Indonesia Andalkan Hibah untuk Perubahan Iklim

Kompas, Jumat, 17 Oktober 2008 | 01:21 WIB

Langkah mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di Indonesia, sumber dananya tetap didasarkan atas hibah dari negara lain. Krisis finansial global saat ini tidak mengubah pilihan itu. Pemerintah Indonesia pun tidak akan mengajukan pinjaman atau utang untuk dana penanggulangan perubahan iklim.

”Dana hibah tetap yang diupayakan,” kata Deputi III Menteri Negara Lingkungan Hidup Bidang Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan Masnellyarti Hilman di Jakarta, Kamis (16/10).

Delegasi Indonesia bersama Menneg LH tiba pada hari Kamis lalu dari pertemuan pendahuluan Konferensi Perubahan Iklim ke-14 di Warsawa, Polandia. Ratusan delegasi dari puluhan negara tidak spesifik membahas dampak krisis finansial, tetapi mengantisipasinya. Sebelumnya, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyatakan, utang merupakan alternatif terakhir pembiayaan perubahan iklim. Hibah merupakan pilihan utama.

Lebih dari Rp 6,2 triliun

Pada buku National Development Planning: Indonesia Responses to Climate Change yang disusun Bappenas disebutkan, kebutuhan anggaran mitigasi (pencegahan) dan adaptasi perubahan iklim di Indonesia, yang lebih dari Rp 6,2 triliun, sebagian besar dipenuhi dari hibah. Dana itu untuk lebih dari 30 proyek, yang terbagi dalam program mitigasi dan program adaptasi.

Prioritas mitigasi di bidang energi dan tambang, serta kehutanan. Sementara itu, prioritas adaptasi meliputi pertanian, kawasan pesisir, pulau kecil, serta kelautan dan perikanan. Sejauh ini, di Indonesia, perhatian internasional untuk mengurangi emisi penyebab pemanasan global masih fokus pada program kehutanan. Setidaknya, dua negara memberi hibah di sektor itu.

Seperti dikatakan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Departemen Kehutanan (Dephut) Wahjudi Wardojo, proyek di sektor kehutanan itu masih bersifat sukarela, masing-masing dari Australia dan Jerman. Semacam proyek percontohan.

Pasar karbon

Salah satu delegasi Indonesia, juga Sekretaris Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) Agus Purnomo, menyatakan, pendanaan masih dapat diperoleh di luar hibah. Di antaranya, melalui pasar karbon, seperti mekanisme pembangunan bersih (CDM) atau investasi proyek-proyek lain.

”Kondisi saat ini, itulah yang didorong karena negara-negara maju sibuk menyelamatkan perekonomian dalam negerinya,” kata dia. Hibah dalam jumlah besar sulit diharapkan dalam jangka pendek.

Lambat atau cepat, seperti diungkapkan Ketua Panel Ahli Antar-negara PBB untuk Perubahan Iklim (IPCC) Rajendra Pachauri, perhatian dunia akan berbalik pada penanggulangan perubahan iklim. Peralihan perhatian di tengah krisis merupakan reaksi alami. Kamis malam, kabar baik datang dari pertemuan tingkat tinggi Uni Eropa di Denmark, di mana 15 negara yang ada di dalamnya tetap berkomitmen menurunkan emisi gas rumah kacanya sebesar 8 persen pada tahun 2012. Komitmen itu sejalan dengan kesepakatan dalam Protokol Kyoto.

Menurut Masnellyarti, para delegasi pada pertemuan menteri lingkungan di Warsawa, Polandia, menyepakati rencana pembicaraan lebih detail dengan para menteri keuangan pada Konferensi Perubahan Iklim Ke-14 di Poznan, Polandia, awal Desember 2009 mendatang. Langkah itu penting untuk menentukan rencana pendanaan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di masa datang. (GSA)

Sumber: Kompas

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s