjalan di cuaca dengan temperatur seperti itu merupakan siksaan yang amat sangat apalagi kami sudah kedinginan di halte menunggu bis selama 20 menit.

Halte itu tidak dilengkapi heater, meski bisa menahan hembusan angin, tapi tetap sangat dingin, maka kami putuskan untuk menunggu 10 menit lagi dari pada pulang ke rumah dengan siksaan kedinginan dijalan. Menunggu 10 menit lagi, di halte tanpa heater merupakan siksaan tersendiri, aku sudah semakin khawatir, karena kulihat Maya sudah seperti tidak kuat lagi, dia sudah malas ngomong karena kedinginan. Kakinya sudah mulai agak kebas, sepatu dan kaos kaki yang tebal seperti sudah tak terasa apa-apa. Aku jadi menyesali mengapa lupa bahwa hari itu adalah hari Sabtu.

Akhirnya penantian yang menyesakkan itu berakhir juga ketika bis Rute 62 datang, kami bertiga naik kedalam bis yang hangat karena memang dilengkapi heater. Berakhirlah sudah penantian 30 menit yang rasanya seperti 3 tahun itu. Rasanya seperti tertolong dari neraka kedinginan.

Itulah akibatnya kalau salah jadwal, tidak memperhatikan dengan benar jadwal bis kota.

2 thoughts on “Kalau salah jadwal di musim dingin.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s